Bab 2 πŸ‡

882 Words
"Apa yang lagi kamu lakukan di sini, Naldo?" Langkah Naldo langsung terhenti, wajahnya berubah kaku saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. "A-Ave?" Ave berdiri beberapa meter di belakangnya, matanya masih sembab karena menangis, namun kali ini bukan kesedihan yang terlihat di sana, melainkan kecurigaan. "Aku yang harusnya tanya." Ave melipat kedua tangan di d**a. "Kamu mau ke mana?" Naldo cepat-cepat menyimpan ponselnya. "Nggak ke mana-mana." "Bohong." "Ave." "Kamu habis dapat pesan dari siapa?" tanya Ave. Naldo menelan ludah. "Teman." "Teman?" "Iya, Ave,” angguk Naldo. Ave menatap lurus ke mata pria itu. "Teman yang bernama Utami?" Wajah Naldo langsung pucat. "Ave, dengar dulu." "Mau dengar apa?" tanya Ave menatap Naldo dengan tatapan penuh pertanyaan. "Bukan seperti yang kamu pikirkan,” jawab Naldo. "Oh ya?" Ave tertawa kecil. Tawa yang terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. "Kalau memang bukan apa yang kupikirkan, kenapa wajahmu kayak orang ketahuan maling?" "Ave,” ucap Naldo. "Aku lihat sendiri." Naldo mulai panik. "Kamu lihat apa?" "Pesan di ponselmu. Utami nyuruh kamu ke ruang rias." Naldo terdiam, untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran, Ave melihat ketakutan di wajah pria itu dan entah kenapa, perasaan Ave ikut tenggelam. Karena ketakutan itu terasa seperti pengakuan. "Ave, kamu salah paham,” geleng Naldo berusaha menjelaskan. "Aku belum nuduh apa-apa." "Kalau gitu kenapa marah?" "Karena kamu bohong, Do.” Naldo mengusap wajahnya frustasi. "Aku cumaβ€”" "Cuma apa?" Ave mendesah napas halus. "Aku mau ngomong sesuatu,” jawab Naldo. "Ya, ngomong.” Naldo membuka mulut, lalu menutupnya lagi dan Ave menunggu, namun tak ada satu kata pun keluar. Hingga akhirnya gadis itu tersenyum pahit. "Oke,” angguk Ave. "Ave.” "Nggak usah dijelasin,” ujar Ave. "Aku bisa lihat sendiri." "Ave, tunggu." Naldo mencoba meraih tangannya, namun Ave langsung menghindar. "Jangan sentuh aku." Kalimat itu membuat Naldo membeku. Selama dua tahun pacaran, belum pernah Ave bicara seperti itu. "Ave?" Suara lain tiba-tiba terdengar, Utami muncul dari ujung koridor, gaun merahnya masih terlihat sempurna. Sementara senyum di wajahnya langsung menghilang begitu melihat Ave dan Naldo berdiri bersama. "Oh. Aku ganggu ya?" tanya Utami. Ave menatap saudari tirinya itu. "Nggak, kami juga baru selesai ngobrol." Utami melirik Naldo, tatapan yang singkat, namun cukup untuk membuat hati Ave makin tidak nyaman. "Aku lagi nyari kamu, Naldo,” ujar Utami. Jantung Ave berdebar. Nyari? Kenapa harus nyari Naldo? Bukankah Naldo pacarnya? Bukankah seharusnya yang dicari adalah dirinya? "Ada apa?" tanya Naldo pelan. "Kamu lupa?" Utami tersenyum. "Lupa apa?” Utami tersenyum tipis. "Janji kita." Ave merasa dadanya ditusuk sesuatu. Janji? Janji apa? Dan, sejak kapan mereka punya janji? "Oke." Ave mengangguk pelan. "Aku ngerti sekarang." "Ave, bukan begitu,” geleng Naldo. "Lalu bagaimana?" Naldo terlihat kehilangan kata-kata. Sementara, Utami justru tampak santai. "Ave." Utami melangkah mendekat."Kamu terlalu sensitif." "Aku sensitif?" Ave membulatkan mata. "Iya, kita kan cuma teman.” Utami tidak peduli. Ave tertawa kecil. "Teman?" "Kenapa?" "Kak Utami sering kirim pesan tengah malam ke semua teman cowokmu?" Utami langsung terdiam. "Naldo juga temanku." "Pacarku,” ujar Ave. "Kalian belum nikah juga kok.” Ave menatap saudari tirinya tak percaya, kalimat itu terdengar sederhana, namun maknanya sangat jelas. "Aku capek. Sumpah aku capek." "Ave.." "Kalian lanjut aja,” ujar Utami. Ave itu berbalik, namun sebelum pergi, ia kembali menatap Naldo. "Kalau memang ada sesuatu, lebih baik bilang sekarang." "Nggak ada apa-apa." "Yakin?" tanya Ave. Naldo tidak menjawab dan itu sudah cukup. Ave berjalan cepat meninggalkan koridor, air mata kembali memenuhi matanya, ia tidak ingin menangis. Tapi, malam ini seolah semua orang berlomba-lomba menghancurkan hatinya. Ayahnya, Ratika, Utami dan sekarang … Naldo. Pria yang selama ini ia percaya. "Ave!" Naldo kembali mengejarnya. "Tunggu." "Apa lagi, Do?” tanya Ave. "Aku bisa jelasin,” lirih Naldo. "Silakan." Naldo membuka mulut, namun lagi-lagi tidak ada penjelasan, alasan dan bantahan, ia hanya diam. Ave mengangguk perlahan. "Ya udah." "Ave.." "Diammu udah cukup jadi jawaban,” ujar Ave mendesah napas halus. Kalimat itu membuat Naldo seperti kehilangan tenaga. Sementara itu, di dalam ruang rias, Utami berdiri di depan cermin. Ratika masuk sambil menutup pintu. "Gimana?" tanya Ratika. Utami tersenyum. β€œKayaknya Ave mulai curiga." Ratika tertawa kecil. "Bagus." "Tapi, Naldo masih ragu-ragu." "Biarkan." Ratika memperbaiki kalung putrinya. "Laki-laki itu gampang, Sayang, asal kamu tahu cara mengikatnya." Utami tersenyum puas. "Sebentar lagi dia bakal milikku sepenuhnya, Ma." Ratika mengangguk. "Memang seharusnya begitu. Ave nggak pantas dapat apa pun.” *** Di parkiran hotel, Ave berdiri sendirian, ia menatap langit malam, mencoba mengatur napas. Ponselnya bergetar. Nama Naldo muncul di layar. Beberapa kali dan Ave mematikannya. Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan dari Naldo, nomor tak dikenal. Ave mengernyit. Siapa yang menelepon malam-malam begini? Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu. "Halo?" Tapi anehnya tak ada jawaban. "Halo?" Masih hening. Ave hendak memutus sambungan. Namun tiba-tiba suara pria asing terdengar dari seberang. "Jangan tutup teleponnya." Ave membeku, suara itu terdengar berat, dalam dan entah kenapa membuat bulu kuduknya berdiri. "Siapa ini?" Pria itu terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, "Aku rasa ... kamu dalam bahaya." Deg! Jantung Ave langsung berdebar keras. "Siapa kamu?" Namun sebelum pria itu menjawab, terdengar suara benturan keras dari seberang telepon, disusul suara tembakan. Dor! Sambungan langsung terputus dan Ave hanya bisa menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar, karena ia sama sekali tidak tahu bahwa panggilan misterius itu akan menjadi awal dari kekacauan terbesar dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD