Freya keluar dari area rumah sakit dengan langkah pelan. Angin siang menyapu rambutnya, tetapi pikirannya masih terasa penuh.
Tangannya menggenggam kantong obat dan kartu nama Gavin bersamaan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Nama William muncul di layar.
Freya langsung menegang.
“Astaga… kenapa dia masih menghubungiku?” gumamnya pelan. “Aku harus mengakhiri hubungan ini secepatnya.”
Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
“Halo, William.”
Suara pria itu terdengar panik dari seberang sana.
“Sayang, kamu di mana? Kenapa ponselmu nggak bisa dihubungi dari semalam? Chat juga nggak dibalas. Aku sekarang ada di depan kosmu.”
Freya menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan emosi yang mulai naik.
“Kamu masih berani mencariku?” suaranya berubah dingin. “Apa karena rencanamu gagal?”
William terdiam beberapa detik.
“Maksud kamu apa?”
Freya tertawa kecil, tapi terdengar pahit.
“Jangan pura-pura nggak tahu.” napasnya mulai bergetar. “Kamu mencampurkan sesuatu ke minumanku semalam, kan?”
“Aku nggak melakukan itu!” William langsung membela diri.
“Berhenti bohong!” bentak Freya, membuat beberapa orang di sekitar menoleh. “Aku bukan perempuan bodoh, William.”
“Freya, dengarkan aku dulu—”
“Sudah cukup mulai hari ini,” potong Freya cepat, “hubungan kita cukup sampai disini kita selesai.”
Suasana mendadak hening.
“Apa?” suara William meninggi. “Putus? Nggak, aku nggak mau!”
Freya menutup matanya sesaat, menahan rasa kecewa yang masih menusuk.
“Cari saja perempuan lain yang bisa memenuhi hasrat mu,” ucapnya dingin. “Karena aku tidak akan memberikan apa yang kamu mau. Kamu gak mau putus karena belum mendapatkan kesucian ku maka bermimpilah.”
“Freya, jangan kayak gini! Kita bisa ngomong baik-baik—”
Namun Freya langsung mematikan sambungan teleponnya.
Dadanya naik turun menahan emosi.
Di sisi lain, William menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
“Freya… halo? Freya!”
Tak ada jawaban.
Ekspresinya perlahan berubah gelap.
“Kurang ajar…” desisnya pelan. “Awas saja kamu, Freya. Aku nggak akan tinggal diam.”
Freya duduk diam di dalam taksi online yang membawanya menuju kos. Pandangannya kosong menatap jalanan kota, sementara pikirannya terasa semakin berat.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari rumah sakit tempat Theo dirawat.
Freya langsung membukanya dengan jantung berdebar.
Nona Freya Celeste Morgan, hasil pemeriksaan terbaru menunjukkan kondisi autoimun pasien mengalami penurunan. Disarankan untuk segera melakukan tindakan dan terapi lanjutan agar kondisi pasien tidak semakin memburuk.
Di bawah pesan itu tercantum perkiraan biaya pengobatan yang jumlahnya membuat napas Freya tertahan.
Tangannya perlahan mengepal.
“Biayanya… sebesar ini…” gumamnya lirih.
Matanya mulai memanas, tetapi ia buru-buru menahannya.
“Theo harus sembuh…” bisiknya pelan. “Apa pun caranya.”
Freya menunduk beberapa saat sebelum akhirnya membuka kartu nama Gavin yang sejak tadi ada di genggamannya.
Nomor pria itu terpampang jelas.
Dengan ragu, Freya membuka aplikasi pesan lalu mengetik alamat kosnya.
Ini alamat saya, Dok.
Pesan itu terkirim.
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
Baik. Saya akan mengirimkan gaun untuk nanti malam.
Freya menatap layar ponselnya diam-diam.
Pesan berikutnya kembali masuk.
Pakai gaun itu saat bertemu keluarga besar saya.
Freya langsung menelan ludah pelan.
“Keluarga besar…” gumamnya gugup.
Entah kenapa, membayangkan makan malam bersama keluarga Gavin terasa jauh lebih menegangkan dibanding menandatangani kontrak pernikahan itu sendiri.
Ia mengetik balasan singkat.
Baik, Dok.
Beberapa detik kemudian, Gavin kembali membalas.
Dan satu lagi.
Freya mengernyit.
Jangan panggil saya dokter di depan keluarga.
Freya terdiam sejenak sebelum mengetik lagi.
Lalu saya harus panggil apa?
Kali ini balasannya sedikit lebih lama.
Lalu muncul satu pesan singkat.
Panggil saya Gavin… atau sayang, honey baby dll.
Freya langsung membelalak.
“Apa?!” spontan wajahnya memerah.
Pengemudi taksi sampai melirik dari kaca depan karena mendengar suaranya.
Freya buru-buru menunduk malu sambil menggigit bibirnya sendiri.
“Astaga aku tidak biasa melakukan ini kecuali dengan Wiliam yang sudah jadi kekasih ku…” gumamnya pelan sambil memegangi pipinya yang mulai panas.
Taksi akhirnya berhenti di depan bangunan kos sederhana tempat Freya tinggal.
Freya turun perlahan sambil menahan rasa nyeri di tubuh bagian bawahnya.
Baru saja ia menutup pintu taksi, suara seseorang langsung memanggilnya.
“Fre!”
Freya menoleh.
Tanaya, teman kos sekaligus sahabatnya, berjalan cepat menghampiri.
“Tadi cowok lo datang nyariin lo,” katanya penasaran. “Tapi udah pergi lo kelamaan pulangnya.”
Freya langsung menghela napas pelan.
“Udah gue putusin, Tan,” jawabnya lelah. “Dia bukan cowok gue lagi.”
Tanaya langsung membelalak. “Hah? Serius?”
Freya mengangguk singkat sambil berjalan masuk ke area kos.
“Kenapa sih?” Tanaya mengejar di sampingnya. “Sayang banget tau. William itu anak orang kaya, keluarganya pemilik yayasan kampus kita.”
Freya tertawa hambar.
“Buat apa harta kalau kelakuannya busuk?” gumamnya dingin. “Lagian harta juga nggak dibawa mati.”
Tanaya langsung mendecakkan lidah.
“Gak punya harta juga rasanya mau mati, Fre. Jangan munafik deh,” balasnya spontan.
Freya hanya menggeleng kecil.
Namun langkahnya yang sedikit tertatih membuat Tanaya mengernyit curiga.
“Eh…” Tanaya memperhatikan jalannya. “Kaki lo kenapa? Kok jalannya aneh gitu?”
Freya langsung menegang sesaat.
“O-oh… kepleset di kamar mandi,” jawabnya cepat sambil menghindari tatapan sahabatnya.
Tanaya masih terlihat tidak yakin.
“Serius?” tanyanya menyipitkan mata. “Jangan bilang William kasar sama lo.”
Freya buru-buru menggeleng.
“Enggak,” jawabnya singkat. “Udah, jangan mikir aneh-aneh.”
Belum sempat Tanaya bertanya lagi, seorang pria berseragam ekspedisi datang menghampiri mereka sambil membawa beberapa paper bag mewah.
“Permisi,” ucap pria itu sopan. “Atas nama Nona Freya Celeste Morgan?”
Freya langsung menoleh bingung.
“Saya…”
Pria itu menyerahkan paper bag tersebut. “Ini paket untuk Anda.”
Freya menerimanya pelan. “Terima kasih…”
Kurir itu mengangguk hormat sebelum pergi.
Tanaya langsung melongo melihat logo butik mahal yang terpampang di paper bag itu.
“Gilak…” gumamnya pelan. “Freya… ini butik langganan orang kaya.”
Freya ikut bingung saat membuka sedikit isi paketnya.
Di dalamnya terdapat gaun malam elegan berwarna hitam, lengkap dengan sepatu dan aksesori mewah.
Sebuah kartu kecil terselip di atasnya.
Pakai ini malam nanti. Gavin
Tanaya langsung menatap Freya tidak percaya.
“Lo beli beginian?” tanyanya heboh. “Katanya hemat buat pengobatan Theo!”
Freya langsung menutup kotak itu cepat-cepat.
“Bukan gue yang beli…”
Tanaya masih menatap Freya dengan mulut sedikit terbuka.
“Terus dari siapa?” tanyanya penasaran. “Jangan-jangan dari William?”
Freya langsung menggeleng cepat sambil membawa paper bag itu masuk ke kamar.
“Udah, jangan kepo,” balasnya menghindar. “Gie kekamar dulu capek mau istirahat.”
“Freya!” teriak Tanaya dari luar kamar. “Lo jangan nyembunyiin sesuatu dari gue kita temenan dari orok!”
Namun Freya buru-buru menutup pintu kamarnya.
Dadanya berdebar sendiri saat melihat gaun hitam elegan yang tergantung di depannya.
“Calon suami kontrak…” gumamnya pelan sambil menatap pantulan dirinya di cermin. “Kenapa rasanya aku deng-degan seperti bertemu calon mertua sungguhan…”
Malam harinya.
Freya keluar dari kamar kos setelah selesai berdandan.
Gaun hitam yang dikirim Gavin membentuk tubuhnya dengan elegan, membuat Tanaya sampai terpaku beberapa detik.
“Ya ampun…” bisik Tanaya tidak percaya. “Fre… lo cantik banget.”
Freya tersenyum tipis, meski gugup jelas terlihat di wajahnya.
Suara klakson mobil terdengar dari depan kos.
Freya langsung menelan ludah pelan.
“Dia udah datang…”
Tanaya buru-buru mengintip dari jendela, lalu langsung membelalak.
“Freya…” suaranya mengecil. “Lo mau kemana? Jangan-jangan mobil mewah itu lagi yang jemput lo? ”
Freya buru-buru mengambil tasnya.
“Gue pergi dulu ya.”
“WOI TUNGGU!” Tanaya langsung menahan lengannya. “Lo punya pacar baru yang lebih tajir kenapa gak cerita?!”
Freya hanya tersenyum kecil.
“Nanti gue ceritain.”
Ia segera keluar sebelum pertanyaan lain muncul.
Di depan kos, sebuah mobil mewah hitam terparkir rapi.
Darren, asisten pribadi Gavin, membukakan pintu belakang dengan sopan.
“Silakan masuk, Nona Freya.”
Freya mengangguk gugup. “Terima kasih…”
Begitu masuk, Gavin sudah duduk di dalam dengan setelan jas hitam yang membuat auranya terlihat semakin dingin dan berkelas.
Tatapan Gavin berhenti beberapa detik pada Freya.
“Kamu cocok memakai gaun itu,” ujarnya tenang.
Freya langsung salah tingkah. “T-terima kasih…”
Mobil mulai berjalan.
Gavin menoleh padanya sebentar.
“Ingat,” katanya pelan. “Di depan keluarga saya, panggil saya dengan panggilan yang biasa dipakai pasangan.”
Freya langsung menegang. “Maksudnya?”
“Sayang, baby, honey… terserah seperti yang saya bilang tadi,” jawab Gavin santai. “Kita akan dianggap sudah berpacaran satu tahun.”
Freya hampir tersedak ludah sendiri.
“B-baik… Sayang.”
Sudut bibir Gavin langsung terangkat tipis.
“Good girl. Oh ya kamu kuliah di Universitas Starling?”
Entah kenapa, ucapan itu membuat pipi Freya memanas.
Untuk mengalihkan rasa gugupnya, Freya buru-buru bertanya,
“Anda tahu saya kuliah di Universitas Starling?”
Gavin mengangguk kecil.
“Saya pernah melihat daftar mahasiswa penerima beasiswa.”
Freya sedikit terkejut. “Oh… begitu.”
“Kamu mahasiswa yang cukup menonjol,” lanjut Gavin tenang.
Freya menunduk malu kecil.
Beberapa detik kemudian Gavin kembali bicara.
“Nanti kalau ibu saya bertanya, bilang saja kita bertemu saat saya mengisi seminar kedokteran di kampusmu.”
Freya mengangguk pelan. “Baik…”
Namun tiba-tiba pikirannya langsung terganggu sesuatu.
“Bukannya yayasan kampus itu milik keluarga William…” pikirnya dalam hati.
Freya perlahan menoleh ke arah Gavin.
“Jangan-jangan…”
Jantungnya mendadak tidak tenang.
“Semoga cuma kebetulan…” batinnya gugup.
Mobil akhirnya memasuki halaman sebuah mansion besar yang dipenuhi lampu mewah.
Freya langsung menegang melihat rumah itu.
“Kenapa bengong?” tanya Gavin sambil membuka sabuk pengamannya. “Ayo turun.”
“I-iya…”
Gavin turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan padanya.
Dengan gugup, Freya menerima tangan itu.
Mereka berjalan masuk bergandengan tangan.
Detak jantung Freya semakin tidak karuan.
Begitu pintu mansion terbuka langkah Freya langsung terhenti.
Matanya membelalak.
“William…?” batinnya panik.
Pria itu berdiri di ruang utama dan menatap Freya dengan wajah tak percaya.
Sementara William sendiri tampak membeku saat melihat Freya datang… bergandengan tangan dengan Gavin.