Chapter 02

1139 Words
Sore harinya, ketika pulang ke rumah, Caleb mendapati Willow di dapur—menyiapkan makan malam dengan dibantu para pelayan. Gerakan Willow tampak kaku karena tangannya yang dibalut perban, tapi ia tetap berusaha menyelesaikan semuanya dengan rapi. Caleb ingin terus berjalan, ingin pura-pura tidak peduli dan langsung naik ke kamarnya. Namun entah kenapa… pemandangan itu menyakitkan matanya. Melihat Willow yang terlihat kesusahan memegang mangkok dan juga sendok membuatnya terasa sangat terganggu. Mungkin juga karena gangguan OCD-nya yang membuat dia harus melihat segala sesuatu itu proper dan teratur serta sesuai. “Kamu nggak perlu repot siapkan makan malam. Biar pelayan saja!” tegurnya tajam. Willow tidak menyahut ataupun menoleh. Tidak memberi reaksi apa pun. Yang ada di kepalanya hanya satu: menunaikan kewajibannya sebagai istri, sesederhana dan sesakit apa pun itu. Begitu yang selama ini dia lakukan selama tiga tahun, menjadi istri yang patuh, merawat suami dengan penuh kasih sampai mengorbankan karirnya di bagian riset yang bisa saja memberinya kesempatan mengambil gelar S2 dan S3 doctoral karena kepintaran Willow memang di atas rata-rata. “Sudah selesai,” ucap Willow tenang, “Aku akan bantu siapkan air. Setelah itu makan saja.” Ia berjalan mendahului Caleb tanpa sedikit pun melihat pria itu. “Memangnya siapa yang bisa makan enak kalau lihat muka masammu seperti itu!” bentak Caleb di belakangnya. Willow menghentikan langkah. Bahunya naik-turun menahan sesuatu—lelah, mungkin. Atau getir. “Caleb, aku nggak akan ada di hadapanmu saat kamu makan. Tenang saja. Aku juga sedang nggak enak makan.” Ia tidak menoleh. Suara itu… hambar, pecah, sekaligus sangat-sangat lelah. “Lalu bagaimana dengan saat kamu menyiapkannya? Kamu pikir aku bisa melupakan wajahmu yang masam itu?” dia masih mencercah masalah itu. “Kalau memang itu mengganggu, gak usah makan!” Singkat dan padat. “Willow, kamu sedang bicara denganku! Setidaknya tatap mataku!” hardik Caleb. Tetap tidak ada respon. Willow terus berjalan menuju kamar utama, masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Caleb, lalu mengambil pakaian ganti seperti biasa. Rutinitas yang bahkan rasa sakit sekalipun tidak mampu mengganggu. Saat ia berbalik, Caleb sudah berdiri tepat di belakangnya. “Ngambek karena peristiwa di kantor tadi?” tanyanya dingin. Hebat. Benar-benar hebat. Yang Caleb ingat hanya “peristiwa di kantor”. Yang di rumah sakit sudah ia hapus begitu saja. Yang sebelumnya—mabuk dengan kissmark di leher, meninggalkan Willow di jalan demi Maisie, dan semua penghinaan kecil yang mengikis hati—semuanya bagi Caleb seolah adalah hal yang… wajar. Mungkin memang benar: kalau seseorang terbiasa melakukan kesalahan, lama-lama yang tidak benar pun akan terasa benar. “Nggak, kok. Aku nggak ada hak buat ngambek.” Jawaban Willow lirih, datar, tanpa berani menatap Caleb. Ia mengambil selimut wol tipis yang biasa ia pakai. Malam ini… ia sudah memutuskan untuk keluar pelan-pelan dari neraka yang ia datangi sendiri. Caleb mendengus. “Lalu, sekarang apa ini? Mau tidur di kamar tamu? Biar semua orang tahu kalau pernikahan kita nggak harmonis?” Tentu. Caleb masih saja peduli dengan pikiran orang. Bukan pada istrinya sendiri yang mungkin sudah patah di dalam. “Caleb, kamu berlebihan. Aku hanya ingin istirahat tenang. Belakangan ini kepalaku terasa… sangat berat. Rasanya di dalam kepalaku ini berisik banget.” Willow memejamkan mata sejenak. “Kamu pernah berpikir nggak… kalau kadang-kadang aku ingin akhiri hidup aku?” Kalau Caleb peka—atau punya sedikit saja empati—dia seharusnya mengerti. Willow telah depresi. Sudah dua tahun ia menemui psikiater. Dua tahun meminum obat penenang, sendirian, sembunyi-sembunyi. “Berlebihan!” umpat Caleb tanpa ragu. Willow mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya hari itu, mata hijau itu menatap Caleb. Menggelap. Basah. Tapi tidak ada air mata yang turun. Seolah tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menangis. “Bagimu, kesakitanku sangat berlebihan… walaupun aku sekarat dan akan mati. Berbeda dengan sekretarismu itu, kan?” Caleb menyipitkan mata. “Kamu cemburu pada Meisie? Sudah kubilang aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Yang aku lakukan hanya membereskan kekacauan yang kamu buat!” “Kekacauan yang aku buat?” ulang Willow. Dan di detik itu… Willow merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh begitu saja. Bukan karena suara Caleb yang meninggi. Bukan pula karena tuduhannya. Yang menghantam justru kesadaran sederhana—Caleb benar-benar menganggap semua luka yang ia bawa… wajar. Ia mengira Willow memang pantas menanggungnya. Dan ia sama sekali tidak melihat betapa hancurnya perempuan yang berdiri di depannya. Willow menunduk, memeluk selimut wol di dadanya seperti pegangan terakhir yang ia punya. Willow mengatur napas, mencoba menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. “Aku capek, Caleb,” ucapnya pelan. “Capek dijadikan kambing hitam atas hal-hal yang bahkan bukan salahku.” Caleb melipat tangan di d**a, wajahnya keras. “Kalau kamu nggak mau disalahkan, ya jangan buat masalah.” Willow tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip luka daripada ekspresi manusia. “Aku cuma datang ke kantormu untuk mengantar file yang kamu minta. Itu saja. Tapi semua yang terjadi setelahnya tetap salahku, kan?” “Apakah kamu pernah mencoba mengecheck CCTV kantormu dan melihat kejadian sebenarnya? Kamu gak akan melakukannya karena kamu sangat takut melihat kebenarannya” “Untuk apa aku melakukannya, Meisie sudah menjelaskannya semuanya!” Caleb masih membela Meisie. “Meisie menjelaskannya… bagaimana dengan penjelasanku? Gak penting?” Tatapan Caleb yang semula dingin kini berubah sangat muram. Awalnya, Willow berpikir kalau pertanyaan yang baru saja dia tanyakan bisa membuat pikiran Caleb terbuka, namun dia salah. “Kenapa kamu membenci Meisie dan selalu membuat masalah dengannya, Willow?” Tanya Caleb. “Aku tidak pernah membencinya, aku hanya tidak suka dia masuk dalam rumah tangga kita, Caleb! Kamu paham, gak!” Suara Willow meninggi. Dengan gerakan sedikit cepat Calep mencengkram rahang Willow dengan keras, matanya menatap Willow dengan tatapan penuh kebencian. “Seharusnya kamu bertanya pada dirimu sendiri—kenapa dia bisa ada di antara kita! Seharusnya dia yang jadi istriku. Bukan kamu. Kalau saja kamu tidak menjebakku!” Caleb melepas cengkeramannya sambil mendorong tubuh Willow hingga ia terhuyung ke belakang, hampir jatuh kalau saja tangannya tidak sempat berpegangan pada pinggir meja. Seumur hidup, itu yang Caleb yakini. Bahwa Willow menjebaknya. Bahwa pernikahan ini terjadi karena tipu muslihatnya. Padahal, kenyataannya jauh dari itu. Malam itu, Caleb keluar dari kamar mandi hotel dengan tubuh dibalut bau alkohol yang menyengat; langkahnya sudah tak karuan. Willow—yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi perempuan—melihatnya hampir jatuh dan refleks menolong. Caleb saat itu meminta Willow mengantarnya ke kamar. Willow pikir semuanya selesai setelah ia membantu membaringkan Caleb di tempat tidur. Ternyata justru di situlah mimpi buruknya dimulai. Dalam keadaan mabuk berat, Caleb memaksa dirinya. Willow sudah berusaha melawan—berkali-kali—tapi kekuatannya tidak pernah sebanding dengan pria itu. Caleb meniduri Willow sampai menjelang pagi. Dan begitu fajar datang, begitu kesadarannya kembali, Caleb bangun dengan amarah membabi buta… lalu menuduh Willow menjebaknya. Sejak hari itu, cerita versinya tidak pernah berubah. Meski kebenaran sama sekali tidak seperti yang ia percayai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD