Siang ini, Zhavi makan di kantin kantor seperti biasa, bersama rekan-rekan kerjanya. Meja panjang itu telah terisi beberapa pria dan wanita yang merupakan teman satu divisi Zhavi.
“Tumben banget telat Zhav, biasanya dateng paling awal di antara kita,” ujar salah satu teman pria Zhavi.
“Tahu nih, meeting aja telat, untung pak bos belum datang,” celetuk temannya yang perempuan.
Zhavi menyuap makanannya, dia hanya mengangguk pelan, “ya biar keliatan kayak manusia beneran,” kekeh Zhavi membuat dirinya ditinju pelan oleh rekan di sampingnya.
“Kalian ada info lowongan kerja enggak ya?” tanya Zhavi.
“Heh! Sudah mau diangkat manager umum, malah mau cari kerjaan lain kamu,” cebik rekan lainnya.
“Bukan buat aku,” protes Zhavi, “ada temenku, cewek, dari lulus kuliah belum kerja, usianya sekitar 29 lah sekarang, mau coba kerja,” imbuhnya.
“Ciee, temen apa demen?” goda yang lain membuat Zhavi tertawa.
“Gaji UMR enggak apa-apa lah atau di bawahnya sedikit mungkin aman, kabarin ya,” ucap Zhavi.
“Ya nanti dicariin,” ucap teman lainnya. Zhavi berterima kasih sesaat, hingga seorang wanita berkaca mata, yang memakai kemeja putih salur menatapnya lekat. Dia menunduk lalu melanjutkan makannya. Sementara teman perempuan sampingnya menowel punggungnya seolah memberi kode.
Setelah makan, Zhavi menghampiri teman-temannya di luar gedung kantor, mereka biasanya duduk sambil merokok di bawah pohon, di bangku dari cor-an yang melingkari pohon besar itu. Hanya Zhavi yang tidak merokok, dia memilih meneguk kopi dari kemasan kaleng tersebut.
“Mukanya ditekuk terus?” ujar Aldi, teman Zhavi. Pria yang sudah menikah tahun lalu itu memang terlihat segar setiap hari. Dia berkata kehidupan pernikahannya bahagia seperti yang dia impikan.
Berbeda dengan teman lainnya, Panji. Dia baru ditinggal istrinya beberapa bulan lalu karena istrinya berselingkuh dengan teman sekolahnya dulu. Meninggalkan dua anak bersamanya yang kini dirawat orang tuanya. “Tahu kayak orang habis cerai aja?” gerutu Panji membuat Zhavi mendengus.
“Itu mah kamu,” sungutnya yang membuat teman lainnya tertawa, termasuk Panji.
Kedua orang itu bisa dibilang paling dekat dengan Zhavi di lingkungan kantor, terutama Aldi yang memang juga teman kuliah Zhavi dulu.
“Ingat Keizara enggak Al? dulu pernah kukenalin deh pas kita futsal,” ucap Zhavi. Aldi mengernyitkan keningnya.
“Kayaknya ingat, yang manis itu kan? Tetangga kamu bukan ya?” ucap Aldi. Zhavi mengangguk.
“Dia baru bercerai sama suaminya,” ucap Zhavi seraya menghela napas panjang, “hidupnya enggak mudah, dan dia lagi cari kerja. Dia minim pengalaman sih, tapi kurasa dia punya tekad kuat,” imbuh Zhavi.
“Nanti kutanya istriku deh Zhav, kemarin sih katanya di tempat kerjanya buka lowongan, tapi ya kamu tahu gajinya enggak gede, namanya juga toko bahan bangunan kecil,” ucap Aldi.
“Ya enggak apa-apa Al, yang penting dia kerja dulu,” ucap Zhavi.
Panji menepuk bahunya, “nikahin aja Zhav, biayain, kayaknya dia enggak cuma teman buat kamu,” usul Panji.
Zhavi menunduk, menggoyang kaleng kopinya, dia menghela napas panjang.
“Pasti ibu kamu ya?” tanya Panji. Zhavi mengangguk pelan.
“Susah dia tuh,” ucap Zhavi.
“Sebenarnya ... laki-laki enggak wajib sih dapat restu dari orang tua, beda sama perempuan,” ujar Panji.
“Iya tahu, tapi tetap saja, aku anak tunggal. Lebih enak kalau dapat restu kan, jadi ke depannya juga aman.”
Kedua teman Zhavi terdiam, menyetujui ucapan Zhavi namun mereka juga merasa kasihan. Di usianya yang hampir menginjak kepala 3, Zhavi bahkan belum mengenalkan satu pun wanita pada orang tuanya, karena selera ibunya yang menurutnya terkadang terlalu di atas. Ibunya benar-benar memperhatikan asal muasal wanita yang harus menjadi istri dari anaknya. Terkadang ibunya terlalu percaya mitos.
Seharian itu Zhavi bekerja dengan tidak bersemangat seperti biasanya. Bahkan dia pulang tepat waktu seolah tak menunjukkan loyalitasnya. Dia hanya ingin sampai di rumah cepat dan mengkonfrontasi ibunya tentang yang dibicarakan tadi.
Akan tetapi secepat apa pun Zhavi pulang, rupanya dia tak bisa langsung menemui ibunya. Wanita itu tidur lebih awal, entah pura-pura atau apa? Sebagai anak yang berbakti, Zhavi tak tega untuk membangunkannya.
Setelah mandi, dia duduk di teras lantai dua. Memandangi ponselnya, pesannya yang dikirim ke Keizara belum dibaca, bahkan sejak satu jam lalu. Centang itu masih berwarna abu-abu.
Zhavi berkali-kali menghela napas, baru lah kemudian dia mendengar suara notifikasi dari Keizara.
“Boleh telepon, Caca sudah tidur kok,” balas Keizara saat Zhavi bertanya apakah dia boleh meneleponnya.
Tanpa menunggu waktu lama Zhavi langsung menelepon Keizara. Panggilan itu pun dengan cepat tersambung.
“Kei,” sapa Zhavi.
“Iya, Zhav,” ucap Keizara dari seberang sana, ada nada lelah di suaranya dan dia seperti sedikit mendesah mungkin dia mengambil posisi rebahan sekarang.
“Kamu lagi apa?” tanya Zhavi.
“Baru selesai bantu laundry kak Kina,” jawab Keizara.
“Bagaimana hari ini? Capek ya?”
“Lumayan Zhav, belajar nge-laundry,” kekeh Keizara. Zhavi merasakan perasaan yang gamang.
“Kamu yakin baik-baik aja?” tanyanya.
Keizara menoleh, menatap Syakira yang tertidur pulas, dia kemudian melihat langit-langit kamar. Pikirannya melayang jauh, pada kegiatan sehari ini yang menguras tenaganya.
“Baik kok,” ucapnya berbohong, matanya sedikit memanas.
Dia sungguh kecapekan di hari pertama di rumah ini. Dia menyetrika cukup banyak, uap panas membuat wajahnya memerah. Dia bahkan telat memandikan Syakira, untungnya dia masih bisa mencuri waktu menyuapi anaknya makanan yang pagi tadi dibeli oleh Zhavi yang sempat dia sisihkan untuk Syakira.
“Jangan bohong,” ucap Zhavi. Keizara terdiam seolah Zhavi bisa melihat semuanya meski dari jauh. Dia menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya.
“Aku beneran di sini, aman,” tutur Keizara.
“Kamu boleh cerita apa aja sama aku kok, Kei,” ucap Zhavi. Keizara hanya terkekeh, menutupi kegetirannya.
“Dan maaf,” ucap Zavi.
“Untuk?”
“Aku baru tahu dulu ibuku ... meminta kamu menjauhiku,” ucap Zhavi seraya menunduk.
“Itu sudah lama banget, dan kurasa bukan itu kok maksud ibu kamu. Dia mungkin enggak suka kalau aku bawa pengaruh negatif atau ngerepotin kamu terus,” kekeh Keizara.
“Kei,” panggil Zhavi.
“Hmmm?”
“Aku ingin bisa kamu andalkan, kamu repotkan setiap waktu, aku enggak masalah.”
“Aku justru ingin mandiri Zhav.”
“Aku tahu kamu kuat, tapi ... kamu bisa bersandar sama aku,” ucap Zhavi. Keizara mengangguk, lalu dia menyadari Zhavi mungkin tak bisa melihatnya menganggukkan kepala.
“Iya, nanti kalau aku butuh, aku hubungi kamu. Kamu akan jadi orang pertama yang aku hubungi.”
“Janji?”
“Iya, janji,” ucap Keizara. Zhavi tersenyum, ada kelegaan yang terasa meski tak lega sepenuhnya karena dia belum bicara dengan ibunya.
Malam itu setelah berbincang lebih dari 30 menit, mereka pun memutuskan panggilan itu. Zhavi merasa hatinya menghangat, meski jarak memisahkan mereka lagi, namun ... hubungan mereka akan tetap dekat. Dan entah mengapa Zhavi merasa tak ingin kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya!
Karena itu ... keesokan paginya, saat sarapan Zhavi sengaja turun lebih awal. Ibunya seolah tak mau menatap mata sang putra.
“Bu, aku masih menunggu penjelasan lho,” ucap Zhavi.
“Penjelasan apa?” tanya ibunya acuh.
Zhavi menarik napas panjang, menoleh ke arah ayahnya yang tampak santai, “Ibu ... dulu beneran nyuruh Kei jauhin aku?”
“Iya, kenapa?” jawab sang ibu dengan ketus.
“Kok kenapa? Aku yang harusnya tanya, kenapa?”
“Ya kalian enggak satu suku. Gitu aja kok tanya, repot deh.”
“Bu,” ujar Zhavi menggenggam erat sendok di tangannya, “please stop mencari yang satu suku, aku sudah coba dekat sama cewek-cewek yang sedaerah sama kita. Tapi apa? Gagal terus. Apa ibu mau anaknya jadi bujang lapuk?”
“Husshhh! Ngomong sembarangan!” cebik sang ibu. Sementara ayahnya tetap saja santai menikmati sarapan seolah apa yang dibicarakan ibu dan anak ini bukanlah sesuatu hal yang penting.
“Ya habisan ibunya sih. Makanya stop Bu, aku bisa kok cari istri sendiri. Aku tahu mana perempuan yang baik untuk aku.”
“Oke. Tapi bukan janda itu.”
“Bu!”
“Tuh lihat Yah! Anaknya sudah bentak-bentak!” decih ibu Zhavi.
“Bukan bentak,” ucap ayah Zhavi, “tapi dia mempertahankan pendapatnya. Sudah lah Bu, dia sudah tua, sudah tahu mana yang baik dan buruk untuk hidupnya.”
“Kalian berdua sama aja!” rutuk sang ibu, “sekarang gini aja, kamu ketemu sama anak teman ibu dulu. Kalau memang enggak cocok, terserah ibu ikut pilihan kamu. Tapi jangan pura-pura enggak cocok lho! Kamu jalani dulu!”
Zhavi memejamkan mata beberapa detik, “masa harus coba-coba untuk jodoh Bu, memang enggak kasihan perasaan orang dimainin?”
“Ya makanya ketemu dulu!”
Zhavi menoleh ke arah ayahnya yang sudah menganggukan kepala, “ya sudah tapi ibu janji ya, kalau aku enggak bisa sama perempuan itu, ibu harus restuin aku sama siapa pun termasuk sama Keizara!”
Ibunya hanya berdehem.
“Janji Bu,” ujar Zhavi.
“Iya iya, ibu janji!” gumam ibu Zhavi. Zhavi hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
“Kapan aku bisa ketemu dia?”
“Minggu ini, ikut acara arisan di rumahnya,” tukas sang ibu, dan Zhavi dengan mudahnya menyetujui. Tanpa dia tahu wanita yang akan dijodohkan itu siapa?
***