Chapter 09

1214 Words
“Kamu datang?” sambut Caleb ketika melihat Willow berdiri di ambang ruang kerjanya. Nada suaranya biasa saja, nyaris datar. Sikapnya tenang, seolah kedatangan Willow bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkan. Willow melangkah masuk tanpa menjawab. Ia langsung meletakkan sebuah map di atas meja Caleb dan menunjuk satu halaman. “Aku datang untuk tanda tanganmu di sini.” Caleb akhirnya melirik sekilas. “Apa ini?” tanyanya singkat. “Perjanjian,” jawab Willow tanpa basa-basi. “Untuk?” Caleb masih belum mengangkat kepala sepenuhnya, tangannya tetap sibuk dengan dokumen lain. “Kebebasanmu.” Kata itu membuat Caleb berhenti. Ia mendongak, menatap kertas yang disodorkan Willow. Saat menyadari apa yang tertulis di sana, wajahnya langsung berubah. Tanpa peringatan, ia mendorong map itu hingga lembar-lembar kertas berserakan di lantai. “Tidak ada perceraian!” gertaknya. Tangannya mengepal di atas meja. “Aku sudah bilang, ngerti!” Willow tidak mundur. Tatapannya tetap dingin. “Kamu nggak baca?” katanya tenang. “Kamu nggak mau cerai karena takut saham dan beberapa properti jatuh padaku. Di situ sudah aku tulis jelas—aku nggak menginginkannya.” “Nggak!” Caleb menggeleng keras. “Kamu pasti punya rencana lain.” “Caleb,” suara Willow rendah tapi tegas, “kamu nggak pernah mencintaiku. Untuk apa menyiksa dirimu sendiri dengan pernikahan bodoh ini?” Wajah Caleb menegang. “Pernikahan bodoh ini kamu yang atur. Kamu yang jebak aku!” Willow menghela napas pelan. “Kamu ngomong begitu karena denial aja, kan?” Caleb terdiam. Rahangnya mengeras, tapi tidak ada satu pun bantahan yang keluar. Saat itu, pintu ruang kerja terbuka. Meisie masuk dengan langkah ragu. Willow langsung menangkap kilau kalung di leher perempuan itu—liontin yang terlalu familiar untuk dilewatkan. “Caleb, maaf…” ucap Meisie pelan. “Aku nggak tahu kamu ada tamu.” Caleb menoleh singkat. “Dia bukan tamu,” katanya. “Dia istriku. Seharusnya kamu ketuk pintu dulu.” Wajah Meisie berubah. “Maafkan aku… aku pikir—baiklah… aku akan keluar,” katanya terbata, suaranya terdengar kecil, seolah takut dan merasa bersalah. Ekspresinya tampak rapuh, hampir seperti orang yang teraniaya. “Nggak usah,” potong Caleb cepat. “Nggak apa-apa. Kamu bukan orang luar.” Willow mendengus pelan. Ia menatap Caleb, lalu Meisie, dengan sorot mata miring yang tidak lagi menyimpan pertanyaan—hanya penilaian yang dingin. Dan di ruangan itu, untuk pertama kalinya, semuanya terlihat jelas. Willow tidak langsung pergi. Ia melangkah mendekati Meisie dengan tenang. Terlalu tenang sampai membuat ruangan terasa lebih sempit. Tangannya terangkat perlahan, jari-jarinya menyentuh liontin di kalung Meisie. Sentuhannya ringan, nyaris sopan, tapi cukup untuk membuat Meisie refleks mundur dan menepis tangan Willow. Namun sudah terlambat. Willow telah melihatnya dengan jelas. “Kamu dapat dari mana kalung itu?” tanya Willow, suaranya datar, tanpa tuduhan. Caleb langsung berdiri. Kursinya bergeser kasar ke belakang. “Willow, cukup,” katanya tegas, nada suaranya menekan. “Kalau kamu mau, aku akan belikan yang lebih bagus dari itu.” Willow menoleh ke arahnya. Ada senyum tipis di bibirnya—bukan senyum senang, melainkan senyum orang yang akhirnya memahami sesuatu dengan utuh. Meisie tampak pucat. Tangannya refleks menggenggam kalung itu, seolah takut direnggut. Suaranya bergetar saat ia berbicara. “Ini cuma kalung murah,” katanya cepat. “Peninggalan keluargaku. Maaf… aku nggak bisa kasih kamu.” Willow kembali menatap Meisie. Senyumnya tidak berubah. “Aku nggak minta,” jawabnya singkat. Ia berbalik, melangkah kembali ke meja. Kertas-kertas perjanjian masih berserakan di lantai. Willow tidak memungutnya. Ia tidak lagi membutuhkan tanda tangan hari ini. Ia mengambil tasnya. “Kalau kamu berubah pikiran,” katanya pada Caleb tanpa menoleh, “kamu tahu harus ke mana.” Tanpa menunggu jawaban, Willow melangkah keluar dari ruang kerja itu. Pintu tertutup di belakangnya. Dan kali ini, ia pergi bukan karena kalah—melainkan karena tidak ada lagi yang ingin ia pertahankan. Willow baru saja menutup pintu ruang kerja itu ketika langkah cepat terdengar di belakangnya. “Willow!” Ia belum sempat berbalik ketika lengannya ditarik keras. Tubuhnya terseret ke arah tangga darurat. Pintu besi berat dibuka dengan kasar lalu dibanting menutup, menimbulkan dentuman nyaring yang memantul di ruang sempit itu. Willow menatap Meisie dengan tenang. “Nona Meisie,” ucapnya ringan, “akhirnya keluar juga sifat aslinya.” Meisie terengah, wajahnya tidak lagi menyimpan kepura-puraan. Tatapannya tajam, penuh kebencian yang sudah lama dipendam. “Kamu dulu dan sekarang sama-sama menyebalkan,” desisnya. “Aku harap kamu benar-benar pergi dari hidup Caleb. Jangan pernah kembali.” Willow tersenyum kecil. Bukan senyum menantang, lebih seperti orang yang sudah kelelahan untuk peduli. “Aku juga berharap begitu,” katanya jujur. “Masalahnya, dia nggak mau menceraikanku. Jadi… bagaimana?” Wajah Meisie mengeras. “Jangan sombong. Setelah ini dia akan menceraikanmu dengan senang hati.” “Aku harap begitu,” jawab Willow datar. Tatapan Willow turun perlahan. Berhenti di kalung di leher Meisie—liontin lumba-lumba bermata hijau itu. “Menarik,” katanya pelan. “Apakah ini kebetulan? Aku dulu punya kalung yang sama. Bahkan dengan inisial LW di belakangnya.” Ia mengangkat pandangannya. “Atau… jangan-jangan kamu yang mengambilnya dariku?” Wajah Meisie berubah seketika. Tiba-tiba ia menarik kedua tangan Willow dan menempelkannya ke lehernya sendiri, tepat di dekat kalung itu. Gerakannya cepat, terlatih. “TOLOONG!” teriak Meisie sekeras mungkin. “TOLOOOONG!” Willow tersentak. Ia berusaha menarik tangannya kembali, tapi cengkeraman Meisie kuat. Keduanya terhuyung. Dalam kekacauan itu, kaki Meisie terpeleset di anak tangga. Tubuhnya jatuh. Menggelinding. Disertai jeritan yang memekakkan. Langkah kaki berlari mendekat. “MEISIE!” Caleb muncul dalam sekejap. Pemandangan di depannya cukup untuk membuat wajahnya berubah gelap. Meisie tergeletak di tangga, meringis kesakitan. Willow berdiri terengah, wajahnya pucat. Tanpa berpikir, Caleb menerjang Willow. Tangannya mencengkeram leher Willow, mendorong tubuhnya ke dinding dingin tangga darurat. “KAMU!” teriaknya. “Kamu apakan Meisie?! Aku sudah bilang aku nggak ada apa-apa dengannya! Kenapa kamu sekejam ini?!” Napas Willow tercekik. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Caleb, berusaha bernapas. “Kamu pikir kamu sepadan dengan Lowi?” bentak Caleb, matanya merah oleh amarah. “Dia segalanya bagiku! Dasar perempuan licik!” Air mata mulai mengalir di sudut mata Willow. Napasnya terputus-putus. “Lo… wi?” desahnya nyaris tak terdengar. “JANGAN SEBUT NAMA LOWI DENGAN MULUT KOTORMU!” Caleb menggeram. “SELAMA INI PEREMPUAN YANG AKU CINTAI—DAN AKU INGINKAN—HANYA LOWI! KAMU CUMA PENGGANGGU!” Willow tersenyum. Senyum kecil, rapuh, hampir tak terlihat. Napasnya semakin tipis. Langkah kaki lain terdengar. Suara panik. Beberapa staf berlari masuk. “Pak Caleb! Berhenti!” Mereka menarik Caleb mundur dengan paksa. Cengkeraman itu terlepas. Willow terjatuh ke lantai, batuk keras, napasnya tersengal. Caleb tersadar akan Meisie yang menangis kesakitan. Tanpa menoleh lagi pada Willow, ia berlari, mengangkat tubuh Meisie dengan panik. “Aku di sini. Aku bawa kamu ke rumah sakit,” katanya tergesa. Mereka pergi. Willow terduduk di lantai dingin. Beberapa staf mendekat, mencoba membantu. “Nyonya, Anda baik-baik saja?” Willow mengangkat tangan, menolak. Ia menarik napas panjang, meski dadanya masih perih. Ia tersenyum sinis, matanya kosong menatap ke arah tangga tempat Caleb menghilang. “Jadi selama ini yang kamu cintai Lowi?” Willow tersenyum tipis. “Pantas saja aku selalu salah.” Hanya sebuah fakta yang akhirnya jelas—dan tidak lagi menyakitkan karena sudah terlalu lama ia rasakan. Kira-kira bagaimana kalau Caleb tahu kalau Lowi adalah dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD