Pukul 09:30 pagi.Suara ribut di teras sudah makin ramai—tawa Dika yang konyol, ketawa kecil Budi yang goyang-goyang badan, sarkas Tito, dan protes manja Cici-Vita yang mulai luluh. Gorengan sudah dibagi, teh panas sudah diminum, cerita kecil pasar sudah diceritain berkali-kali dengan tambah-tambah lucu dari Dika.Di kamar, Revan akhirnya terbangun pelan karena ribut makin keras. Mata berkerut karena cahaya pagi yang masuk celah dinding, telinga menangkap suara familiar rusuh dari teras. (Dia menguap lebar, badan masih pegal dari ronda malam, tapi sudut bibir naik kecil.) Itu Dika lagi... Duh pagi-pagi udah ribut. Berisik banget.Revan bangun duduk, gosok mata, badan masih sarung tipis doang tanpa kaos dalam. Efek baru bangun tidur pulas plus malam capek, bagian bawahnya ngaceng kenceng tanpa

