Pukul 10:45 pagi.Matahari sudah naik tinggi, sinarnya terik menusuk kulit meski angin gunung masih berhembus pelan dari utara. Jalan tanah merah menuju rumah Pak Junaedi terasa berdebu dan panjang, sawah kiri-kanan sudah mulai hijau muda, burung gereja beterbangan ribut.Revan jalan dengan bahu pegal karena tangga bambu panjang digantung di pundak kanan, tas perkakas berat di tangan kiri. Keringat mulai menetes di pelipis, kaos oblongnya basah di punggung. (Langkahnya agak lambat karena beban, tapi hati ringan—lima puluh ribu menanti.)Ayu melayang santai di sampingnya, kaki telanjang nggak nyentuh tanah, kebaya sutra hijau tipisnya bergoyang mengikuti angin. Rambut hitam panjangnya tergerai, mata hijau zamrudnya nggak lepas dari Revan, senyum kecil selalu mengintip di bibir.Revan sesekali m

