WAS WAS

1405 Words

Banyu duduk di sebuah kursi sambil terus menatap Sena yang sedang berada dalam gendongannya. Menatap putranya membuatnya sedikit tenang sambil menunggu kabar Jelita. Telunjuknya berulang kali bergerak menyentuh pipi dan hidung mungil putranya itu. Ranu benar, hidung dan bibirnya sepertiku. Seperti juga kakeknya. Sena, hadirnya kamu membuat ayah bahagia. Hari ini jadi hari yang paling bersejarah. Keturunan Adhiarja hadir di muka bumi ini. Sayangnya, ibumu belum bisa bersama kita. “Ayah sayang kamu,” gumamnya. Ia memerhatikan kalau Sena berulang kali membuka mulutnya. “Apa kamu mau s**u?” Banyu kebingungan. “Ranu, tolong suster,” ucapnya. “Baik pak,” Ranu bergerak keluar untuk memanggil suster. Tak lama suster pun masuk ke ruangan. “Anak saya terus membuka mulut. Apa waktunya m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD