bc

My Sexy Enemy

book_age18+
16
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
contract marriage
family
HE
love after marriage
fated
forced
second chance
friends to lovers
arranged marriage
independent
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
disappearance
rejected
secrets
poor to rich
polygamy
substitute
like
intro-logo
Blurb

Adric Roeland seorang komposer serta produser musik ternama, membenci Irish Atmadja— seorang pelayan bar sexy dengan dandanan sederhana yang dianggapnya sebagai kesalahan terbesar dalam Adric.

Namun sebuah kecelakaan yang dilakukan Irish merugikan Adric, membuat Adric cedera dan tidak bisa menggunakan tangan dan kakinya, hal itu memaksa mereka terikat, bekerja bersama di tengah luka, ego, dan rahasia. Saat kebencian perlahan berubah menjadi ketergantungan, Adric sadar bahwa Irish bukan bayangan masa lalu, melainkan cinta yang nyata. Masalahnya, mencintai Irish berarti melepaskan kendali, reputasi, dan masa lalu yang selama ini ia banggakan. Akankah Adric melepas masa lalunya demi Irish?

"Kamu harus tanggung jawab!" -Adric Roeland.

"Aku akan tanggung jawab, tapi kamu juga harus membayarku 100 juta." -Irish Atmadja.

chap-preview
Free preview
The Broken Adric
Adric Roeland menatap pantulan dirinya di cermin berbingkai marmer di ruang rias hotel—seorang pria muda dengan auranya sendiri, aura yang membuat banyak orang tertegun bahkan sebelum ia mengeluarkan satu nada pun dari piano grand hitam kesayangannya. Ia merapikan jas biru-tua yang disesuaikan khusus untuk malam ini, malam yang seharusnya menjadi salah satu malam paling penting dalam hidupnya: pertunangan dengan kekasihnya, Yuri May. Perempuan yang selama dua tahun terakhir mengisi hidupnya dengan suara lembut, senyum manis, dan ambisi yang membuatnya jatuh cinta sejak hari pertama audisi. Kenapa audisi? Karena Yuri May merupakan penyanyi yang terkenal dari jebolan ajang pencarian musik di televisi dan ia bergabung dengan label musik milik Adric. Dari penyanyi yang berada dibawah naungan label musik Adric, kini Yuri akan menjadi tunangan pemilik label musik ternama serta anak musisi ternama di Indonesia. Dunia Yuri tak lagi sama, namanya makin naik karena menjalin hubungan dengan Adric Roeland—pria yang bahkan dari lahir sudah terkenal dengan label anak penyanyi kaya di Indonesia. Namun, sebelum Adric melangkah menuju ruangan pesta, ia malah terpaku cukup lama menatap cermin, memperhatikan sosok dirinya sendiri dengan pandangan yang sulit dijelaskan—antara gugup, bangga, dan entah kenapa, ada setitik resah yang tidak berani ia pikirkan terlalu dalam. Adric Roeland, produser musik, komposer, pianis, sekaligus CEO termuda dari label musik bernama Roeland Harmonics, tampak sangat memukau dalam balutan setelan formal yang dibuat khusus oleh desainer langganannya. Namun daya tarik Adric bukan hanya datang dari pakaiannya; wajahnya sendiri adalah anugerah yang kerap disebut ‘too perfect for a scandal’ oleh media. Rambutnya hitam pekat dengan kilau kecokelatan, jatuh sedikit acak dengan gaya natural yang justru membuatnya terlihat semakin effortless. Iris matanya cokelat hangat, tajam namun lembut saat berbicara. Kulitnya putih bersih, kontras dengan garis rahang tegas yang membuatnya terlihat sedikit dewasa meskipun usianya baru 27 tahun. Hidungnya mancung, dan senyuman yang jarang ia keluarkan selalu dihiasi sepasang lesung pipi dalam yang muncul bahkan ketika ia hanya sedang mengucapkan sepatah kata, memberikan pesona manis yang berbahaya untuk pria sekarismatik dia. “Tolong jangan terlalu tampan malam ini, nanti aku minder.” suara Renzo dibuat-buat seperti wanita, salah satu sahabat lamanya, terdengar dari belakang sambil tertawa, membuat Adric keluar dari lamunannya. Renzo—lebih akrab dipanggil Ren—datang menghampiri sambil menepuk punggung Adric pelan. Ren adalah sahabatnya sejak SMA, seorang fotografer musik yang sudah menemani Adric sejak awal ia merintis karier. Wajah Ren jauh lebih maskulin dan fierce, berbeda dengan persona Adric yang lebih clean dan lembut, namun pesona mereka sama kuatnya. Sahabat Adric yang satu lagi, Ezra, berdiri di sisi lain ruangan sambil merapikan kancing lengan jasnya. Ezra adalah sound engineer andalan yang juga tumbuh dari lingkungan musik yang sama dengan Adric sejak kecil. Ketiganya seperti trio yang tidak terpisahkan—komposer, fotografer, dan sound engineer—persahabatan bertahun-tahun yang menguatkan satu sama lain. “Lo siap, Ric?” tanya Ezra dengan nada serius namun bersahabat. “Ini hari besar, bro.” Adric mengangguk, meski ia merasakan detak jantungnya berdetak sedikit lebih keras dari biasanya. “Harusnya siap,” katanya sambil menarik napas panjang. “Ini pertunangan, bukan konser solo. Gue harusnya nggak segugup ini.” Ren tertawa kecil. “Ya wajar lah. Lo mau tunangan, bukan mau mixing lagu. Tapi jujur ya… kalau gue yang jadi Yuri, gue pasti udah ngibrit lari duluan.” “Ren!” Ezra menegur, mengangkat alis. Ren buru-buru meralat, “Eh, maksud gue bukan lari kabur! Maksud gue gugup saking bahagianya! Ya Tuhan, jangan salah paham!” Adric menghela napas sambil tersenyum kecil, meski ucapan Ren sesaat membuat dadanya terasa aneh. Seperti firasat buruk yang menghantam namun tidak jelas dari mana datangnya. Ia mengambil jam tangan peraknya di meja, memakainya perlahan sambil menatap pantulan dirinya sekali lagi. “Ayo,” katanya akhirnya. “Jangan sampai keluarga besar Yuri menunggu lama.” Mereka bertiga berjalan keluar ruangan menuju area ballroom hotel mewah tempat acara pertunangan berlangsung. Hotel itu adalah salah satu hotel paling megah di Jakarta, dengan kristal lampu raksasa yang bergantung di langit-langit dan karpet merah yang seolah mengantar para tamu menuju panggung besar kehidupan Adric dan Yuri. Di depan pintu ballroom, keluarganya sudah menunggu. Ayahnya, Damian Roeland—seorang pengusaha dan penyanyi senior yang berwibawa. Ibunya, Nadia Roeland—wanita anggun yang terkenal sebagai penyanyi wanita top di Indonesia pada tahun90-an. Adik perempuan Adric, Mila, gadis berusia dua puluh lima tahun yang sangat dekat dengannya, berdiri di sisi ibu mereka sambil tersenyum melihat kakaknya yang tampak begitu dewasa hari ini. “Ih, kok lo ganteng banget sih, kak?” komentar Mila sambil memeluk lengan Adric. Adric sontak tertawa, “makasih loh.” jawab Adric, meski ia masih merasakan sensasi aneh di dadanya karena grogi mau bertemu dengan Yuri dan keluarganya di pertunangan ini. Ayahnya menepuk bahu Adric bangga. “Semua sudah siap. Keluarga Yuri sudah di dalam. Kita masuk begitu pihak Yuri bilang siap.” Namun sebelum Adric sempat menarik napas lega, sebelum pintu besar itu benar-benar dibuka oleh para staf hotel, suara gaduh terdengar dari dalam ballroom dan bahkan ada suara jeritan kecil, disusul suara seseorang menangis, dan percakapan panik yang tak tertata terdengar jelas dari balik pintu. Ren dan Ezra spontan saling menatap. Adric menegakkan tubuhnya, sementara kedua alisnya mengerut. “Ada apa?” tanya ibu Adric dengan suara tegang. Tak lama kemudian, salah satu staf hotel membuka pintu sedikit, dan terdengar dengan jelas suara tangis perempuan yang tersedak-sedak—suara ibu Yuri, yang dikenal sebagai wanita elegan namun sensitif. Ketika pintu terbuka lebih lebar oleh panitia, pemandangan yang langsung terlihat membuat seluruh keluarga Adric membeku. Ibu Yuri duduk di kursi dengan tubuh gemetar, wajahnya dipenuhi air mata. Ayah Yuri berdiri di sampingnya, menepuk-nepuk bahunya sambil berusaha tenang, meski wajahnya sendiri tampak tegang tak kalah parah. Beberapa kerabat keluarga Yuri berdiri dalam lingkaran, saling berbisik panik. Make up artist dan stylist Yuri terlihat kebingungan di sudut ruangan. Semua seperti kacau balau. Adric melangkah masuk, diikuti keluarganya dan kedua sahabatnya. Suara musik ruangan berhenti total. Suara cemas menggantung di udara begitu berat. “Ada apa ya?” tanya ayah Adric kepada keluarga calon besannya, mencoba tetap sopan meski suaranya mengerut karena kekhawatiran. Ayah Yuri menoleh perlahan, matanya sayu, nyaris tidak bisa berkata-kata. “Adric… sebaiknya kamu dengar langsung dari adiknya Yuri.” Dan seolah dipanggil, seorang gadis remaja berlari ke arah Adric—adik Yuri, Nina May. Wajahnya penuh air mata, pipinya merah, dan napasnya terengah seperti habis berlari dari bencana besar. “Kak… ka-kak Adric…” suaranya pecah di tengah tangisannya. Jantung Adric langsung merosot. “Nina? Kenapa? Mana Yuri?” tanyanya cepat, suaranya meninggi karena panik. Nina menggeleng keras sambil menangis makin kencang. Ia menggenggam lengan Adric erat-erat, tubuhnya gemetar hebat. “Kak Adric… kak Yuri nggak ada!” “Apa maksudmu ‘nggak ada’?” suara Adric terdengar tegang, hampir tidak bisa ia kontrol. Nina menutup wajahnya sebentar, lalu mengeluarkan kata-kata yang membuat seluruh ruangan seperti berhenti bernapas. “Kak Yuri kabur!” Hening. Hening yang lebih sunyi daripada studio rekaman di tengah malam. Hening yang membuat kepala Adric seakan kosong seketika. “Kabur…?” suara Adric pecah, terdengar seperti seseorang menarik paksa oksigen dari paru-parunya. “Kak Yuri kabur! Dia nggak ada di kamar! Handphonenya juga hilang! Semua perhiasan yang harusnya dia pakai… nggak ada!” Nina menangis lebih keras, kata-katanya berantakan. Tubuh Adric langsung melemas. Pandangannya kabur. Dunia seolah miring. Ibunya, Nadia, yang berdiri di sampingnya, langsung limbung dan jatuh pingsan. Untung ayah Adric sempat menangkap tubuh istrinya dengan cepat, sebelum Nadia benar-benar jatuh ke lantai. “Mama!” jerit Mila, langsung membantu. Ren dan Ezra segera menahan tubuh Adric yang tampak kehilangan keseimbangan. “Ric! Hey! Tenang, Tarik napas!” seru Ezra, namun Adric tak bisa menjawab. Ia merasa seluruh harga dirinya jatuh dan dihantam palu sebesar dunia. Di tengah kekacauan itu, sekretaris Adric—sekertaris pribadinya yang bernama Fiona berlari masuk sambil membawa sebuah amplop berwarna krem. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar. “Pak Adric… maaf… saya menemukan ini di kamar Nona Yuri…” Fiona menyodorkan amplop itu. Adric menatap benda kecil itu selama beberapa detik, sebelum tangan gemetar itu akhirnya meraihnya. Rasanya amplop itu lebih berat dari piano grand yang biasa ia mainkan. Ia membuka lipatan amplop dengan jari yang tidak stabil. Di dalamnya ada secarik kertas. Tulisan tangan yang ia kenal dengan sangat baik. Tulisan Yuri. Adric menarik napas panjang, lalu mulai membaca. Maaf… aku ternyata tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. Tolong jangan cari aku. —Yuri Huruf-huruf itu seperti paku dingin yang menusuk langsung ke jantung Adric. Dunia yang ia bangun selama dua tahun dengan Yuri—cinta mereka, rencana masa depan, debut Yuri di bawah labelnya, pertunangan mewah yang sudah dipersiapkan—semuanya runtuh dalam sekejap. Surat itu jatuh dari tangannya. Ren langsung memegang bahu Adric lebih erat karena tubuh Adric hampir terjatuh. Ezra menahan sisi lainnya. “Ric! Adric! Hey! Fokus!” panggil Ren panik. Namun Adric tidak mendengar apa pun. Ia membeku. Tenggorokannya kering, lidahnya tak bisa bergerak. Senyum lesung pipi yang selalu menjadi pesonanya kini tidak ada, tergantikan wajah kosong yang dihantam kenyataan paling memalukan dalam hidupnya. Tunangan kabur. Di hari pertunangan. Di depan dua keluarga besar. Di acara mewah yang dihadiri puluhan tamu penting dunia musik. Harga dirinya hancur. Reputasinya berantakan. Dan hatinya? Hatinya remuk begitu parah sampai ia tak yakin masih bisa merasakannya berdetak. Dunia Adric Roeland runtuh tanpa memberi peringatan sedikit pun. Dan semua orang di ruangan itu tahu, malam yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaan seumur hidup… berubah menjadi luka paling memalukan dalam sejarah hidupnya. --- Follow me on IG: segalakenangann (Untuk melihat update-update lucu soal cast & cerita ini).

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.5K
bc

Too Late for Regret

read
347.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
148.0K
bc

The Lost Pack

read
460.0K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook