Bab 2. Alat Pembayar Utang

1106 Words
Victoria membeku di bawah tatapan pria itu. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan tiba-tiba hadir menyentil hatinya. Jadi, beginikah rasanya jika berhadapan langsung dengan keluarga De Luca? Sang Penguasa Palermo? "Ma-afkan putriku, Tuan De Luca," ujar Victor terbata, setelah mendengar sindiran Armand tadi. "Biasanya Victoria tidak seperti ini, dia juga seorang penulis buku terkenal." "Aku tahu." Armand menjawab dengan nada dingin, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Victoria. "Aku ingat kau pernah berkata kalau putrimu ini selalu bertingkah layaknya seorang wanita terhormat. Lalu apa yang kulihat sekarang, Victor?" "Aku melakukan apapun yang kuinginkan dalam batas-batas tertentu," sahut Victoria cepat sebelum ayahnya sempat membuka mulutnya. "Dan maaf, Papa tidak pernah memberitahuku kalau Anda akan berkunjung ke sini, Tuan De Luca." Dengan berani ia membalas tatapan pria itu, mengabaikan rasa takut yang tersirat di wajah ayahnya. "Oh?" Kedua alis Armand sontak terangkat naik. Pria ini bahkan beranjak dari sofa lalu melangkah menghampiri Victoria. "Apa kau tahu berapa utang Ayahmu padaku?" "Itu bukan urusanku," balas Victoria. Armand memicingkan matanya, "tidak. Sekarang itu adalah urusanmu. Karena Ayahmu telah memberikanmu padaku sebagai pelunas utangnya." Dada Victoria terasa sesak mendengar kenyataan pahit itu, meskipun semalam ia sudah mendengar sendiri dari racauan ayahnya. "Aku ini seorang wanita bebas, Tuan De Luca. Bukan alat untuk pembayar utang." "Diamlah, Victoria," tukas Victor cemas, takut jika Armand akan marah karena ucapan putrinya tadi. Tapi tidak, pria itu justru melemparkan tatapan kejam padanya. Dan Victor mengerti, sangat mengerti apa arti tatapan Armand itu. "Kau beruntung karena putrimu cantik, Victor. Nama keluargamu bersih, dan status bangsawanmu cukup dihormati. Jika tidak, aku akan menagih utangmu dengan nyawamu sebagai gantinya." Usai berbicara dengan Victor, pria ini kembali menatap Victoria. "Siang ini kita akan menikah, kalau kau mencoba kabur dari pernikahan ini ... maka aku akan membunuh semua yang tinggal di rumah ini termasuk Ayahmu. Kemudian ...." Armand mencengkeram dagu wanita itu dengan tangannya. Dan mengangkat wajah Victoria agar menatap matanya. "Aku akan mengejarmu. Kau tidak akan menyukai apa yang akan kulakukan jika aku sampai menemukanmu nanti." Ia menghempaskan wajah wanita itu, membuat Victoria terhuyung ke samping. 'Dasar wanita lemah!' batinnya. Andai ia tak membutuhkan wanita seperti Victoria untuk menutupi sebagian kejahatannya, Armand juga tak ingin menikahi wanita ini. "Dua jam lagi akan ada seseorang yang menjemputmu ke sini. Jadi sebaiknya bersihkan tubuhmu itu terlebih dahulu dari bau busuk lelaki lain yang tertinggal di sana. Aku ingin kau menjadi istriku yang bisa menjaga martabatku, tanpa ada rumor murahan yang mengikuti di belakangmu. Selamat pagi." Pria ini langsung pergi setelahnya, diikuti oleh bawahannya yang menyusul di belakangnya. Lutut Victoria goyah dan terasa lemas saat mendengar pintu rumahnya yang ditutup dengan cara dibanting keras. Semakin tak berdaya ketika melihat ayahnya yang tampak gemetar di sofa. Sudah seringkali ia menasehati ayahnya itu agar berhenti berjudi. Apalagi melakukannya di Kasino milik keluarga De Luca yang terkenal sangat licik. Namun ayahnya itu tidak pernah mau mendengarkan ucapannya hingga semua ini terjadi. "Maafkan Papa, Vic." Victoria langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat agar ayahnya tidak lagi meneruskan ucapannya. Ia sudah bosan, oke? Setiap kali berbuat salah, yang bisa ayahnya itu lakukan hanyalah meminta maaf padanya. Dan keesokan harinya, ayahnya akan kembali melakukan kesalahan yang sama. "Aku lelah, Papa. Lagipula aku harus segera bersiap agar aku tidak kehilangan Papa, bukan?" Ia mencoba tersenyum, tetapi terasa getir, dengan tubuhnya yang bahkan tidak berhenti gemetar sejak tadi. Victor hanya menatap putri semata wayangnya itu, yang seharusnya ia lindungi sejak istrinya pergi meninggalkan mereka. Namun ia justru jatuh ke dalam arena judi demi melupakan mendiang istrinya, yang kini malah membuat putrinya harus mengorbankan masa depannya. "Oh, Vic." Victoria meninggalkan ayahnya itu, dengan langkah gontai menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya. *** Siang harinya, mansion besar milik Armand De Luca menyambut kedatangan Victoria dengan tidak bersahabat usai Armand menikahinya di catatan sipil. Tidak ada pesta, tidak ada tamu undangan. Hanya tatapan para pelayan serta para bawahan pria itu yang memandang rendah dirinya. Dan suara derap sepatu yang bergesekan dengan lantai marmer. Yang mengantar Victoria ke dalam kamar yang akan ia tempati di rumah ini. Di sana, ia menatap pantulan dirinya di cermin seukuran tubuhnya. Hari ini ia mengenakan gaun putih sederhana. Terlalu sederhana untuk keluarga bangsawan, namun mewah bagi masyarakat biasa. Gaun yang sengaja dipilihkan Armand untuknya. Matanya terlihat sembab gara-gara terlalu banyak menangis di kamar mandi tiga jam yang lalu. Walau sudah lama, bengkak itu masih tampak di sana. Armand menyadarinya saat mereka berada di catatan sipil. Tapi pria itu hanya diam tanpa mengatakan apapun padanya. Di tengah lamunannya itu, tiba-tiba pintu kamar tempat ia berada—terbuka. Armand masuk, pria itu tidak mengenakan jas pengantin. Hanya setelan hitam biasa, seperti akan menghadiri rapat bisnis. "Gaun itu cocok untukmu." Cocok? Victoria rasanya ingin menjerit, berteriak, atau memaki pria itu yang telah menghina dirinya. Naasnya, semua itu hanya bisa ia lakukan di dalam hati tanpa bisa ia ungkapkan. "Kau sudah tahu 'kan aturan di rumah ini?" lanjut Armand sambil membuka jasnya. "Walau kita sudah menikah, kita tidak akan saling menyentuh kecuali diperlukan." Diperlukan? Victoria meringis dalam hati. "Ingat, pernikahan kita hanya pernikahan di atas kertas. Yang perlu kau lakukan hanyalah tinggal di rumah ini. Dan aku akan membebaskan Ayahmu dari semua utangnya padaku." Armand diam sejenak, mengamati wajah Victoria yang terus bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya. "Sebagai gantinya, kau harus menjaga reputasiku." "Dengan menjadi istri yang patuh?" ucap Victoria lirih. Ia bukan sedang bertanya, melainkan menyindir pria itu. "Tidak, aku hanya ingin kau menjadi istri yang tidak memalukan." Armand segera mengoreksi. Lalu mendekat satu langkah. Kemudian berhenti. "Aku tidak peduli dengan semua yang pernah kau lakukan sebelum kita menikah. Tapi mulai hari ini—" "Tubuh dan hidupku adalah milikmu?" potong Victoria. Armand menatap wanita itu lama, dan menggeleng setelahnya. "Tidak," katanya akhirnya. "Kau salah jika berpikir kalau aku akan tertarik pada tubuh yang telah disentuh oleh lelaki lain." Kalimat itu seharusnya melegakan bagi Victoria. Namun entah mengapa ia justru merasa sakit hati. Karena itu berarti ... Armand telah menolaknya sebab pria itu menganggapnya sebagai w************n. Setelah menyakitinya, dengan santai pria itu pergi menuju pintu kamar. "Untuk seterusnya kau akan tidur di sini, sendiri! Besok pagi, kau akan bangun sebagai Nyonya De Luca. Belajarlah untuk bersikap sesuai nama itu mulai sekarang." Pintu tertutup tak lama kemudian. Menyisakan Victoria yang terduduk di tepi ranjang besar. Sprei putih bersih yang menutupi ranjang itu terasa dingin, seperti kehidupan pernikahannya yang kelak akan ia lalui. Dengan lemas Victoria melepaskan sepatunya. Setelah itu menatap cincin yang telah disematkan Armand di jari manisnya. Cincin yang telah mengikatnya dalam sebuah pernikahan tanpa cinta. Victoria tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan, mungkin saja sampai kewarasannya terkikis perlahan. "Oh, Mama. Bantu aku," bisiknya lirih sembari melemparkan pandangannya keluar jendela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD