bc

Dia Menyesal, Setelah Tahu Kebenarannya

book_age18+
16
FOLLOW
1K
READ
dark
BE
kickass heroine
heir/heiress
drama
bxg
city
secrets
like
intro-logo
Blurb

“Kau bukan apa-apa dibanding Lowi.”

“Bagus, karena gadis itu sudah mati… dan kau yang membunuhnya.”

“Willow, kumohon—”

"Kamu menyesal setelah tahu kebenarannya?"

---

Willow McRide menghabiskan tiga tahun hidup sebagai istri yang hanya tahu luka dan diam, cinta tanpa mengharapkan imbalan. Semua itu karena Caleb Stirling—lelaki yang ia cintai sejak kecil—lebih memilih wanita lain yang mengaku sebagai cinta masa lalunya. Willow pergi ketika hampir kehilangan nyawa, dan untuk pertama kalinya, ia memilih dirinya sendiri.

.

Ketika kebenaran terbuka dan Caleb menyadari Willow adalah Lowi yang sesungguhnya, segalanya sudah terlambat. Ia mengejar, memohon, dan menunggu. Tapi Willow… kini berjalan ke arah hidup baru yang tak lagi menoleh ke masa lalu.

.

Ini bukan tentang cinta yang kembali atau kesempatan kedua.Ini tentang seorang wanita yang akhirnya berhenti menjadi bodoh karena mencintai pria yang tak pernah menyambut cintanya.

chap-preview
Free preview
Chapter 01
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tidak datang ke kantor atau mendekati Maisie lagi?” gertak Caleb, suaranya tajam menampar udara. Mendekati Maisie? Bahkan dia datang kesini atas permintaannya untuk membawakan file dia yang tertinggal. Apakah dia lupa kalau dia itu seorang suami bagi Willow bukan seorang kekasih bagi Maisie?. Ia menunduk penuh perhatian pada Maisie—membantu mengelap kopi panas yang mengenai tangan wanita itu. Dengan lembut, sangat lembut, Caleb meniup punggung tangannya sebelum mengangkat sapu tangan sutra yang… ironisnya, adalah hadiah dari Willow sendiri. Hadiah yang dibelinya dengan hati-hati, dengan harapan kecil untuk dihargai. Padahal luka Maisie tidak seberapa. Hanya merah. Ia tahu karena yang disiram kopi panas secara sengaja adalah dirinya. Saat Willow baru melangkah masuk ke ruang kerja Caleb, Maisie yang membawa dua gelas kopi menabraknya, memiringkan gelasnya tepat ke lengan Willow, lalu menjatuhkan diri ke lantai sambil menangis. Dan sekarang… Caleb meniup tangan Maisie seolah dunia runtuh di sekitarnya. “Aduh… sakit sekali, Kak…” rengek Maisie, manja, penuh kepura-puraan yang dibungkus air mata tipis tak lebih dari drama. Caleb langsung panik. “Kita ke rumah sakit! Sekarang!” Tanpa pikir panjang, ia membopong tubuh Maisie—membopong—seakan yang terluka adalah kakinya, bukan tangannya. Willow berdiri kaku di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu dingin. Ia melihat punggung suaminya menghilang ke dalam lift bersama wanita lain. Melihat bagaimana Caleb memeluk Maisie dengan kecemasan tulus yang belum pernah sekalipun ia berikan padanya. Dan Willow… Willow yang lengannya masih perih, kulitnya memerah terbakar, hanya dibiarkan berdiri sendirian. Menonton kemesraan mereka. Dengan rasa sakit yang bahkan Maisie tak sanggup pura-purakan. Yang dibawa Caleb bukan orang terluka. Yang ditinggalkannya… adalah istrinya. Willow menekan lengannya yang perih, merasakan kulitnya berdenyut terbakar. Tidak ada satu pun pegawai yang berani mendekat. Semuanya pura-pura sibuk, seolah rasa sakitnya adalah bagian dari dekorasi kantor yang bisa diabaikan. Ia menarik napas gemetar, menunduk agar tidak ada yang melihat matanya yang mulai panas. Dengan sisa tenaga, ia memanggil taksi dan berjalan sendiri menuju lobi. Setiap langkah seperti ditarik dari dalam luka. Saat taksi datang, Willow masuk tanpa suara. Ia memeluk lengannya yang melepuh, menatap keluar jendela, memohon pada dirinya sendiri agar tidak menangis. Tapi matanya sekadar basah—dan itu pun terasa seperti kemewahan yang tidak pantas ia miliki. Di rumah sakit, dunia seakan kembali menamparnya. Begitu pintu IGD terbuka, Willow melihat Caleb berdiri di samping ranjang Maisie, wajahnya pucat panik. “Dokter! Apa tidak apa-apa? Dia kesakitan sekali!” Caleb berseru, suaranya putus-putus. Padahal dokter baru saja berkata, sangat tenang, “Lukanya ringan, Pak. Hanya kemerahan. Tidak ada melepuh.” Tetapi Caleb tidak mendengar. Atau tepatnya tuli, tidak mau mendengar. Ia memegang tangan Maisie seperti memegang sesuatu yang rapuh. Sesuatu yang berharga, sorot matanya lembut dan terluka. Sesuatu yang tak pernah Willow lihat saat bersamanya. Willow hanya berdiri di lorong menyaksikan pemandangan pasangan romantis itu dengan senyum getir dan hati teriris. Enam tahun mencintai Caleb ternyata tak mampu meluluhkan hatinya sama sekali. Dulu, Willow pikir Caleb memang lelaki dingin yang memang tak mudah ditaklukkan ternyata dia salah. Permasalahan di sini bukanlah hati Caleb yang tidak mudah ditaklukkan namun dirinya sendiri. Sejak awal memang Willow yang mengejar sosok Caleb yang berkharisma dan tampan, cinta pada pandangan pertama itu terjadi begitu saja saat dia melihat kedatangan caleb di pesta kelulusan. Kabarnya pria itu datang karena mencari seseorang yang berarti bagi hidupnya yang dikabarkan sekolah di SMU tempat WIllow belajar. Mengabaikan semua kabar burung itu, Willow yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama langsung memutuskan mengejar Caleb Stirling, pengusaha paling berpengaruh di kota Herlington. Ia mengabaikan perintah kakaknya untuk kembali ke kota Flora mengejar impiannya di bidang seni, demi mengejar pria itu. Rowan McRide, di kota Flora juga bukan orang sembarangan oleh karena itu saat adiknya memutuskan mengejar pria yang terlihat tak peduli membuatnya marah dan kemudian memutuskan: ‘Kalau sekali memutuskan tidak kembali pulang jangan pernah pulang!’ ‘Kakak tenang saja, aku pasti bisa merebut hati Caleb Stirling’ Willow 18 tahun yang sudah dibutakan cinta, selalu merasa dunia ini indah dan terjadi seperti impiannya. Caleb tidak pernah menganggapnya, karena dia hanyalah gadis kecil pengganggu yang menyebalkan. Willow yang cerdas tak pernah putus asah, dia tak hanya mengejar dengan cara-cara romantis dengan memberikan hadiah, mengirimi makanan enak yang dia masak sendiri akan tetapi dengan membuktikan dirinya seorang perempuan yang memiliki value tinggi dengan membuktikan dirinya bisa menyelesaikan studi science dalam bidang bioteknologi pangan dalam waktu dua setengah tahun agar bisa masuk ke perusahaan Caleb. Willow memang berhasil masuk ke perusahaan Caleb dan bergabung dengan di bagian riset dan pengembang namun itu tak membuat Caleb menoleh padanya, hingga puncaknya adalah di acara ulang tahun perusahaan, Caleb mabuk berat dan Willow hanya ingin menolong namun pria itu memaksanya untuk tidur dengannya. Peristiwa itu menjadi skandal besar yang memaksa Caleb harus menikahi Willow dan menganggap Willow sengaja menjebaknya. Pernikahan itu memang terjadi sesuai impian Willow namun menjadi neraka selama tiga tahun ini dan semua menjadi buruk semenjak kehadiran Meise Hutton. Beberapa menit kemudian, Caleb keluar dari ruang IGD sambil merangkul bahu Maisie yang tersenyum lemah. Senyum yang Willow tahu sengaja diarahkan padanya, seperti pisau dingin yang dipelintir perlahan. Caleb tidak menoleh ke arahnya, padahal Willow yakin kalau Caleb pasti melihat dirinya namun kehadirannya di situ tampak hanya seperti hantu. Suster yang menjemput Willow masuk ruangan memandang lukanya dan terkesan. “Ya ampun, punya Nona ini lebih parah, dokter!” gumamnya sambil mengoles salep. “Aneh, tapi cowok tadi paniknya sama yang satu lagi. Sayang banget ya sama kekasihnya, sampai segitu hebohnya.” Willow terdiam, bahkan orang lain pun tahu kalau Caleb lebih peduli dengan sekretarisnya daripada istrinya sendiri. “Kekasihnya…?” suster lain menimpali sambil membalut perban di lengan Willow. “Iya, yang barusan dibopong itu. Pasti pacarnya. Manis banget tadi dia gendong-gendong segala.” “Aku juga mau nanti kalau punya kekasih seperti dia…” “Memang kamu siapa? Kamu gak secantik nona tadi!” Mereka tertawa kecil, tidak sadar bahwa setiap kalimat adalah duri yang menancap dalam. Willow menunduk, wajahnya memerah karena menahan sesuatu yang tidak bisa keluar dengan air mata. Suster-suster itu tidak tahu, siapa yang mereka bicarakan. Bahwa “kekasih” itu adalah sekretaris. Dan pria panik itu adalah suaminya. Suami yang bahkan tidak melihat Willow terbakar. Willow menatap lengan berperbannya. Bibirnya bergetar sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Mungkin…ketika hati sudah terlalu sakit, menangis pun menjadi kemewahan yang tidak bisa ia bayar lagi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook