Bab 18

954 Words
Luke berteriak ketika di seret paksa, dia memaki dan juga mengumpat Aleska serta Gaharu. Melihat kepergian Luke membuat Aleska bernapas lega. Tapi tiba tiba tubuhnya menegang ketika sebuah pelukan hangat menyentuhnya. Siapa lagi jika bukan Gaharu. Gaharu menaruh kepalanya di pundak Aleska. Mengeratkan pelukannya pada pinggang Aleska. "Sayang, apa kau sudah lega?" Aleska mengangguk, meskipun menahan gemuruh di dadanya karena mengingat semua kelakuan Luke dan juga Asila. "Om lepas dulu, senang sekali Om peluk peluk aku. Nanti kalau ada yang melihat bagaimana?" protes Aleska. Tapi bukan Gaharu jika dia tak membuat Aleska kesal terlebih dahulu.. Cup.... "Jangan mengomel terus sayang, kau cepat tua nanti." Mata Aleska membola, dia lalu mencubit lengan Gaharu yang masih melingkar di perutnya. "Harusnya aku yang bilang begitu, Om Aru jangan. m***m m***m nanti cepat tua." Gaharu langsung melepas pelukannya pada Aleska, dia membalik tubuh Aleska yang melihatnya dengan lucu. "Tua begini juga masih bisa membuat mu tak bisa jalan sayang." bisik Gaharu lirih. Blush .... Wajah Aleska kembali merah akibat perkataan Gaharu. Dia ingin protes , tapi belum sempat dia protes Gaharu sudah menarik tangan Aleska untuk di ajaknya duduk.. "Makan dulu sayang, aku baru tiba dari Jepang dan langsung kemari. Sekarang aku lapar, temani aku makan." Aleska mengangguk menurut. Dia duduk bersebelahan dengan Gaharu. Terlihat Gaharu menikmati semua makanan yang ada. Sejak tadi Aleska tak makan tapi malah asyik menikmati wajah Gaharu yang sedang makan. Gaharu sendiri baru sadar ketika melirik makanan Aleska yang masih utuh. "Kenapa lihat nya sampai seperti itu? Ada yang aneh? Atau aku semakin tampan Aleska?" goda Gaharu pada Aleska. Aleska yang mendapatkan gombalan dari Gaharu mencebikkan bibir bawahnya karena kesal. "Ck, percaya diri sekali anda, Tuan Gaharu Jagara Arkadewa. " Gaharu langsung terbahak ketika mendengar Aleska memanggil nama lengkapnya. "Hahaha...... " Melihat Gaharu yang tertawa terbahak saat ini membuat Aleska penasaran, seperti apa aslinya wajah Gaharu yang asli. Terlebih ketika melihat Gaharu bisa makan dengan tenang tanpa harus mengomel atau memilih makanan tertentu. "Om, Aleska boleh bertanya?" Gaharu menaikkan sebelah alisnya ketika tiba tiba Aleska berubah menjadi serius. Gaharu meletakkan alat makannya dan duduk menyamping ke arah Aleska. Lalu menatap Aleska dengan serius. "Kau ingin bertanya apa? Tanya saja, aku akan menjawabnya selama aku bisa. Dan aku akan jujur pada apapun yang ingin kau tahu.* Aleska mengamati wajah Gaharu yang juga terlihat serius, entah ini ekspresi yang kesekian yang Aleska lihat dari Gaharu dan baru ini wajah serius itu benar benar Aleska lihat. "Om, bisa makan apapun tanpa ada alergi? Ada pantangan yang memang tak bisa Om makan?" Aleska mulai dengan pertanyaan yang biasa terkait kehidupan Gaharu. Selama ini Aleska hanya tahu sekilas tentang Gaharu. Mengingat jika hidupnya hanya penuh dengan nama Asila dan Luke. Sialnya, mereka malah menjadi benalu di hidup Aleska. "Tak ada, aku bisa makan apapun terutama makanan rumahan. Mama setiap hari masak untukku juga Papa. Bahkan sampai hari ini, Papa sering membawa bekal jika Papa tak ada dinas keluar kantor." Aleska mengangguk paham, tapi sebelum dia lanjut ke pertanyaan kedua, Gaharu menyelanya. "Sebelum kau bertanya lebih jauh tentang ku, aku ingin tahu tujuan mu bertanya soal pribadi untuk apa? Hanya sekedar ingin tahu atau.....* Aleska tersenyum, dia paham jika Gaharu sampai mempunyai pikiran seperti itu. "Awalnya aku penasaran karena melihat Om Aru makan dengan lahap. Dan yah, itu menu sederhana jika di banding dengan makanan para pebisnis diluar sana. Tapi aku berpikir kembali, sebentar lagi kita akan menikah dan jujur saja aku tak tahu apapun tentang Om Aru. Yang aku tahu hanya jika harta Om Aru tak akan habis tujuh turunan." Lagi lagi Gaharu tergelak mendengar jawaban ceplas ceplos Aleska. Calon istrinya itu memang berbeda wanita pada umumnya. "Selain itu, aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Bukan ingin membandingkan, tapi hubungan ku dengan Luke dari awal tak pernah setara. Aku tak tahu apapun tentang dia. Tapi aku selalu berusaha memberitahu nya tentang apapun yang ada padaku. Tapi mungkin di hatinya tak pernah ada aku, jadi dia tak mengingat sama sekali tentang keadaan ku dan yang lain. Dan aku cuma manusia biasa yang kadang aku juga punya rasa lelah dan lupa. Pernah buatkan dia makanan berisi udang laut, lalu dia masuk rumah sakit. Dan yah, yang merawat adalah Asila. Dia menolakku dan juga memaki ku karena aku membuatnya masuk ke dalam rumah sakit." Aleska menceritakan itu semua dengan nada sendu dan sedih. Gaharu mengulurkan tangannya dan mengusap lembut puncak kepala Aleska. "Kau bisa melakukan apapun sayang ketika bersama ku. Jika nanti ada kesalahpahaman kita bisa membicarakan nya dengan kepala dingin. Tapi aku tak akan pernah mentoleransi perselingkuhan Aleska. Aku membencinya," ucap Gaharu.. Tersirat nada kemarahan dan emosi yang besar ketika Gaharu mengatakan itu. "Om, aku tahu batasanku. Tapi jika aku lupa dan tak sengaja, Om Aru bisa menegurku baik baik." Gaharu menatap wajah Aleska yang teduh. Wanita yang lebih muda darinya itu memiliki cara pandang yang luas. Meskipun sikap manja dan tengilnya selalu ada tapi Gaharu menyukainya. Perlahan wajah keduanya semakin mendekat. Tapi ketika bibir itu kurang beberapa senti pintu ruangan Aleska terbuka. Brak.... "Eh..... " Satu orang yang baru saja nyelonong itu langsung berbalik badan. "Aduh, maafkan aku.... " "Aku tak melihatnya. Kalian bisa melanjutkannya lagi. " "Keira..... " panggil Aleska. Langkah Keira yang ingin kabur dari sana terhenti dia langsung berbalik dan cengengesan di depan Gaharu juga Aleska. "Hai, Om Aru .... " sapa Keira. Gaharu mengangguk sebagai jawaban. Tapi yang membuat Keira gagal fokus adalah tangan Gaharu yang sudah bebas memeluk sepupunya itu. "Sayang, aku harus pulang. Ada yang akan aku bahas dengan Papa. Nanti aku jemput kalau sudah pulang. Kabari aku....." Aleska mengangguk, lalu Gaharu bangkit dari duduknya. Tapi langkah Gaharu kembali berhenti, dan dia berbalik. Cup..... "Jangan lupa, habiskan makananmu." Keira melongo melihat sikap Gaharu pada Aleska. "Serius, itu Om Aru?" to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD