BAB 24

1761 Words

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis jendela kamar Evana. Minggu seharusnya menjadi hari santai, hari yang ia gunakan untuk tidur lebih lama atau sekadar bersantai dengan buku bacaan di tangan. Namun, pagi itu berbeda. Suasana rumah begitu riuh dengan suara peralatan dapur yang beradu, disertai nada omelan yang sudah akrab di telinganya. “Evana! Sampai kapan kamu mau tidur terus? Perempuan itu jangan malas. Bangun, bantu Ibu menyiapkan sarapan!” suara Bu Ratna menggema dari ruang dapur, membuat Evana hanya bisa meringkuk di balik selimut. Ia tahu, bila keluar kamar sekarang, telinganya akan panas oleh omelan yang tak ada habisnya. Sungguh, ia tidak punya tenaga untuk menghadapi itu. Jadi, ia memilih untuk tetap bersembunyi di balik keheningan kamarnya. Namun, usahanya buyar ket

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD