Asila yang mendengar penuturan petugas keamanan itu membelalakan matanya. Bagaimana bisa Aleska mengatakan jika dia tak kenal dengan Asila. Mereka bersahabat cukup lama.
"Itu tak mungkin, dia sahabat ku. Jadi, biarkan aku masuk."
Asila memaksa ingin menerobos masuk ke dalam tapi petugas keamanan itu langsung menyeret Asila untuk dibawa pergi.
Keira dan Aleska yang melihat itu tertawa terbahak. Mereka sengaja membayar para petugas itu untuk melakukannya. Lagi pula, toko mana di mall yang harus menunjukkan kartu identitas hanya untuk masuk ke dalam toko.
"Dia bodoh sekali, astaga... Aleska, kenapa kau dulu mau berteman dengan nya?" ejek Keira.
Aleska langsung memberengut, dia ingin sekali menjitak kepala Keira. Tapi dia sadar saat ini sedang berada dimana.
"Kau menyebalkan sekali Keira, lagi pula siapa yang tahu jika dia sifatnya akan seperti itu."
Keira langsung memeluk pundak Aleska yang tengah kesal. Rasanya memang dari awal Asila ingin memanfaatkan Aleska. Dan terbukti pertemanan mereka tak tulus.
"Sudahlah, lupakan. Kita kesini ambil cincin yang kau pesan untuk acaramu sebentar lagi. Jangan merusak mood hanya karena manusia seperti dia. Tak pantas sekali dia sampai mendapat perhatian darimu."
Aleska mengangguk, dia lalu melihat perhiasan yang memang sengaja dia pesan. Saat dia ingin membayar semuanya, karyawan itu langsung menolak Card miliknya.
"Kenapa?" tanya Aleska bingung.
"Semua sudah di bayar oleh Tuan Gaharu, jadi silahkan langsung dibawa saja Nona Aleska." jawab karyawan itu ramah.
Aleska melongo, pasalnya saat dia memesan perhiasan itu, tak ada yang tahu kecuali Keira.
Sedangkan Keira sudah tersenyum lebar mendengar itu.
"Nah, jauh bangat kalau di banding dengan Luke sialan itu. Kau hanya tinggal bilang pada Om Gaharu, dan kau akan mendapatkan semuanya dengan mudah."
Aleska terlihat bingung, dia lalu melihat lagi perhiasan yang ada di tangannya.
"Tapi ini tak murah?"
Keira berdecak kesal, dia mencubit pipi Aleska gemas.
"Kau pikir Om Gaharu miskin sampai membayar perhiasan mu yang segitu tak mampu?"
"Sudahlah, lebih baik kita segera pergi dari sini sebelum bertemu wanita berengsek itu."
Keira segera menarik tangan Aleska untuk dibawanya pulang sebelum Asila kembali mengganggu mereka.
Tapi naasnya, ternyata Asila sengaja menunggu di depan pintu keluar.
"Aleska, sebentar."
Aleska langsung berhenti seperti yang diminta oleh Keira.
"Kenapa berhenti?"
Keira menunjuk Asila dengan dagunya. Aleska mengikuti arah yahh di tunjuk oleh Keira. Seketika matanya membola dan Aleska kembali kesal.
"Ih, dia kenapa masih disini? Aku kira udah pergi jauh. Terus bagaimana dong?"
Keira terlihat berpikir, lalu senyum lebar muncul di wajah cantiknya.
Keira membisikan idenya pada Aleska untuk mengerjai Asila.
"Kau yakin?" tanya Aleska ragu.
Keira langsung mengangguk yakin, dan Aleska juga mengijinkan Keira melakukannya.
Keira celingukan mencari seseorang untuk di minta melakukan rencananya.
Mata Keira berbinar ketika melihat seseorang yang pas untuk dimintai tolong. Keira lalu mendekati orang itu dan mengajaknya bicara sebentar. Tak lupa Keira memberikan sejumlah uang pada nya.
Setelahnya Keira berbalik pergi menghampiri Aleska lagi.
"Ayo ngumpet dulu, kita lihat dari sini.*
Aleska hanya menurut, tapi matanya terus terpaku pada Asila yang masih berada di depan pintu.
Aleska langsung menutup mulutnya menahan tawa ketika melihat orang suruhan Keira langsung menumpahkan banyak minuman kepada Asila.
Terlihat Asila sedang mengamuk dan memaki orang itu. Tapi orang itu langsung pergi begitu saja setelah sedikit membungkukkan badannya untuk meminta maaf.
Asila bergegas masuk ke dalam pusta perbelanjaan itu untuk mencari toilet.
"Hahah, rasakan itu."
Keira tertawa puas melihat keadaan Asila, lalu detik berikutnya mata Keira membola ketika Aleska membisikan sesuatu padanya.
"Kau yakin?" tanya Keira memastikan.
"Yakin sekali, sekalian saja di kerjain mumpung bisa."
Aleska terkikik geli membayangkan apa yang akan dilalui oleh Asila. Tapi itu sebanding dengan apa yang dia lakukan kepadanya.
"Wah, akhirnya ... kau pintar juga." celetuk Keira.
"Lalu kau pikir aku ini bodoh?"
"Hahah..... jangan marah. Ayo kita pulang, urusan itu serahkan pada pengawalmu."
Aleska mengangguk, dia lalu mengikuti Keira pulang. Sedangkan pengawal Aleska melakukan apa yang Aleska minta.
Aleska ingin Asila di kunci di dalam kamar mandi semalaman tapi tetap dengan pengawasan dari pengawal Aleska.
#
Di dalam kamar mandi, Asila membersihkan dirinya. Dia mencoba menghubungi Luke. Tapi lagi lagi, laki laki itu menolak panggilannya.
Tak lama, pesan singkat masuk ke dalam ponsel Asila.
( "Jangan menggangguku dulu Asila, pekerjaan ku belum selesai. Jika hari ini tak selesai juga, gaji ku akan di potong. Kau jangan terlalu cerewet, bisa kan kau bersikap biasa saja seperti Aleska yang tak menuntut ku macam macam?" )
Asila meremas ponselnya setelah membaca pesan singkat itu.
Dia ingin sekali berteriak dan memaki Luke, tapi dia harus menahannya karena yang terpenting dia harus mendapatkan baju ganti terlebih dahulu.
"Argh, sialan.... Kenapa malah jadi begini?"
"Mana ini lengket semua, aku harus telfon siapa?"
Asila masih menggerutu karena kesal.
"Ah, iya, telfon Aleska saja. Dia pasti masih disini dan belum pulang. Sekalian aku akan minta belikan baju yang mahal darinya."
Asila mencari nomer Aleska dan menghubunginya tapi setelah berkali kali tak kunjung mendapat respon dari Aleska.
"Sial, kenapa nomernya malah tak aktif? Dan kenapa sejak kemarin Aleska terlihat menghindariku?"
Tiba tiba saja Asila curiga jika Aleska tahu sesuatu.
"Tak mungkin Aleska tahu sesuatu?"
Asila berusaha mengenyahkan semua pikiran itu. Dan disaat dia ingin keluar, pintunya tak bisa dibuka.
"Eh, siapa yang kunci pintunya?"
Asila menggedor pintu itu dengan keras tapi tak kunjung ada yang membukanya.
"Buka.... Tolong.... siapapun di luar, buka pintunya!!"
Asila terus berteriak tapi pengawal Aleska sudah mengatur sedemikian rupa agar tak ada satu orang pun yang masuk ke dalam toilet itu.
"Sial, siapa yang ngerjain aku begini? Awas aja kalau ketemu, aku balas semuanya."
Asila berusaha menghubungi Aleska kembali tapi lagi lagi nomernya tak bisa di hubungi.
"Argh, Aleska.... sialan kau. Awas saja kau kalau ketemu aku!"
#
Aleska tiba di rumahnya, sementara Keira langsung pulang karena ibunya sudah mencarinya.
Ketika dia sampai dia kamarnya, telfonnya berbunyi dan itu dari Gaharu. Ketika Aleska mengangkat nya, mata Aleska membola.
"Yak.... Om Aru ..... Kenapa tak pakai baju begitu? Om mau apa?"
to be continued