Gaharu benar benar tak bisa berpikir jernih saat ini. Bisa bisanya, Aleska mengatakan kangen kepadanya ketika Gaharu harus meting saat ini. Bodohnya, kenapa dia harus mengomeli nya tadi. Gaharu lupa jika Aleska juga bersikap manja dan tengil secara bersamaan.
Gerald yang melihat tuannya gelisah pun bingung. Tak biasanya Gaharu tak fokus dengan pekerjaannya.
"Pasti karena telfon Nyonya muda jadi seperti itu." batin Gerald.
Belum sempat Gerald bertanya, kolega mereka datang. Persis seperti yang Gerald katakan, mereka benar benar membawa wanita yang disinyalir adalah putri sulung koleganya hari ini.
"Tuan Gaharu ...."
Gaharu yang sejak tadi fokus dengan ponselnya lalu mendongak. Tapi dia mendengus kesal, matanya tiba tiba sakit ketika melihat wanita itu. terlebih saat wanita itu terus menatapnya penuh minat kepadanya..
"Gerald, mataku tiba tiba sakit." keluh Gaharu.
Gerald yang awalnya bingung dia tapi ketika melihat lirikan Gaharu, Gerald langsung menahan tawanya.
"Tuan bertahan sebentar saja." bisik Gerald.
"Kita mulai sekarang."
Suara Gaharu yang datar dan dingin membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya menahan geram. Gaharu mengacuhkan nya. Sementara laki laki paruh baya di sebelahnya menepuk pelan punggung tangan wanita itu.
"Tenanglah Hera, dia pasti setuju untuk menikah dengan mu. Sabarlah sedikit lagi."
Wanita bernama Hera mengangguk tapi tatapan matanya tetap tertuju pada Gaharu. Tuan Tanaka fokus pada apa yang Gaharu katakan tapi pikirannya memikirkan banyak rencana bagaimana Gaharu mau bersama Hera putrinya. Dengan menikah bersama Gaharu itu akan menguntungkan nya juga bisnisnya.
Setelah beberapa waktu membahas pekerjaan, kesepakatan akan segera tercapai tapi Tanaka menyela sebelum ada nya penandatanganan semua berkas itu.
"Tuan Gaharu, aku ingin bicara hal pribadi. Sebelum kita mencapai kesepakatan ini. "
Gaharu menaikkan sebelah alisnya mendengar itu. Dia bersandar di kursi yang dia duduki. Tatapannya lebih tajam dari pada sebelumnya.
"Tuan Tanaka, aku tak punya banyak waktu untuk membahas masalah pribadi. Dan kita disini karena urusan pekerjaan bukan membahas yang lainnya. Karena sudah selesai, kita akhiri sampai disini. Tapi jika Tuan Tanaka ingin mempersulit kerja sama ini, aku tak masalah membatalkan nya karena bukan aku yang rugi tapi kau dan perusahaan mu yang harus ganti rugi. Dan jika kau ingin membahas putrimu..... "
Gaharu menunjuk jari manisnya yang sudah tersemat cincin pertunangan nya dengan Aleska. Meskipun belum resmi, tapi Aleska dan Gaharu sepakat memakai itu sebelum hubungan mereka di publikasikan karena masalah Aleska yang belum selesai dengan Luke dan Asila.
Mata Tanaka dan Hera membola ketika melihat tangan Gaharu. Lalu pada akhirnya Gaharu berdiri dari tempatnya.
"Sepertinya kerja sama ini tak bisa dilanjutkan. Aku tak bisa melibatkan pekerjaan dan juga masalah pribadi secara bersamaan."
Tanaka langsung berdiri dari duduknya. Dia menatap marah pada Gaharu. Tapi Gaharu tak pernah takut pada siapapun.
"Tuan Gaharu, jangan macam macam pada ku!"
Gerald lalu memutar sebuah rekaman suara disana. Dimana terdapat percakapan Tanaka juga orang orangnya yang ingin menjebak Gaharu. Tubuh Tanaka terhuyung ke belakang. Dia tak tahu jika Gaharu sudah tahu tentang rencana itu.
"Baik, karena semua sudah jelas. Kita akhiri semuanya. Aku juga tak berminat mencari pasangan lain selain tunangan ku."
Gaharu melangkah pergi dari sana, tapi suara Hera menghentikan nya.
" Apa hebatnya tunangan mu dibandingkan dengan ku yang punya segalanya. Pendidikan ku juga sangat tinggi, aku juga punya perusahaan sendiri. Lalu kau punya hak apa bisa menolak ku?"
Gaharu dan Gerald yang mendengar itu rasanya ingin tertawa. Hera menyombongkan dirinya dan membandingkan nya dengan Aleska.
Aleska punya semuanya lebih dari apa yang di punya Hera, tapi dia memilih membuka usahanya sendiri dari hobinya dan keahlian nya.
Melihat Gaharu yang tersenyum membuat Hera geram. Dia merasa di remehkan dan juga dihina.
"Apa yang kau tertawa kan Tuan Gaharu? Bahkan asisten mu saja tak tahu sopan santun seperti ini."
Gaharu menghela napas panjang, lalu dia merubah ekspresi semakin dingin.
"Kau menyombongkan sesuatu milikmu yang hasil dari pemberian orang tuamu? Dan tadi kau bilang aku tak punya hak untuk menolakmu? Bahkan kau tak sebanding dengan tunanganku. Dia tak perlu mengejar ku, karena aku yang mengejarnya terlebih dahulu. Dia tak perlu menyombongkan apa yang dia punya karena aku juga bisa memberikan semua nya kepadanya. Termasuk nyawaku!"
Semua kata kata Gaharu menginjak harga diri Hera. Sejak tadi Tanaka hanya diam saja memperhatikan Gaharu dan mendengar semua yang dikatakan nya. Melihat itu semua, Tanaka tahu jika Gaharu tak main main dengan semua yang dia katakan.
"Tuan Gaharu, bukan seperti itu. Kami hanya minta...."
Gaharu mengangkat tangannya pertanda tak ingin berdebat lagi masalah ini.
"Cukup, aku tak akan mempertimbangkan apapun tentang apa yang kita bahas hari ini. Sudah terbukti dengan rekaman tadi. Dan kau tahu bukan jika aku bukan orang yang bisa menerima kecurangan dalam setiap langkah yang aku ambil."
Wajah Hera menjadi pias. Dia tak tahu jika Gaharu tak bisa luluh dengan semua perkataan nya. Hera ingin menarik tangan Gaharu tapi Gerald dan beberapa pengawal yang di siapkan langsung menghalanginya.
"Jangan bertingkah Nona Hera, kau tak diberikan kesempatan untuk melakukan hal lainnya lagi. Jangan mengganggu Tuanku!"
Wajah Hera merah padam, dia marah pada Asisten Gaharu yang lancang menghalanginya.
"Kau cuma asisten, jadi jangan banyak bertingkah." teriak Hera marah.
"Aku memang asisten, tapi aku tak pernah merendahkan diriku sendiri Nona Hera. Jadi jaga batasanmu!"
Gaharu yang melihat itu tersenyum tipis, dia tahu Gerald selalu tegas dalam bertindak.
"Gerald, kita kembali."
to be continued