Bab 7

1511 Words
Gaharu yang mendengar teriakan Aleska menepuk keningnya. Dia lupa jika dia belum mengenakan pakaiannya setelah mandi. ( "Maaf sayang, aku baru selesai mandi. Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." ) Pipi Aleska menjadi panas karena panggilan Gaharu kepadanya. Dia belum terbiasa dengan itu, rasanya masih aneh. Terlebih selama ini Aleska tahu jika Gaharu sangat kaku. Tapi entah kenapa sejak acara lamaran kemarin, Gaharu menjadi lebih lembut kepadanya. "Sepertinya Om Aru tak segalak yang terlihat?" gumam Aleska tanpa sadar. ( "Kenapa bisa kau berpikir jika aku galak?") "Eh ...." Aleska sedikit berjingkat karena tiba tiba Gaharu langsung menyahut perkataannya. "Om tak sadar, selama ini wajahnya seperti apa?" Aleska langsung menutup mulutnya yang baru saja keceplosan bicara. "Ma-maaf om, bukan itu yang aku maksud." cicit Aleska takut. Gaharu yang ada di seberang telfon langsung tertawa. Dia terhibur sekali melihat Aleska saat ini. ( "Sayang, kenapa minta maaf? Kau benar, banyak orang mengatakan aku galak. Jadi, apakah seorang aku terlihat galak?" ) Aleska melihat dengan seksama bagaimana wajah Gaharu saat ini. Tapi sialnya, dia malah mengingat apa yang terjadi ketika mereka bertemu tempo hari. Blush .... Alis Gaharu mengerut melihat wajah Aleska yang berubah menjadi merah saat ini. Lalu dia tersenyum ketika tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Aleska. ("Kenapa wajahmu merah? Kau sedang memikirkan apa hemm?") Aleska mengerjap, buru buru dia menutup wajahnya lagi. Aleska lalu cemberut ke arah Gaharu. Gaharu yang melihat itu tentu saja langsung panik. ("Sayang, kenapa? Kau marah padaku?" ) Aleska menggelengkan kepalanya lalu melengos ke arah lain. Melihat wajah panik Gaharu membuat Aleska tersenyum tipis. Dia tak tahu jika hanya karena dia cemberut, Gaharu bisa sepanik itu. "Om, aku mau istirahat dulu. Aku harus memeriksa toko kue. Om juga harus istirahat." Tanpa menunggu jawaban dari Gaharu, Aleska langsung memutuskan sambungan telfonnya. Dia melempar ponselnya dan menetralkan detak jantungnya. Rasanya tak aman jika bersama Gaharu terus terusan. "Duh, belum nikah aja Om Aru udah nakutin. Ini bagaimana kalau udah nikah?" Aleska mondar mandir di kamarnya, dia mengacak rambutnya karena mulai panik. "Duh, bahaya. Ini baru sekarang terpesona sama cowok. Dulu ketika masih sama Luke, aku tak pernah begini." Rasanya dia yang aneh pada Aleska. Setiap bersama Gaharu dia sering tiba tiba salah tingkah dan juga malu. Belum lagi jika Gaharu tiba tiba menggodanya. Plak.... Aleska menepuk pipinya dengan pelan, dia mengambil napas panjang dan mengeluarkan nya perlahan. "Huft, ayolah Aleska, mereka tak sama. Masih jauh Om Aru kemana mana. Di banding dengan cowok sialan satu itu. Tak boleh disamakan. Luke tak ada apa apa ny di banding Om Aru. Uh, jauh kemana mana. Dan tadi, duh ... otot perut Om Aru....." Tanpa sadar, Aleska membayangkan jika dia sudah bisa menyentuh perut Gaharu yang berotot. "Duh, aku jadi m***m begini. Tak boleh Aleska, ingat tujuan mu menikah dengan Om Aru. Dia akan membantu ku membalas perbuatan Luke juga Asila. Tak boleh terpesona lebih jauh dengan Om Aru." Setelah menenangkan dirinya, Aleska segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia akan pergi ke toko kue miliknya untuk memeriksa laporan hari ini. Juga memeriksa beberapa bahan baku yang habis nantinya. # Sementara disisi lain, Gaharu menghela napas panjang. Dia ternyata tak bisa pulang cepat besok karena masih ada meting penting dengan satu perusahaan besar. Mereka memaksa Gaharu sendiri yang harus datang bukan di wakilkan. "Padahal aku ingin sekali segera pulang, tapi mereka menyusahkan sekali." Gaharu meletakkan ponsel nya lalu kembali memeriksa pekerjaan nya yang tersisa memastikan jika tak ada yang salah setelahnya. Tok tok.... Pintu kamar hotel Gaharu di ketuk, dan masuklah Gerald kesana. "Ada apa?" tanya Gaharu penasaran. "Tuan Muda, aku baru saja mendapat info dari anak buah kita kalau besok di meting itu mereka menyiapkan putri mereka untuk Tuan Muda." lapor Gerald. Gaharu mendengus kesal, pasalnya jika mereka memaksa ingin menyerahkan putri mereka juga Gaharu tak akan pernah berminat sama sekali. "Lalu apalagi yang mereka rencanakan? Menjebakku dengan obat perangsang atau apa?" Gerald menggaruk hidungnya yang tiba tiba gatal karena seperti biasa, Gaharu sudah bisa menebaknya sejak awal. "Seperti biasanya Tuan, jadi apa yang akan Tuan lakukan?" Gaharu memberitahu Gerald tentang apa yang harus mereka lakukan. Gerald pun paham terlebih sekarang Gaharu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi dia tak akan melakukan hal yang membuatnya kehilangan semuanya. "Lakukan apa yang sudah aku katakan tadi, sebelum mereka bergerak menjebakku, buat seluruh usahanya hilang tanpa mereka sadari. Jika mereka masih nekat kau bisa lakukan apapun kepada keluarga yang lain." Gerald mengangguk mengerti, lalu dia pamit undur diri dan membiarkan Gaharu untuk segera istirahat. "Sepertinya, aku harus memberitahu Aleska tentang ini. Aku sudah prepare semuanya, tapi apa salahnya berjaga jaga. Aku takut kecolongan dan besoknya akan ada berita yang menghebohkan." gumam Gaharu. Gaharu mengirim pesan singkat pada Aleska agar kalau ada apa apa padanya, Aleska tak akan salah paham. Setelah itu, Gaharu memilih untuk beristirahat agar besok dia bisa segera menyelesaikan pekerjaannya. "Aku sudah rindu dengan nya. Biasanya pekerjaan seminggu aku tak pernah menyingkat waktunya. Tapi ini, seminggu aku jadikan hanya beberapa hari saja. " # Aleska yang sedang dalam perjalanan ke toko kuenya melihat ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Gaharu tapi dia mengabaikannya. "Om Aru kirim pesan apa ya? Bukannya tadi dia bilang mau istirahat?" Meskipun penasaran Aleska tak langsung membuka ponsel nya. Dia memilih untuk fokus pada jalanan yang ada. Tak berapa lama, Aleska tiba di depan tokonya yang terlibat sedang ramai. Dia lalu bergegas membuka pesan dari Gaharu takut itu adalah pesan yang penting. Alis Aleska mengerut membaca pesan itu. Lalu dia menghela napas panjang karena kesal tiba tiba. "Belum apa apa saja sudah banyak godaannya, bagaimana nanti kalau sudah menikah? Tapi memang benar sih, Om Aru semantab itu jadi laki laki. Kenapa aku buta banget ya dulu malah pilih si ikan buntal satu itu." Aleska menggerutu sendiri saat di dalam mobil, tapi tak lama karena tiba tiba dia berjingkat kaget. Kaca jendelanya di ketuk dari luar dan terlihat tak sabaran. Semakin kesal lah Aleska ketika melihat ada Luke diluar mobilnya. Terlihat juga jika Luke berusaha mengintip ke dalam. Beruntung kaca mobil Aleska tak akan kelihatan dari luar. Tok Tok..... "Sayang, Aleska..... Kau di dalam kan? Aku tadi baru lihat kau datang, sayang....." Aleska berdecak kesal, pasalnya sehari ini dia harus bertemu dua manusia tak tahu diri itu. Tapi terpaksa Aleska harus keluar dari dalam mobil jika tak ingin Luke curiga padanya. Saat dia keluar dari dalam mobil, Luke ingin memeluknya. Tapi reflek Aleska menghindar. Bruk.... Tubuh Luke menabrak mobil Aleska. Luke meringis kesakitan karena keningnya terbentur pintu mobil Aleska. Luke sudah menggeram marah tapi dia menahannya demi mendapatkan sesuatu. "Sayang, kenapa menghindar? Ini sakit loh...." adu Luke pelan. Luke memasang wajah kesakitan nya tapi Aleska tak peduli dengan nya. Dia melihat ponselnya yang kembali ada pesan masuk dari Gaharu. Melihat Aleska tak peduli dengan nya, Luke semakin kesal. Dia menarik tangan Aleska sampai ponselnya terjatuh. Prak.. Mata Aleska membola ketika melihat layar ponselnya retak. "Luke, kau apa apaan sih? Ponsel ku rusak gara gara kau." bentak Aleska. Mata Luke melotot ketika Aleska berani membentak nya di depan umum. "Kau berani membentak ku? Dan itu hanya ponsel, kenapa kau marah padaku? Lagi pula, aku sejak tadi sudah bersabar dengan mu tapi kau acuh padaku. Kau sibuk dengan ponselmu. Atau jangan jangan kau selingkuh?" Aleska menatap tajam ke arah Luke, dia tak terima jika dia di tuduh selingkuh. Aleska memejamkan matanya sekilas. Lalu dia kembali menatap Luke tajam. "Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Apa kau sudah pikun hah? Aku punya bisnis, meskipun itu hanya toko kue dan roti. Tapi ponsel ku tak melulu untuk urusan laki laki. Aku sedang memesan beberapa bahan baku yang habis." Luke langsung diam, dia melihat kemarahan yang ada pada wajah Aleska. "Sayang, maaf, aku tak tahu soal itu.". "Lalu apa yang kau tahu? Uang? Atau kau ingin mengambil beberapa roti disini untuk menjenguk teman dan kerabat mu? Katakan, untuk apa kau tiba tiba datang kemari dan malah menggangguku?" Luke menatap tak percaya pada Aleska yang tiba tiba berani seperti itu. "Kenapa kau bicara seperti itu? Apa selama ini kau tak ikhlas memberikan semua roti itu padaku?" Aleska memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Dia malas berdebat dengan Luke saat ini. "Sudahlah, aku sedang malas bertengkar dengan mu. Dan lagi, ini masih jam kerja, kenapa kau ada disini? Kau tak takut di pecat atasanmu karena keluyuran?" Aleska menyipitkan matanya curiga pada Luke. Tapi Luke langsung meraih tangan Aleska dan menggenggamnya erat. "Sayang, aku kesini untuk menemui mu. Lagi pula, bos ku tak akan memarahiku karena aku karyawan kesayangannya." jawab Luke penuh percaya diri. "Dih, dia percaya diri sekali. Rasanya aku ingin muntah saat ini." batin Aleska. Aleska lalu menarik tangannya dari genggaman Luke dan itu membuat Luke curiga karena sejak tadi Aleska seperti menghindarinya. Belum sempat Luke protes, salah satu karyawan Aleska menghampiri mereka. "Nona Aleska, kita jadi pergi belanja sekarang?" Aleska mengangguk lalu meminta karyawannya untuk masuk ke dalam mobilnya. Tapi suara Luke menghentikan karyawan Aleska. "Sayang, kau biarkan pegawai mu naik mobilmu? Kau tak jijik satu mobil dengannya?" tanya Luke dengan ekspresi jijiknya. Mata Aleska melotot ketika mendengar itu, sementara karyawan Aleska berubah wajahnya menjadi sendu. "Luke jaga batasanmu!!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD