Bab 8

710 Words
Aleska menatap tajam pada Luke karena Luke menghina karyawannya. Dia tak menyangka jika Luke akan mengatakan hal serendah itu di depannya. "Sayang, kau membentak ku?" pekik Luke kaget. "Ya, karena kau pantas untuk di bentak. Kau menghina karyawanku yang jelas jelas dia tak bersalah. Dan satu lagi, tak perlu kau ajari aku siapa yang bisa ikut naik ke mobilku. Itu punya ku, cuma aku yang berhak menentukan siapa yang bisa naik kesana. Mereka semua sudah terbiasa belanja sama aku. Jadi jangan pernah kau hina karyawan ku lagi." Luke melotot, dia tak menyangka jika Aleska berani membentak nya. Selama ini, Aleska tak pernah berani dengan nya. Setiap kali mereka berselisih pendapat, pasti Aleska lah yang mulai duluan untuk minta maaf. "Aleska, kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan? Kau membelanya, dia hanya karyawanmu. Sementara aku kekasihmu. Apa kau sudah di pengaruhi mereka sampai kau begini padaku? Kau gila Aleska!!" Luke mulai terpancing emosi. Dia tak terima jika Aleska membela orang lain dari pada dirinya. Aleska menghela napas panjang dan mengabaikan Luke kali ini. "Lebih baik, kau kembali bekerja. Jangan sampai kau di pecat karena kau keluyuran di jam kerjamu." Aleska ingin pergi dari sana tapi lengannya di cekal oleh Luke. Sampai Aleska meringis saking kuatnya cengkeraman itu. "Luke, kau gila? Kau menyakitiku!!" jerit Aleska keras. "Kau masih mau pergi dengan karyawan mu itu? Sementara aku sudah mengingatkan mu untuk menjauhinya. Kau benar benar tak menganggap ku Aleska." Aleska menghempaskan tangan Luke yang sedang mencengkeram nya. Aleska juga mengusap tangannya yang memerah karena ulah Luke barusan. Aleska sudah benar benar muak pada Luke tentang semua yang terjadi hari ini. Dia memilih membatalkan rencana nya untuk berbelanja dan meminta karyawannya masuk kembali ke dalam karena toko mulai ramai. Luke yang melihat itu tentu saja senang. Dia berpikir jika Aleska masih menurutinya. Dia ingin masuk ke dalam toko roti milik Aleska karena dia butuh beberapa roti itu untuk dibawa ke kantor untuk bagi bagi. "Mau apa kau mengikuti ku?" Langkah Luke langsung terhenti, dia menatap Aleska tak mengerti. Tak biasanya Aleska melarangnya untuk ikut ke toko roti milik Aleska. "Aku ingin mengambil roti seperti biasanya sayang, kau tahu bukan kalau orang orang selalu mengatakan jika aku pemilik toko roti ini. Dan hari ini aku ingin membawa beberapa roti untuk teman teman di kantor. Mereka sangat suka dengan roti ini, terlebih tadi Asila sahabatmu juga mengatakan jika dia ingin dibawakan roti kesukaannya." Satu alis Aleska terangkat, dia rasanya ingin sekali langsung menonjok wajah Luke saat ini. Terlebih Luke mengatakan itu dengan wajah bahagia dan berbinar. Matanya terus melihat ke arah toko roti untuk melihat roti apa saja yang ada di dalam. "Baik kalau begitu!" Luke semakin bahagia karena dengan membawa roti itu dia bisa merayu atasannya agar dia tak lembur lagi beberapa waktu ke depan. Asila terus menerus menghubunginya dan mengatakan hal tak masuk akal soal Aleska. Luke ingin melangkah masuk ke dalam tapi dia mendengar lagi suara Aleska. "Tapi kau harus membayar semua roti yang selama ini kau bawa sejak pertama kali toko ini buka. Kalau tak salah totalnya hampir seratus juta. Dan belum juga yang dibawa beberapa teman teman mu yang sering datang kesini." Langkah Luke langsung berhenti, dia menatap tajam ke arah Aleska ketika Aleska menjadi perhitungan dengan nya. "Aleska apa apaan ini, kenapa aku harus bayar? Kau sendiri yang biasanya mengijinkan ku mengambil roti disini." Aleska bersedekap d**a, dia tak ingin lagi membiarkan Luke seenaknya sendiri sekarang terlebih ketika dia tahu jika Luke mengkhianati nya dengan Asila. "Itu karena kau selalu menampilkan wajah memelasmu itu padaku. Dan kau bilang kalau roti itu untuk ibumu makanya aku mengijinkannya. Tapi ternyata kau mengkhianati kepercayaan ku. Tanpa aku tahu, kau sering mengambil roti disini. Begitu juga beberapa teman teman mu yang mereka sialnya malah mengajak keluarganya untuk mengambil juga disini. Kau pikir toko rotiku panti sosial yang memberikan makanan secara gratis?" Sebelum Luke bisa membalas semua perkataan Aleska, kembali terdengar suara Aleska. "Tagihannya akan ku kirim kepadamu sesuai laporan kasir ku dan asistenku disini. Dan juga satu lagi, mobil dan apartemen yang kau pakai tolong kembalikan padaku. Aku ingin menjualnya. Aku ingin membuka cabang baru dan ganti mobil baru untuk pengoperasian toko roti." "A-apa? Lalu aku harus tinggal dimana? Dan pakai apa untuk bekerja sayang? Kenapa kau jadi seperti ini?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD