Jelita memperhatikan kalau Banyu menghabiskan makanan yang ada di piringnya. “A.. Apa kamu suka?” Ia bertanya sambil terus menatap suaminya yang terlihat tampan sekali malam itu. Banyu tergelak. Suara tawa ringan yang sangat jarang muncul hingga membuat Jelita bahagia hanya dengan mendengarnya. “Lihat piringku licin begini,” jawabnya. “Kalau tidak suka, tidak mungkin aku habiskan. “Apapun yang kamu buat, aku suka…” Jelita mengatupkan bibirnya menahan rasa senang sambil membereskan bekas makan mereka dan mencucinya. “Apa perlu bantuan?” Banyu menghampirinya. “Tidak perlu. Hanya dua piring dan dua sendok garpu,” jawab Jelita lagi. Banyu mengecup puncak kepala istrinya dari samping, “Bik Retna pulang dua hari lagi. Dia akan bisa membantumu menjaga Sena.” “Oh…” Jelita mengangguk sen

