The Wrong Night For Irish

1560 Words
Di lain tempat yang tak jauh dari ballroom pertunangan Adric, di malam Jakarta berkilau seperti selalu, Irish Atmadja berdiri di depan sebuah gedung dengan papan nama menyala pink keunguan yang bernama “Noxx Bar & Lounge,” lengkap dengan cahaya LED yang berkedip-kedip seperti mengundang semua orang untuk masuk dan tenggelam di dalam hiruk pikuknya. Iris mengerutkan kening. Ia menatap temannya—Mei—dengan ekspresi yang jelas penuh kebingungan, meski lampu-lampu terang itu membuat wajahnya terlihat sedikit pucat. “Mei… ini serius? Bar? Kamu bilang aku kerja sebagai pelayan restoran… bukan bar.” Mei, yang sejak tadi tampak tidak tenang, memaksa senyum yang jelas-jelas dibuat-buat. “Iya, iya… bar. Tapi konsepnya mirip restoran kok. Cuma ramai aja. Gajinya gede, Rish. Kamu sendiri yang bilang butuh uang cepat.” Irish menarik napas dalam, matanya memanas ketika mengingat alasan kenapa ia rela menerima pekerjaan dari temannya tanpa banyak bertanya. Ayahnya, Pak Admadja, tertipu investasi palsu beberapa bulan lalu. Semua tabungan yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki rumah mereka lenyap begitu saja. Dan semenjak itu, ayahnya dililit hutang yang makin menumpuk. Irish, yang baru lulus kuliah dan sudah melamar kerja ke puluhan tempat tanpa hasil, kini terpaksa memikirkan satu hal yang terus menghantuinya setiap malam—bagaimana mereka membayar semuanya sebelum debt collector datang. “Mau gimana lagi, Rish…” kata Mei lagi, suaranya lebih lembut kali ini. “Kita sama-sama butuh uang. Aku juga butuh kerja. Dan aku cuma dapat info ini dari kenalan. Kalau kamu cocok, kamu bisa langsung kerja malam ini. Gajinya langsung cair.” Irish menatap gedung itu lagi. Musik berdentum-dentum dari dalam, getaran bassnya terasa hingga ke trotoar. Pintu kacanya dipasang film gelap sehingga sulit melihat apa yang terjadi di dalam. Seorang pria bertubuh besar dengan jaket hitam berdiri di pintu, tampak seperti tembok kokoh yang menghalangi siapa pun masuk jika tidak diizinkan. Irish menelan ludah. “Baiklah,” katanya akhirnya, meski hatinya menolak. “Kalau ini satu-satunya cara untuk mendapatkan uang dengan cepat.” Mereka melangkah masuk. Begitu pintu terbuka, dunia di dalam langsung menelan Irish dalam gelombang suara musik yang memekakkan telinga, aroma alkohol, parfum mahal, dan asap tipis yang melayang seperti kabut neon. Lampu-lampu sorot menari-nari, DJ di panggung sedang memutar remix lagu terkenal dengan beat cepat yang membuat tubuh para pengunjung bergoyang liar. Tempat itu penuh—terlalu penuh dan Irish tidak tahu apakah ia bisa bertahan satu jam saja di sini. Mereka melewati kerumunan hingga akhirnya Mei membawanya ke sebuah pintu kecil yang dijaga seorang wanita paruh baya dengan rambut pendek berwarna merah terang. Wanita itu mengenakan blazer hitam ketat, rok selutut, dan sepatu hak tinggi, tampak berwibawa sekaligus mengintimidasi. Iris bisa merasakan hawa d******i bahkan sebelum wanita itu membuka mulut. “Mi, mi.. mami, ini Irish,” kata Mei pelan sambil menarik Iris ke depan. Mami itu mengamati Iris dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan perlahan, sangat perlahan—seakan ia menilai bukan manusia, tetapi barang dagangan. Tatapannya menusuk, membuat Irish tanpa sadar merapatkan kedua lengannya ke depan tubuhnya. Rambut panjang Irish jatuh sampai pinggangnya, bergelombang lembut seolah mengikuti setiap gerakannya. Kulitnya putih bersih, bukan karena perawatan mahal, melainkan karena ia memang terlahir dengan kulit secerah itu. Kaki Irish jenjang dan proporsional dengan tubuhnya yang ramping namun berisi di tempat yang tepat—bahu hingga pinggangnya melengkung lembut, membuat tubuhnya tampak dewasa dengan cara yang memikat. Irish tidak pernah menganggap dirinya “seksi,” tapi orang lain selalu punya pendapat berbeda, dan malam ini, pendapat itu justru menjadi jebakan. Mami tersenyum kecil, senyum yang tidak membuat Iris lega sama sekali. “Bagus,” katanya. “Sangat bagus. Kamu bawa yang tepat, Mei.” Mei tersenyum canggung. “Aku bilang kan, Mi, dia cocok.” “Cocok sekali,” jawab Mami sambil kembali menatap Iris dengan puas. “Kamu langsung kerja malam ini. Ganti baju dulu.” Irish mengerutkan kening. “Ganti baju? Tapi aku sudah pakai kemeja dan rok panjang, bukannya—” Namun Mami sudah memutar badan menuju ruang ganti. “Ikut saja.” Irish menatap Mei, mencari jawaban dari matanya, tapi temannya hanya berkata, “Udah, Ris. Percayalah. Cuma semalam. Gajinya gede banget.” Dengan napas yang setengah tertahan, Irish mengikuti mereka masuk ke ruang ganti di belakang bar. ruangan itu kecil, berbau parfum tajam dan hairspray. Di dalam, beberapa wanita lain juga sedang bersiap—memakai makeup tebal, mengecat bibir merah mencolok, mengenakan rok pendek dan atasan yang begitu ketat hingga lekuk tubuh mereka terlihat jelas bahkan dari jauh. Salah satu staf memberikan Irish sebuah set pakaian. Irish membukanya dan langsung membeku. Rok mini hitam—lebih pendek dari apa pun yang pernah ia pakai. Kemeja putih super ketat dan transparan, dengan dua kancing atas sengaja dibuat terbuka. Apron kecil yang nyaris tidak menutupi apa pun. "A-aku nggak bisa pakai ini…” Irish berbisik, suaranya bergetar ketakutan. Mei mendekat sambil menggenggam bahunya. “Rish, ayahmu butuh uang itu malam ini, kan? Kita sudah janji mau bantu. Tolong… cuma malam ini.” Irish menutup mata sejenak. Ia bisa melihat ayahnya di kepala—duduk di ruang tamu gelap, memegangi kepala, menghela napas panjang tanpa suara. Ia juga bisa melihat bayangan debt collector yang datang minggu lalu, mengetuk pintu keras-keras dan membuat ayahnya nyaris pingsan. Ia tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, Irish mengganti bajunya. Rok mini itu sangat pendek sehingga ketika ia duduk, paha atasnya langsung tampak sepenuhnya. Kemeja ketat itu menempel erat pada tubuhnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya lebih daripada yang ia inginkan. Ia merasa telanjang, seolah semua mata akan langsung memandanginya nanti. Iris menelan ludah getir, menatap dirinya di cermin, merasa ia adalah orang asing. Ketika ia keluar dari ruang ganti, Mami tersenyum lebar. “Cantik sekali. Pengunjung akan suka.” Entah mengapa Irish merasa mual dan ingin muntah. Ia jijik dengan penampilannya sendiri, jijik dengan lingkungan ini, Tapi apa daya yang bisa ia lakukan selain mengangguk. Bar malam itu sedang penuh karena seorang DJ terkenal sedang tampil, membuat tempat itu lebih ramai daripada biasanya. Irish diberi tray berisi botol-botol alkohol mewah dan diminta mengantarkannya ke meja VIP pertama. Musik berdentum kuat, lampu warna-warni berganti cepat, tubuh-tubuh orang bergoyang tanpa irama yang jelas, dan Iris merasa seperti masuk ke dunia yang bukan miliknya. Satu kelompok pria langsung bersuit ketika ia lewat. “Eh, cantik! Sudah jam berapa? Kok baru nongol? Kami bisa pesan kamu juga nggak?” Iris menunduk. “Maaf, saya harus kerja,” katanya singkat sebelum mempercepat langkah. Tapi suara-suara godaan itu mengikuti langkahnya, seperti bayangan gelap yang selalu ada di belakang. Setelah selesai di meja pertama, ia kembali ke bar untuk mengambil pesanan berikutnya. Seorang penjaga bar—pria besar dengan tato di lengan—menerima pesanan dari lelaki yang duduk di meja VIP paling ujung. Lelaki itu tidak hanya dikelilingi wanita-wanita berpakaian seksi, tetapi juga memegang uang tunai tebal. Ia sejenis pengunjung yang dianggap “istimewa,” tampaknya. Pria bertato itu melihat Irish. “Kamu. Antarkan minuman ini ke meja 12.” Iris memegang tray itu dengan hati-hati. “Baik.” Meja 12 berada di sudut gelap ruangan VIP, dekat tirai beludru hitam. Pria itu sedang duduk santai, dua wanita duduk di sampingnya, kepalanya bersandar di bahu mereka seperti raja menikmati pesta. Ketika Iris mendekat, ia menatapnya dari kepala hingga kaki tanpa menyembunyikan tatapannya. “Minuman Anda, Pak…” Iris berusaha menjaga suara tetap stabil. Pria itu menerima gelasnya, tapi matanya tidak lepas dari tubuh Iris. “Cantik sekali… baru ya? Aku belum pernah lihat kamu.” Iris menunduk. “Saya baru mulai malam ini.” Saat ia hendak memutar badan untuk pergi, tiba-tiba tangan pria itu mencengkeram pinggangnya. Iris terkejut, tubuhnya menegang seketika. “Eh, mau kemana sih, cantik?” suara pria itu berat, mabuk, dan tidak sopan. “Kalau om tambahin tip…” ia menarik tubuh Iris lebih dekat, “mau nggak kamu temani om minum? Duduk saja di sini.” Sebelum Iris sempat menghindar, pria itu menariknya ke pangkuannya—membuat tubuhnya jatuh terduduk di paha pria itu. Iris panik, napasnya mendadak sesak, tangannya bergetar hebat. “Om… tolong… saya harus—” Iris mencoba bangkit, tapi pria itu memeluk pinggangnya lebih erat. “Ah, jangan gitu dong. Nanti om sedih, tahu?” Air mata langsung menggenang di mata Iris. Ia bisa melihat Mami dan security bar berdiri tidak jauh, memperhatikan setiap gerakannya. Dan Iris tahu, jika ia mencoba kabur, jika ia membuat masalah—pekerjaannya hilang. Dan tanpa pekerjaan ini, ia tidak punya uang. Dan tanpa uang… ia tidak bisa membantu ayahnya… Ia menggigit bibir bawahnya keras, menahan tangis yang hampir pecah. Akhirnya Irish pasrah dan mencoba duduk rileks diatas pangkuan pria itu walaupun bulu kuduknya meremang. “Bagus begitu,” kata pria itu sambil menyandarkan dagunya ke bahu Iris. “Lembut sekali… cocok jadi teman minum om.” Irish memejamkan mata. Dalam hiruk pikuk musik, lampu neon, dan tawa palsu orang-orang di sekitarnya, dunia Irish Atmadja ikut runtuh malam itu—tanpa ada siapa pun yang melihat, tanpa ada siapa pun yang peduli. Di luar sana, di malam yang sama ada seorang produser musik kondang yang hatinya hancur karena ditinggal tunangannya. Dan di tempat ini, hanya beberapa kilometer dari sana, seorang wanita muda yang tidak mengenal Adric Roeland sama sekali, sedang menghadapi kehancurannya sendiri—dengan cara yang membuatnya memahami betapa kejamnya dunia ketika seseorang tidak punya pilihan. Dan mereka belum tahu bahwa malam penuh luka ini… adalah awal dari kisah mereka. --- Follow me on IG: segalakenangann
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD