Diam-diam Maira menyelinap masuk kedalam kamar Yuna. Gadis kecil itu sudah terlelap, begitu juga dengan Belinda. Kasur mereka terpisah hanya saja mereka tidur di dalam kamar yang sama. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, Maira menghampiri Yuna. Dari jarak yang sangat dekat, Maira melihat wajah Yuna yang tengah terlelap. Helaan nafas teratur semakin membuat wajahnya terlihat begitu tenang. Bayangan saat ia memarahi Yuna siang tadi kembali muncul. Bagaimana mungkin ia begitu tega melukai hati Yuna, hanya karena merasa dibandingkan oleh anak kecil. Yuna tidak tau apa-apa tentang permasalahan orang dewasa, bahkan sampai saat ini pun Yuna belum tau bahwa Jonathan adalah ayah kandungnya. "Maaf, Nak." Maira mengusap lembut kepala Yuna, menyibak rambut yang menutupi wajahnya. "Maaf," Ulang

