Bab 9

904 Words
Aleska hanya mengedikkan bahunya acuh, dia masih kesal karena Luke menghina karyawannya. "Aku tak tahu, kau sudah bekerja cukup lama. Gajimu juga besar, kau bisa menyewa sendiri tempat tinggal. Dan maafkan aku Luke, kali ini aku benar benar harus mengambil semuanya. Tolong jangan marah padaku, jika nanti aku sudah kembali ramai tokoku, aku akan belikan kau mobil yang lebih mahal dari ini. Oke?" Aleska menggenggam tangan Luke dan juga menunjukkan puppy eyes nya pada Luke sehingga Luke tak lagi menunjukkan kemarahannya pada Aleska. Sementara para karyawan Aleska ingin sekali muntah karena melihat Nonanya harus bersandiwara seperti ini. "Baik, aku kasih kesempatan untukmu sekali lagi. Kau tahu bukan keluarga ku tahunya itu milikku. Jangan sampai mereka tahu kalau kau mengambil mobil dan apartemen ku. Mereka tak akan suka dengan mu." Aleska mengangguk cepat, dia tersenyum manis ke arah Luke "Ah, dan satu lagi, bisakah kau juga membayar beberapa kue yang kau ambil dulu? Aku butuh tambahan modal juga. Kau bayar separo pun tak apa apa. Aku bisa bangkrut kalau itu tak terbayar. Kalau aku rugi dan bangkrut, kau tak bisa lagi ambil roti gratis dan berikan roti pada keluarga dan teman mu lagi." pinta Aleska. "Apa? Kenapa kau tiba tiba meminta ku membayar itu semua?" pekik Luke keras. "Sayang, bantu aku sekali ini saja please.... Bayar setengah nya saja ya?" Aleska kembali merayu Luke agar dia mau membayar uang itu. Luke berdecak kesal, dia tak ingin Aleska curiga kepadanya. Dengan terpaksa dia membayar separo dari total yang dikatakan Aleska kepadanya. "Ih, kau baik sekali. Nanti aku akan bantu kau buat presentasi lagi agar kau terus bisa naik jabatan juga. Itu juga demi masa depan kita bukan?" Luke mengangguk, lalu setelahnya Luke pergi dari sana. Aleska mengatakan akan ada orang yang mengambil mobil dan kunci apartemennya dia hari lagi. Setelah kepergian Luke, Aleska mengusap tangannya kasar. "Dih, jijik sekali. Bisa bisanya dia ancam aku begitu. Memang nya aku peduli dengan keluarga mu yang parasit itu." gerutu Aleska. Para karyawan Aleska yangeluhat drama itu terkikik geli. Terlebih melihat Aleska harus pura pura tetap manja pada Luke. Luke kembali ke apartemen nya dengan perasaan kacau dan marah. Dia tak tahu apa yang terjadi pada Aleska sampai Aleska bisa meminta semua yang dia berikan pada Luke. Meskipun merasa aneh, dia hanya ingat jika Aleska kan membelikannha mobil yang baru lagi. Tapi saat dia ingin masuk ke dalam apartemen dia mengingat kembali tentang sesuatu. Luke ingat jika Asila pernah memberitahu jika Aleska juga mengambil apartemen dan mobil yang di pakai Asila sebelumnya. "Apa mungkin Aleska pernah tahu jika aku selingkuh sama Asila?" Luke terus menduga duga karena perubahan sikap Aleska saat ini. "Tapi tak mungkin, Aleska kan sibuk dengan toko rotinya. Dia juga tak pernah curiga kepadaku. Apalagi Asila, dia kan cuma gadis yatim piatu yang bodoh!" Luke berusaha menghubungi Asila tapi tak kunjung mendapat jawaban. Luke berdecak kesal karena Asila mengabaikannya. "Kemana lagi dia? Tak tahu apa jika semua pekerjaan sedang di periksa. Jangan sampai apa yang kami lakukan sampai membuat orang orang atasan curiga. Bisa bisa di pecat kami!" Luke menyerah menghubungi Asila, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum itu dia melihat semua isi apartemen yang di berikan oleh Aleska kepadanya. Bukan di berikan, lebih tepatnya di pinjamkan kepada Luke. Sejak awal Luke bersama Aleska, semua kebutuhan Luke yang memenuhi adalah Asila. Meskipun awalnya Luke curiga, tapi setelah tahu jika Aleska mempunyai toko roti Luke akhirnya mengerti dari mana asal uang Aleska. Begitu juga dengan Asila. Aleska hanya meminjamkannya. Meskipun curiga, tapi Aleska bilang jika Aleska juga sedang mencicil apartemen itu. Dan Asila tak perlu ikut campur membayar cicilan apartemen. Belum sampai Luke masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berbunyi dan itu dari Asila. "Asila, kau kemana saja? Kau tahu bukan....." Alis Luke mengerut, ketika dari seberang sana bukan suara Asila yang terdengar. ( "Maaf, apa ini benar Tuan Luke, suami Nona Asila?" ) Luke awalnya ragu menjawab, tapi nomer yang menelfon adalah nomer Asila. Yang lebih Luke heran kenapa orang itu menyebut jika dia suami Asila? "Ada apa? Ini siapa? Dimana Asila?" Luke yang penasaran pun memberondongi orang kui dengan banyan pertanyaan. ("Nona Asila di rumah sakit pusat Medika. Dia di kirim kesini dalam keadaan pingsan. Bisakah Tuan Luke datang kesini? Ada yang ingin kami bicarakan dengan Tuan.") Luke sempat mematung sejenak, tapi kemudian dia berdecak kesal. Meskipun kesal, Luke tetap mengiyakan apa yang diminta orang itu kepadanya. "Setengah jam lagi aku tiba disana!" Luke akhirnya memutuskan sambungan telfon itu. Memilih untuk segera membersihkan dirinya. Dia masih tak habis pikir kenapa bisa bisanya Asila ada di rumah sakit sekarang. Pantas saja dia tak ada di kantor sejak tadi pagi. # Menempuh perjalanan yang tak lama, akhirnya Luke tiba di rumah sakit. Dia langsung mencari keberadaan kamar Asila. Dan ternyata Asila di tempatkan di ruang VVIP atas permintaannya. "Luke kau datang? Akhirnya! " seru Asila. Luke memasang wajah kesalnya. "Kenapa kau harus di ruang VVIP? Kau sanggup membayarnya?" Mata Asila membola, tak biasanya Luke akan seperti itu kepadanya. "Luke, bukannya kau yang biasa membayar semua keperluan ku. Kenapa kau protes, kau tak mau membayar nya?" "Ck, tabungan ku baru saja aku kirim ke orang tuaku. Mereka membeli sebidang tanah untuk usaha. Sekarang aku tak punya uang yang cukup. Kau bayar sendiri tagihanmu, kau juga punya uang bukan? Jangan menyusahkan ku kali ini. Pekerjaan sedang tak baik baik saja sekarang. Kita tak mungkin terus terusan meminta uang pada Aleska atau dia akan curiga!" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD