Sebuah Malam Petaka

1113 Words
Irish berdiri di belakang bar dengan napas yang belum sepenuhnya kembali normal. Gelas-gelas kristal berkilau di bawah lampu ungu kebiruan, musik tetap berdentum seolah tidak peduli pada detak jantung siapa pun yang terlalu cepat atau terlalu lambat malam itu. Tangannya bergerak otomatis untuk mengambil botol, menuang minuman, menyerahkan pesanan—sementara pikirannya tertinggal entah di mana. “Rish.” Suara itu membuatnya menegang. Ia menoleh. Mami berdiri beberapa langkah darinya, ekspresi wajahnya dingin namun tajam, seperti biasa. Wanita itu mengangguk singkat ke arah tangga di ujung ruangan, yang mengarah ke lantai dua. “Ruang VVIP,” kata Mami pendek. “Ada tamu minta ditemani.” Irish langsung menggeleng. “Mi, aku Cuma pelayan. Aku nggak—” “Dia pesan minuman mahal.” Suara Mami memotong, datar namun penuh tekanan. “Dan dia minta kamu untuk menemaninya.” Irish menggenggam ujung apron kecilnya. Jari-jarinya terasa dingin. “Aku bisa antar minumannya saja kan, Mi?” Mami mendekat, suaranya direndahkan. “Dia mau lebih dari itu. Tapi tenang. Cuma minum. Duduk. Kamu nggak perlu ngapa-ngapain.” Irish menelan ludah. “Aku nggak nyaman.” Tatapan Mami mengeras. “Dia bayar kamu mahal, Irish. Satu meja itu bisa nutup setengah gaji kamu seminggu.” Kata mahal menggantung di udara seperti jerat. Wajah ayahnya muncul di benaknya. Obat yang hampir habis. Tagihan listrik yang tertunda. Seragam sekolah adiknya yang mulai sempit. Irish mengangguk pelan, meski dadanya terasa sesak. “Antarkan minumannya,” kata Mami. “Dan bersikap manis.” Irish kemudian membawa minuman beralkohol yang mahal tersebut. Langkahnya melewati meja vvip di lantai satu—meja Aldric dan teman-temannya. Tanpa Irish sadari, Aldric meliriknya ketika Irish lewat. Tatapan mata Aldric bahkan tidak bisa lepas dari Irish ketika Irish yang memakai pakaian serba minim kurang bahan itu menaiki anak tangga ke ruang vvip di lantai dua. Nampan terasa lebih berat dari seharusnya ketika Irish melangkah menaiki tangga ke lantai dua. Suasana di sana berbeda—lebih sunyi, lebih gelap, dan berbau asap rokok yang pekat. Tirai beludru hitam menutupi sebagian ruangan, membuat cahaya lampu hanya jatuh setengah-setengah. Ia berhenti di depan pintu VVIP. Menarik napas. Lalu mengetuk dan masuk. Bau asap langsung menyeruak. Ada tiga pria muda di dalam ruangan, tertawa keras, dengan dua wanita bayaran yang duduk dekat, bahkan terlalu dekat—di sisi mereka. Botol-botol mahal berserakan di meja kaca. Musik terdengar lebih pelan, tapi justru membuat suasana terasa lebih intim dan menekan. Salah satu pria mendongak saat Irish masuk. Ia tampan. Rambutnya rapi namun sengaja dibuat berantakan. Senyumnya lebar, terlalu percaya diri, seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau. Entah anak pejabat atau anak orang kaya—yang pastinya berpengaruh berada di bar mewah ini. “Nah,” katanya sambil bersandar malas. “Ini yang gue minta.” Irish menunduk sopan. “Minuman Anda, Pak.” Belum sempat ia meletakkan botol terakhir, pria itu sudah berdiri dan menggenggam tangannya. “Duduk sini,” katanya ringan, seolah itu permintaan biasa. “Gue udah lihat lo dari awal datang. Ternyata memang cantik… dan sexy.” Irish refleks menarik tangannya, tapi genggaman itu justru mengencang. Tangannya ditarik, dan sebelum ia bisa berpikir, pinggangnya disentuh untuk mengarahkannya duduk di sofa di sebelah pria itu. “Pak—” suara Irish tertahan. “Saya Cuma—” “Tenang aja,” pria itu tertawa kecil. “Cuma minum. Kayak kata Mami lo.” Irish duduk kaku di ujung sofa, menjaga jarak sebisa mungkin. Ia tidak menyentuh gelas di depannya. Pria itu menuang minuman untuk dirinya sendiri, meneguknya dalam-dalam. Setiap kali ia bergerak, Irish bisa merasakan ruang pribadinya menyempit. “Kenapa nggak minum?” tanya pria itu. “Kamu mau minum? Minum aja, gratis buat kamu.” “Saya kerja,” jawab Irish pelan. “Saya menemani saja.” Pria itu mengangkat bahu. “Yaudah.” Namun tangan pria itu tidak bisa diam. Awalnya hanya bertumpu di sandaran sofa, terlalu dekat dengan paha Irish. Lalu bergeser, sedikit demi sedikit, seolah menguji batas. Irish menahan napas, berusaha tidak bereaksi, berharap semuanya cepat selesai. Tangan pria itu kemudian berada diatas paha Irish yang terbuka, mengusap-usapnya sembari mengobrol dengan temannya. Kemudian tangannya beralih ke pinggang ramping Irish, lalu naik lagi kesamping dadaa Irish. Rasanya Irish ingin kabur saat ini juga, tapi tidak bisa. “Lo kaku banget,” kata pria itu sambil tertawa. “Santai aja.” Irish menatap lurus ke depan. “Pak, mohon jaga sikap.” Tawa pria itu merendah. “Gue bayar mahal buat ditemani. Jangan sok suci.” Gelas di tangan pria itu kembali kosong. Matanya mulai redup oleh alkohol. Tubuhnya condong lebih dekat. Irish berdiri. “Saya permisi. Minumannya sudah diantar.” Ia baru melangkah satu langkah ketika pergelangan tangannya ditahan. “Duduk!” Nada suara itu berubah. Tidak lagi santai. Irish menarik tangannya. “Saya harus kerja.” Pria itu berdiri lebih cepat dari yang ia duga. Tubuh mereka berhadapan. Jarak terlalu dekat. Irish mundur, jantungnya berdebar kencang. Ia berbalik dan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat kearah tangga tangga. Terlalu cepat. “WOI!” Suara itu menyusulnya. Irish belum sempat mencapai lantai bawah ketika lengannya ditarik dari belakang. Tubuhnya terhenti di tengah tangga. “Ngapain lo kabur, hah?!” suara pria itu keras, gema di tangga sempit. “Gue udah bayar lo mahal-mahal buat nemenin gue minum!” Irish berbalik, berusaha melepaskan diri. Tangannya gemetar, tapi suaranya tetap berusaha stabil. “Saya hanya dibayar untuk menemani Anda minum. Bukan untuk hal lain.” Dorongan di dadanya membuatnya tersentak mundur. PLAK! Lalu rasa panas menyambar pipinya. Irish terdiam. Dunia seolah berhenti sesaat. Tangannya refleks naik menyentuh wajahnya. Napasnya tersangkut. Matanya melebar, tidak percaya. Dirinya ditampar oleh pria yang bahkan tidak ia kenal, pria yang membayarnya dan bisa semena-mena padanya. Tubuhnya mulai gemetar. Pria itu menggenggam pergelangan tangannya dengan kasar, menahannya di tempat. Tatapannya gelap. “Jangan kurang ajar sama gue.” Irish menelan isak yang hampir pecah. Lututnya terasa lemah, tapi ia memaksa berdiri. Tangga di belakangnya terasa dingin dan curam. “Lepaskan saya,” katanya lirih. Pria itu tidak mendengarkan. Tubuhnya mendekat, memojokkan Irish di antara dinding dan pegangan tangga. Nafasnya bercampur alkohol menusuk. “Gue mau lo,” bisiknya sambil berusaha mencium bibir Irish. “Gue mau lo malam ini, buat tidur sama gue.” Irish memejamkan mata. “Pergi! Pergi dari sini!” Namun pria itu bahkan tidak bergeser, badannya terlalu besar dan terlalu kuat menghadapi pukulan Irish. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri, mencoba bertahan di detik yang terasa terlalu panjang. Di bawah, musik masih berdentum. Tawa masih terdengar. Dunia tetap berjalan. Sementara di tangga sempit itu, Irish hanya bisa berharap— seseorang akan melihat. Atau ia akan cukup kuat untuk melepaskan diri. --- Follow me on IG: segalakenangann
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD