Malam harinya, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamar Victoria.
"Nyonya De Luca, sudah saatnya Anda untuk makan malam."
Suara itu, Victoria telah mengenalnya. Marco Bellini, tangan kanan Armand, yang ditugaskan untuk mengawasi dirinya dan mengikutinya ke mana pun.
Dari kursi panjang yang terdapat di bagian dalam kamar ... kursi yang menyatu dengan jendela kaca lebar, ia menatap pintu itu selama beberapa saat hingga suara Marco berganti dengan ketukan.
Tok! Tok!
"Nyonya De Luca, tolong jangan mempersulit saya!"
Victoria menghela napas lalu beranjak dari kursi tersebut. Melangkah ke arah pintu kamarnya yang sengaja ia kunci dari dalam. Setelah itu ia mengulurkan tangan untuk membuka pintu itu, menarik gagangnya ke bawah, kemudian melongokkan kepalanya.
"Apa suamiku akan makan bersama?" tanyanya.
Pria berwajah kasar yang berdiri di hadapan Victoria saat ini—mengangkat kedua alisnya. "Tidak, Nyonya." Marco menggeleng tegas, "Tuan jarang makan di rumah kecuali sarapan pagi. Karena Tuan harus menemani Nona Isabel."
"Isabel?" ulang Victoria, keningnya mengernyit saat ia mengucapkan pertanyaan itu. "Siapa dia?"
Marco berpikir sejenak, lalu menggedikkan pundaknya. "Tadinya saya tidak ingin mengatakan hal ini pada Anda, Nyonya De Luca. Tapi ... mungkin akan lebih baik jika Anda mengetahuinya sekarang." Sesaat, ia menarik napas sebelum melanjutkan lagi ucapannya itu. "Nona Isabel, atau Isabella Romano, adalah kekasih Tuan Armand."
Victoria terhenyak dengan mulut setengah terbuka. "Jadi ... Suamiku telah memiliki seorang kekasih?" Apa ini? Victoria benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Dan jika benar Armand telah memiliki seorang kekasih, lalu mengapa pria itu justru ...
"Saya tahu apa yang sedang Anda pikirkan, Nyonya. Mungkin Anda bertanya-tanya mengapa Tuan tidak menikahi Nona Isabel tetapi malah menikahi Anda, bukan?"
'Tepat sekali,' rutuk Victoria dalam hati. Tetapi kata-kata itu tidak terlontar di bibirnya. Yang ia lakukan hanyalah menatap Marco dengan wajah serius, berharap pria berwajah kasar itu mau menjelaskan padanya.
"Walau ingin, Tuan tidak bisa melakukannya, Nyonya. Karena Tuan membutuhkan seorang wanita yang bisa menjaga nama baiknya. Bukan seorang wanita yang juga berasal dari dunia bawah seperti dirinya."
Ya, Tuhan. Pantas saja siang ini Armand berkata dengan tegas pada Victoria bahwa pernikahan mereka hanyalah pernikahan di atas kertas. Bukan sebuah pernikahan seperti yang ia pikir pria itu inginkan darinya saat Armand memuji kecantikannya di hadapan ayahnya.
"Saya harap Anda bisa mengerti dengan posisi Anda, Nyonya. Tuan bisa memberikan apapun kecuali hati dan tubuhnya pada Anda. Sebab semua itu hanya akan Tuan berikan pada Nona Isabel."
Victoria menganggukkan kepalanya. "Kau tak perlu menjelaskannya padaku, Marco. Aku bukan orang bodoh. Lagipula, bukankah keberadaanku di sini hanyalah sebagai alat pelunasan utang Ayahku?" Dengan anggun ia mengangkat dagunya. Tanpa peduli dengan tatapan yang diberikan Marco padanya. "Sekarang, mari turun. Sudah saatnya aku makan malam." Setelahnya, ia mengisyaratkan pada pria itu agar memberi jalan untuknya.
Dengan patuh Marco mundur ke belakang. Merasa takjub melihat tingkah Victoria yang sama sekali tidak terganggu terhadap semua yang telah diterimanya sejak siang tadi. Dengan mata kepalanya sendiri pria ini telah melihat bagaimana Victoria diperlakukan di mansion ini. Tidak hanya oleh para bawahan Armand, bahkan para pelayan saja tidak sungkan untuk bergosip tentang wanita ini di depannya. Dan semua itu tentu saja dengan seizin Bosnya, Armand De Luca.
Ya, Bosnya itu memang mengizinkan semua yang berada di mansion ini untuk menghina Victoria. Dengan syarat, jika tidak ada tamu yang berkunjung ke sini. Tapi jika ada tamu Bosnya itu, selain Isabella tentunya, semua harus menunjukkan rasa hormatnya kepada Victoria. Demi menjaga wajah Armand di hadapan para tamunya.
Dan yang mengagumkan, Victoria justru menanggapi semua hinaan itu dengan santai dan anggun. Seakan wanita itu hanya mendengar sebuah pujian yang diberikan padanya.
"Dasar aneh," gumam Marco, nyaris berbisik, sambil mengikuti Victoria menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Jangan salahkan dirinya jika ia tidak menyukai wanita itu, oke? Itu karena Victoria tidak bisa menjaga dirinya dan justru kehilangan keperawanannya sebelum dinikahi oleh Bosnya. Padahal, Marco tahu dengan jelas bagaimana sikap seorang bangsawan sejati. Setidaknya Victoria harus menjaga mahkotanya dan hanya memberikannya pada calon suaminya. Apalagi wanita ini baru berusia 21 tahun.
Sebenarnya tidak aneh jika Victoria berasal dari kalangan masyarakat kelas bawah. Di mana karena faktor kehidupan mereka yang serba kekurangan, akan sangat sulit untuk menemukan seorang wanita yang masih virgin sejak mereka mendapatkan haid pertama mereka. Itu sebabnya Armand lebih memilih Victoria dengan menjebak ayahnya. Tetapi, wanita ini ternyata sama saja dengan wanita di luar sana. Sama sekali tidak bisa menjaga dirinya.
Victoria bisa merasakannya, tatapan Marco yang terus tertuju padanya. Tatapan yang bak mata pisau menusuk-nusuk punggungnya meski pria itu tidak mengatakan apapun di belakang sana. Ia sendiri hanya diam tanpa ingin mencari tahu. Agar ia tak perlu menerima jawaban yang akan menambah sakit hatinya.
Selain itu, ia juga sudah tidak bisa lagi menjelek-jelekan keluarga De Luca melalui tulisannya di surat kabar, tentunya karena ia harus menjaga nama baik Armand. b******k! Mengapa ia harus terjebak di rumah b******n itu? Apakah Armand sengaja melakukannya demi membungkam aksinya yang selalu menentang perbuatan keluarga pria itu di kota ini?
Tak lama, Victoria pun makan malam di sebuah ruang makan yang luas. Meja panjang itu hanya diisi dirinya, dan beberapa hidangan mewah yang sama sekali tidak menambah nafsu makannya.
Beberapa pelayan berseragam berdiri di belakangnya, ada yang bergosip dan ada yang hanya diam. Terutama para pelayan wanita yang sangat suka membicarakan tentang dirinya dari tadi siang.
"Wanita ini benar-benar tidak tahu malu, bagaimana dia masih bisa bertingkah layaknya seorang wanita terhormat padahal telah kehilangan kehormatannya sebelum Tuan menikahinya?"
"Benar. Ayahnya juga seorang penjudi dan pembohong besar. Katanya putrinya ini masih virgin, tapi nyatanya—"
'Huft!' Victoria mendengus dalam hati. 'Seperti pekerjaan mereka di mansion ini tidak cukup banyak saja, hingga mereka masih memiliki waktu untuk menggosipkan diriku,' batinnya.
Jika saja ia tidak terikat pada aturan yang telah diberikan Armand padanya untuk tidak membuat keributan di mansion ini, sejak tadi siang Victoria pasti akan mendamprat semua pelayan yang telah berani berbicara buruk di belakangnya. Apalagi secara terang-terangan seperti sekarang.
Sialnya, ia tidak bisa melakukan apapun sebelum suaminya itu menyerahkan surat salinan bahwa utang ayahnya telah lunas. Armand berjanji akan memberikan salinan itu padanya minggu depan. Hingga saat itu, Victoria hanya bisa bersabar.
"Nyonya, Anda boleh berjalan-jalan di mansion ini kalau Anda merasa bosan berada di kamar terus," cetus Marco.
Pria itu menemani Victoria hingga ia menyelesaikan makan malamnya. Saat ini, Marco hanya berdiri satu langkah di belakangnya. Dan beberapa langkah di depan para pelayan.
Berjalan-jalan di dalam mansion? Apa pria itu pikir ia terlalu bodoh, hingga dengan senang hati mendengarkan semua keluhan para pelayan di mansion ini tentang dirinya? Ditambah tatapan sinis dari para bawahan Armand? Oh, c'mon. 'Kalian semua hanya senang jika berhasil membuatku menderita,' bisik Victoria dalam hati. "Baik, akan kulakukan nanti jika aku menginginkannya, Marco." Ia kemudian melipat sapu tangan yang baru saja ia pergunakan untuk menyapu lembut bibirnya.
Setelah itu, Victoria menoleh ke samping, tersenyum pada Marco yang justru menatap tajam padanya. Ia hampir terbahak bahagia melihat reaksi pria itu. Namun Victoria menahannya.
'Jika kalian pikir kalian bisa menindasku di sini, maka kalian salah. Aku, Lady Victoria Valencrest, tidak akan pernah kalah pada makhluk-makhluk barbar seperti kalian,' sungutnya.