Freya terdiam cukup lama setelah mendengar tawaran itu. Pikirannya berputar cepat.
“Menikah tiga bulan… dapat lima miliar…” gumamnya dalam hati. “Dengan uang itu… aku bisa mengobati Theo… dia butuh biaya besar untuk penyakit autoimunnya…”
Ia menggenggam tangannya erat, lalu mengangkat kepala menatap Gavin dengan lebih serius.
“Jika saya menerima pernikahan kontrak ini,” ucapnya pelan namun tegas, “saya punya dua syarat!”
Gavin sedikit mengangkat alis.
“Syarat apa?”
Freya menarik napas.
“Selama tiga bulan… tidak ada hubungan suami istri.”
Gavin terdiam sejenak, menatapnya tajam.
“Dan?” tanyanya.
“Saya juga minta uang muka satu miliar di awal,” lanjut Freya tanpa ragu.
Gavin menyandarkan tubuhnya, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Ternyata kamu cukup perhitungan juga.”
Freya langsung menatapnya tajam.
“Saya bukan seperti yang Anda pikir,” balasnya. “Anda yang menawarkan uang itu. Saya hanya menetapkan batasan saya.”
Gavin tidak langsung menjawab. Dalam hatinya, ia menghela napas panjang.
“Tidak ada hubungan suami istri selama tiga bulan…” pikirnya. “Bahkan satu minggu saja sudah sulit bagi pria normal…”
Namun ekspresinya tetap tenang.
Freya melanjutkan,
“Saya juga ingin hubungan ini murni kontrak. Di depan keluarga Anda, kita berperan sebagai pasangan. Tapi di belakang… kita menjalani kehidupan masing-masing.”
Gavin menatapnya cukup lama, mempertimbangkan setiap kata yang diucapkan gadis itu.
“Kamu benar-benar membuat aturan yang jelas,” katanya akhirnya.
Freya mengangguk.
“Karena saya tidak ingin ada hal lain di luar kesepakatan.”
Gavin menatap Freya dengan sorot mata tajam, seolah menguji ketegasannya.
“Tapi… bagaimana kalau kamu yang memulai duluan?” tanyanya pelan.
Freya langsung menggeleng tanpa ragu.
“Itu tidak mungkin.”
Gavin menyandarkan tubuhnya, lalu tersenyum tipis, seolah menemukan celah.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” balasnya tenang. “Semalam saja… kita bisa sampai melakukan hubungan satu malam karena kamu yang memulai, Nona Morgan. Apa kamu lupa?”
Freya langsung terdiam. Wajahnya menegang, napasnya sedikit tertahan.
“Itu…” ia menggenggam tangannya, berusaha mencari kata-kata. “Itu bukan aku yang sadar sepenuhnya.”
Tatapannya berubah lebih tegas.
“Kondisinya berbeda.”
Gavin tidak langsung membantah, hanya menatapnya dalam.
“Tetap saja… itu terjadi,” ujarnya pelan.
Freya mengangkat dagunya sedikit, tidak mau kalah.
“Dan justru karena itu, saya membuat syarat ini,” katanya tegas. “Agar hal seperti itu tidak terjadi lagi.”
Gavin memperhatikannya beberapa detik, lalu mengangguk tipis.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Kalau begitu… kita anggap itu bagian dari kesepakatan.”
Freya menghela napas pelan, sedikit lega.
“Jadi Anda setuju?”
Gavin menatapnya lurus.
“Saya setuju… dengan satu catatan.”
Freya mengernyit.
“Apa lagi?”
“Jika kamu yang melanggar lebih dulu,” ujar Gavin tenang, “maka kesepakatan itu tidak berlaku lagi.”
Freya langsung menatapnya tajam.
“Itu tidak akan terjadi.”
Gavin hanya tersenyum tipis.
“Kita lihat saja nanti, Nona Morgan.”
Freya menarik napas pelan, lalu menatap Gavin dengan lebih tenang.
“Kalau begitu… kapan kita bertemu lagi untuk menandatangani perjanjian kontraknya? Dan… soal uang mukanya?” tanyanya langsung.
Gavin menutup berkas di depannya, lalu menatap Freya dengan sikap kembali profesional.
“Nanti malam,” jawabnya singkat. “Saya akan menjemputmu untuk makan malam bersama keluarga saya.”
Freya sedikit terkejut.
“Dengan keluarga… Anda?”
Gavin mengangguk.
“Kamu perlu dikenalkan lebih dulu. Sekalian kita bahas dan tanda tangani perjanjiannya.”
Freya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Baik…”
Gavin meraih sebuah kartu nama dari laci mejanya, lalu menyodorkannya.
“Ini kartu nama saya,” ujarnya. “Kirimkan lokasi tempat tinggalmu. Saya akan menjemput langsung.”
Freya menerima kartu itu, menatapnya sekilas.
“Dan untuk nanti malam,” lanjut Gavin, “saya akan mengirimkan gaun untukmu. Pastikan kamu siap.”
Freya mengangguk lagi, meski masih ada sedikit rasa canggung.
“Iya… saya mengerti.”
Gavin bangkit dari kursinya.
“Sampai nanti malam, Nona Morgan.”
Freya ikut berdiri, menggenggam kartu nama itu sedikit lebih erat.
“Sampai nanti… Dokter.”
Gavin menuliskan resep terakhir, lalu menyobek kertasnya dan menyerahkannya pada Freya.
“Ini resepnya,” ucapnya tenang. “Kamu bisa menebusnya di apotek rumah sakit.”
Freya menerima kertas itu, lalu mengangguk singkat.
“Iya… terima kasih, Dok.”
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
“Saya permisi.”
Gavin hanya mengangguk kecil.
“Silakan.”
Begitu keluar dari ruangan, Freya menarik napas panjang. Tangannya menggenggam resep itu lebih erat, pikirannya kembali berputar.
“Dengan ini…” gumamnya dalam hati, “aku bisa membalas apa yang dilakukan William… dan juga mengobati Theo…”
Ia berjalan menuju apotek rumah sakit, menyerahkan resep pada petugas.
“Mohon tunggu sebentar Nona,” kata petugas.
Freya mengangguk, lalu menunggu dengan gelisah.
Tak lama kemudian, namanya dipanggil.
“Freya Celeste Morgan.”
Freya mendekat.
“Ini obatnya, Nona.”
Freya mengangguk, lalu mengeluarkan dompetnya.
“Berapa yang harus saya bayar?”
Petugas itu tersenyum tipis.
“Tidak perlu, Nona. Semua sudah ditanggung.”
Freya langsung tertegun.
“Ditanggung? Maksudnya bagaimana?”
Petugas itu melihat ke layar sebentar, lalu menjawab,
“Biaya obat dan pemeriksaan Anda sudah di-cover oleh direktur rumah sakit.”
Freya semakin bingung.
“Direktur…?” ulangnya pelan.
Ia langsung teringat satu nama.
Gavin.
“Bagaimana mungkin jangan-jangan…” gumamnya pelan, campuran antara heran dan tidak menyangka.
Freya masih berdiri di depan meja apotek, wajahnya dipenuhi kebingungan.
“Maaf…” katanya pelan pada petugas. “Direktur yang Anda maksud… Dokter Gavin Alister Smith, Sp.OG?”
Petugas itu langsung mengangguk.
“Betul, Nona. Beliau memang direktur utama di sini,” jawabnya ramah. “Sekaligus dokter spesialis kandungan yang sedang praktik hari ini.”
Freya terdiam beberapa detik, mencerna informasi itu.
“Jadi… beliau putra pemilik rumah sakit juga?” tanyanya memastikan.
“Iya betul sekali,” jawab petugas. “Rumah sakit milik keluarga beliau.”
Freya menatap kantong obat di tangannya, pikirannya semakin kacau.
“Jadi semalam aku melakukan hubungan satu malam dengan Dokter… direktur… sekaligus pewaris Alister Smith,pantes aja ngeluarin uang lima miliar kaya beli gorengan…” gumamnya dalam hati.