Jelita menatap Sena terus menerus. “Aku tidak percaya. Bayi setampan ini keluar dari rahimku,” Jelita merasa bahagia. "Akhirnya Sena lahir juga..." Banyu tersenyum, “Apa yang kamu lakukan, sama seperti yang aku lakukan. “Rasanya tidak bosan bosan melihatnya.” “Sama,”Jelita menatap putranya tanpa henti dan menciumnya berulang kali. "Sena, kamu menggemaskan sekali. "Ibu sayang kamu. "Berbulan bulan ingin segera menemuimu, ternyata hari ini jadi hari kelahiranmu." Banyu hanya tersenyum memerhatikan mantan istrinya itu. Di hadapannya ada pemandangan menyenangkan hatinya. Ada Jelita dan juga Sena. Dua buah hatinya... Tiba tiba, Banyu teringat untuk menanyakan sesuatu. “Mmm… Aku akan mengurus surat surat Sena. Izinkan aku menambahkan nama keluarga di belakang namanya ya?” tanyanya

