Bab 3 🍇

750 Words
"Kamu sengaja mau merusak acara keluarga, Ave?!" Suara bentakan Darius menggelegar begitu Ave melangkah kembali ke dalam area lounge hotel. Pria itu berdiri bersama Ratika dan Utami, menatap Ave seolah gadis itu baru saja melakukan kejahatan besar. "Aku nggak merusak apa-apa, Yah," bisik Ave pelan, menahan gemetar di kakinya. "Nggak merusak katamu?!" Darius mendekat, matanya menatap tajam. "Kamu bikin keributan sama Utami dan Naldo di koridor! Mau ditaruh dimana muka Ayah kalau ada kolega bisnis yang lihat?!" "Aku cuma minta kejujuran dari Naldo, Yah. Apa itu salah?" "Tentu saja salah kalau kamu menuduh tanpa bukti!" sela Ratika dengan nada dramatis. "Utami cuma mau ngobrol soal pekerjaan sama Naldo, Ave. Kenapa pikiranmu jelek sekali sama saudaramu sendiri?" "Pekerjaan?" Ave tertawa pahit. "Pekerjaan apa sampai harus kirim pesan tengah malam dan ketemu di ruang rias?" "Cukup, Ave!" bentak Darius keras. "Kamu benar-benar tidak tahu diri. Utami itu mengurus perusahaan, dia wajar punya urusan penting. Jangan samakan dia dengan kamu yang cuma bisa bikin malu!" Utami melangkah mendekat sambil membawa sebuah gelas berkilau. Wajahnya memasang ekspresi sangat prihatin. "Sudah, Yah ... jangan dimarahi lagi. Mungkin Ave cuma kecapekan dan kebetulan emosinya lagi stabil. Ini, Ave ... minum dulu biar tenang,” ujar Utami. Ave menatap gelas yang diulurkan Utami. "Aku nggak butuh." "Minum, Avena!" perintah Darius tegas tanpa bantahan. "Kakakmu sudah baik hati peduli sama kamu, jangan makin menunjukkan kelakuanmu yang tidak sopan itu!" Tangan Ave terulur dengan enggan. Ia menerima gelas itu di bawah tatapan menuntut sang ayah. "Minum sampai habis, biar kepalamu dingin," bujuk Utami halus, dengan sudut bibir yang menyunggingkan senyum tipis yang tak disadari siapa pun. Tanpa curiga, Ave meminum cairan dalam gelas itu hingga tandas. "Sudah, kan? Aku mau pulang sekarang." "Kamu nggak bisa pulang sendirian dengan keadaan emosi begini," sahut Ratika cepat. "Ibu sudah pesankan kamar di lantai atas buat kamu istirahat malam ini. Kuncinya ada di meja resepsionis." "Aku mau pulang ke rumah Ibu," tolak Ave tegas. "Jangan bawa-bawa wanita itu di depan Ayah!" potong Darius dingin. "Masuk ke kamar hotel yang sudah disiapkan, atau Ayah tidak akan pernah mau mengakui kamu sebagai anak lagi!" Ancaman itu menyumbat tenggorokan Ave. Dengan d**a sesak, ia berbalik meninggalkan mereka. Namun, baru beberapa langkah menuju elevator, tubuh Ave mendadak terasa aneh. Jantungnya berdegup sangat kencang, pandangannya mulai kabur, dan gelombang panas yang membakar merambat dari d**a ke seluruh tubuhnya. “Ada yang salah ... obat apa yang diminumkan Utami tadi?” pikir Ave panik sambil mencengkeram dinding. Dengan sisa kesadarannya, Ave terseret masuk ke dalam elevator. Tubuhnya makin panas, napasnya memburu, dan kesadarannya berada di ambang batas. Saat pintu elevator terbuka di lantai lima, koridor tampak sepi dan remang-remang. Ave berjalan sempoyongan mencari kamarnya, hingga tiba-tiba ... Brak! Seseorang berbadan tegap keluar dari pintu darurat dan menabraknya keras. Ave hampir terjatuh, namun lengan kekar pria itu menangkap pinggangnya dengan cekatan. "Ssshh ... diam kalau mau selamat," bisik suara pria itu di telinga Ave. Ave mendongak dalam samar. Suara ini ... suara berat dan dalam yang sama persis dengan pria di telepon tadi! Napas pria itu memburu, aroma cologne mahal bercampur dengan bau amis darah yang menyengat menembus indra penciuman Ave. Pria itu memakai kemeja hitam yang kini koyak dan basah oleh darah segar di bagian d**a. "K-kamu ... bersimbah darah ..." bisik Ave dengan napas yang makin memburu akibat pengaruh obat yang membakar tubuhnya. "Pergi dari sini, Nona. Orang-orangku ... dan musuhku sedang menuju ke mari," geram pria itu, berusaha mendorong Ave menjauh meski tubuhnya sendiri mulai oleng. Tepat saat itu, suara derap langkah kaki yang tegap dan riuh terdengar dari ujung koridor. "Cari dia sampai ketemu! Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup dari hotel ini!" seru suara asing dari kejauhan. Pria itu menegang. Namun sebelum ia sempat bergerak, Ave yang sedang berada di bawah pengaruh obat dan didorong oleh naluri aneh, justru menarik paksa lengan pria itu menuju kamar terdekat. "Masuk ke dalam ... sekarang!" bisik Ave panik, menempelkan kartu akses kamar ke pintu. Pria bernama Lucien itu menatap Ave dengan manik mata gelapnya yang sangat tajam dan intimidatif. "Kamu tahu siapa yang baru saja kamu tolong, Gadis Kecil?" "Aku tak peduli," lirih Ave. Tubuhnya sudah sepenuhnya dikuasai oleh panas obat yang membakar, membuatnya bertindak di luar kendali. "Tutup pintunya ... cepat!" Brak! Pintu kamar hotel terkunci rapat dari dalam. Di dalam kegelapan kamar yang minim cahaya, napas keduanya bersahutan, pria asing yang penuh luka mematikan, dan gadis yang terkunci bersama hasrat gila akibat pengaruh obat. Dan, tepat di balik pintu, suara langkah musuh-musuh pria itu terdengar makin mendekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD