Perdebatan antara Asila dan Luke sampai di telinga Aleska. Dia sengaja menyuruh seseorang untuk mengawasi dua orang itu dan melaporkan nya kepadanya.
"Uluh, mereka sedang bertengkar ternyata. Rasakan, memang enak kalau tak punya uang? Selama ini kan kalian selalu mengandalkan ku untuk semua uang itu. Sekarang urus sendiri keuangan kalian!"
Aleska terus mengomel ketika mendapat pesan singkat dari orang suruhannya.
"Nona kesambet apa sejak tadi mengomel terus."
Duk....
"Aduh ...."
Aleska mengusap kepalanya yang terbentur. Sedangkan orang yang baru saja bicara itu meringis seolah ikut merasakan apa yang Aleska rasakan.
"Maaf nona, tak sengaja." ucap karyawan itu lirih.
Dia takut jika Aleska akan marah kepadanya. Sementara Aleska masih mengusap kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Ih kau bikin aku kaget saja. Aku kira hantu tiba tiba ada yang bicara." omel Aleska.
"Hehe, sejak tadi aku penasaran kenapa nona bicara sendiri."
"Ah, itu.... dua manusia itu seorang sedang kesusahan uang. Lihat saja sebentar lagi pasti si wanita akan menelfon ku. Kan si cowok sialan uangnya sudah di kasih aku. "
Aleska terkikik geli membayangkan apa yang terjadi dengan mereka berdua terlebih ketika mereka berdua terbiasa hidup mewah dan sekarang harus menghemat karena Aleska menghentikan semua aliran dananya.
"Biarkan saja nona, selama ini mereka sudah terbiasa hanya minta uang pada Nona. Kalau mau punya uang banyak mah kerja, bukan malah minta. Sekalian saja jadi pengemis."
Aleska mengangguk setuju, lalu dia meminta karyawannya untuk kembali bekerja. Sementara itu, terpaksa bukan Aleska yang belanja tapi karyawannya yang lain.
"Bulan ini pemasukannya lumayan, kalau tak ada mereka berdua."
Melihat tokonya yang sedang ramai, Aleska tersenyum lebar. Dengan begitu pundi pundi uang akan terus masuk ke dalam rekening nya.
Saat malam tiba, barulah Aleska pulang ke rumah. Saat dia ingin menyalakan mobilnya, ponselnya kembali berbunyi.
Aleska melihat siapa yang menelfonnya saat ini.
Terlihat nama Asila yang terus terusan menelfonnya.
"Halo, ada apa Asila? Kalau tidak ada yang penting aku matikan. Karena aku lelah sekali hari ini. Toko sedang banyak pembeli. " ucap Aleska dengan nada ceria seperti biasanya.
Asila yang belum mengatakan apa apa mengepalkan kedua tangan nya menahan marah.
("Aleska kau berubah sekali, tadi pagi ketika aku ingin ikut dengan mu kau memilih bersama sepupu mu. Lalu kau pergi begitu saja. Dan hari ini kau bahkan tak menanyakan kabarku bagaimana. Kenapa kau berubah kepadaku, apa yang terjadi?")
Aleska mendengus kesal, ingin rasanya dia memaki Asila saat ini. Tapi dia masih menahannya. Dia ingin bermain main dengan dua orang tak tahu diri itu.
"Memang nya kau kenapa? Bukannya setiap kali aku menghubungi kau selalu bilang jika sedang bersama kekasihmu? Dan lagi, kau mau menghubungiku hanya ketika kau membutuhkan uangku. Tapi untuk seorang maafkan aku Asila, kalau kau butuh uang aku sedang tak bisa membantu. Uang ku sudah aku gunakan untuk membangun toko roti lagi. Dan ehm, untuk kedepannya kau minta saja pada kekasih mu. Kau selalu membuat story jika kau belanja dan makan makanan enak dengan nya. Aku iri sekali, tapi tak apa, suatu saat aku bisa makan itu semua. Dan Asila, maaf aku harus pulang. Aku lelah sekali hari ini."
Aleska langsung memutuskan sambungan telfonya tanpa memberi kesempatan pada Asila untuk bicara.
"Hihi, rasakan. Aku malas sekali mendengar semua keluhan mu itu. Kau menyalurkan energi negatif untuk ku."
Aleska lalu menyalakan mobilnya untuk segera pulang. Dia benar benar lelah hari ini karena dia turun tangan untuk menyiapkan beberapa kue dan roti.
Ponselnya kembali berdering, Aleska berdecak kesal. Dia langsung mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang sedang menelfonnya.
"Duh, kenapa masih menelfon ku? Aku sudah bilang, kau cari saja uang sendiri untuk saat ini. Kau bisa minta uang pada kekasihmu itu. " oceh Aleska.
Sementara itu, Gaharu mengerutkan keningnya lalu melihat layar ponselnya lagi. Memastikan jika yang dia telfon benar benar Aleska.
(" Sayang kau marah dengan siapa?")
Aleska yang mendengar suara yang berbeda terkejut.
Ckit....
"Duk..... "
"Aw...... "
Kening Aleska terbentur karena dia mengerem mobil tiba tiba. Aleska mengusap keningnya yang berdenyut.
"Aduh sakit." rintih Aleska.
Gaharu yang mendengar itu langsung panik. Dia terus menerus memanggil nama Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
(" Sayang, hei.... Aleska.... Kau tak apa apa? Apa yang terjadi? Kau baik baik saja? Aleska jawab aku? ")
Aleska yang tersadar saat mendengarkan lagi suara Gaharu pun mengatur suaranya agar tak terdengar biasa saja.
"Itu ... heheh... aku baik baik saja. Maafkan aku Om Aru. Aku tak melihat jika Om Aru yang menelfon ku. Aku kira nenek lampir lagi yang telfon. " ucap Aleska sambil meringis.
Dia melihat keningnya di spion depan dan terlihat benjol juga sedikit merah.
"Wah ternyata merah, pantas sakit....." batin Aleska
("Kau masih di luar? Jam segini belum pulang?")
Tiba tiba suara Gaharu berubah menjadi dingin.
Yang membuat Aleska merinding takut.
"Balik lagi galaknya." gumam Aleska tanpa sadar.
("Jadi aku galak sekarang?")
Aleska memukul mulutnya pelan. Bisa bisanya apa yang dia pikirkan malah langsung terucap begitu saja.
Dia menggaruk hidungnya mencari jawaban yang pas agar Gaharu tak kembali mengomel. Tapi dia meringis kecil membayangkan bagaimana reaksi Gaharu ketika Aleska benar benar mengatakan apa yang dia rencanakan saat ini.
"Om Aru, kapan pulang? Kau tak kangen kepadaku? Apa jangan jangan, Om Aru bertemu perempuan cantik disana sampai Om Aru tak juga pulang? Om Aru benar benar bertemu dengan wanita lain disana? Wah, sepertinya hanya aku yang kangen dengan Om Aru." celetuk Aleska panjang lebar.
Tepat setelah mengatakan itu, Aleska kembali memukul bibirnya yang mengatakan hal yang tak masuk akal.
Setelah itu tak ada lagi sahutan dari Gaharu. Melainkan sambungan telfonnya yang langsung terputus begitu saja.
"Loh, kok malah mati telfonnya? Apa aku salah bicara ya? Om Aru marah lagi sama aku?"
to be continued