Bab 4. Fans Atau Musuh?

1030 Words
Il Roso Club, pukul 9 malam. Suasana malam tidak pernah mati di klub baru ini. Suara musik menghentak menyambut sejak para tamu melewati pintu masuk klub. Suara tawa pecah dari setiap sudut ruangan, dan wanita-wanita bergaun ketat wara-wiri di antara meja-meja Vip. Sementara itu, di dalam sebuah ruangan tertutup yang dominan dengan warna gelap serta pajangan mewah—Vladimir kini sedang menatap tangan kanannya dari balik meja kerjanya. Pria ini bersandar di kursi kulit dengan sandaran tinggi, kedua tangannya terlipat di d**a. "Bagaimana dengan wanita itu?" lontarnya dingin. Rafael menundukkan kepalanya, tak berani membalas tatapan Bos besarnya itu yang wajahnya saat ini tampak seperti malaikat pencabut nyawa. "Ma-af, Bos," sahutnya terbata. "Ka-mi sudah berusaha mencarinya di seluruh Palermo, tapi wanita itu tidak juga bisa kami temukan." Brak! Rafael sontak terlonjak mendengar suara keras itu. Suara dari Vladimir yang menggebrak meja kerjanya dengan emosi. "Apa kau ingin mempermalukanku, Rafael?" "Ti-dak, Bos," jawab Rafael cepat. Sembari menunduk lebih rendah. "Kau tahu siapa aku, bukan?" Rafael mengangguk takut-takut. "Dan kau adalah tangan kananku! Apa saja yang telah kau lakukan hingga menemukan satu wanita saja tidak bisa?!" hardik Vladimir. Rafael menelan ludah, tak bisa menyangkal tuduhan Bosnya itu. Tapi ini bukan salahnya, wanita yang Vladimir inginkan benar-benar telah menghilang seakan wanita itu tidak pernah datang ke kota ini. "Kalau aku ingin, jangankan kota ini, seluruh Italia Selatan bisa aku miliki. Apalagi hanya seorang wanita." Rafael masih tidak berani menjawab. Yang pria ini lakukan hanyalah menatap lantai di antara kedua kakinya. "Rafael?" "Y-ya, Bos." Rafael sontak mendongak. Menatap wajah Vladimir yang tampak menghitam. "Kalau kau sudah tidak lagi menginginkan jabatanmu—" "Ti-dak, Bos. Sesuai keinginan Bos, akan kutemukan wanita itu secepatnya untuk Bos," potong Rafael. Vladimir memicingkan matanya, "aku harap begitu. Aku ingin wanita itu sudah kau temukan sehari setelah Gala Amal selesai. Apa kau mengerti?!" "Mengerti, Bos." Dengan wajah takut Rafael menganggukkan kepalanya. *** Keesokan harinya. Pagi yang cerah di Palazzo De Luca, nama yang Armand berikan untuk mansionnya. Victoria baru saja menginjakkan kakinya di lantai dasar saat ia mendengar suara seorang pria yang sedang membicarakan tentang ayahnya. "Jadi hutang Valencrest lunas begitu saja? Dan dengan hutang sebanyak itu pria itu hanya membayarnya dengan menyerahkan putrinya padamu? Kau terlalu baik hati, Bastardo." Victoria langsung menghentikan langkahnya saat itu juga. Semula, ia ingin kembali ke kamarnya, tidak berminat lagi untuk menemani Armand untuk sarapan bersama. Tapi, jika ia melakukan hal itu ... Victoria takut kalau suaminya itu akan menahan surat utang ayahnya. Akhirnya, dengan enggan ia kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Mansion ini sebenarnya memiliki lift, namun hanya Armand dan Isabella yang boleh mempergunakannya. Itulah yang Victoria dengar dari para bawahan Armand kemarin. Setibanya di ruang makan, ia melihat suaminya tengah duduk bersama seorang pria. Pria itu sempat menoleh padanya, begitu juga Armand yang segera memberi isyarat agar Victoria duduk di samping suaminya itu. "Perkenalkan, Bruno. Ini Victoria, istriku," tukas Armand, pada pria yang sedang berbicara dengannya itu. Pria itu menatap lurus pada Victoria, lalu tersenyum lebar. "Halo, Victoria." Dan melambaikan tangannya dari seberang meja. "Aku Bruno Costa, tapi kau bisa memanggilku Bruno. Aku sahabat Armand." Victoria membalas senyum pria itu, "Victoria Valencrest," ujarnya memperkenalkan diri. "Ya, aku tahu siapa kau." Pria itu kembali berbicara, setiap ucapannya terdengar kasar dan sedikit menyentil. Membuat Victoria hanya bisa meringis dalam hati. Namun, ia tidak memperlihatkannya di wajahnya. Melainkan duduk dengan anggun di kursi yang telah dipersiapkan untuknya. "Sekarang aku baru mengerti mengapa Armand nekat ingin menikahimu dan rela mengorbankan banyak uang demi mendapatkanmu. Karena kau sangat cantik." 'Dasar b******n!' maki Victoria dalam hati. Inilah penyebab kebenciannya terhadap keluarga De Luca selama ini. Sebab semua teman dekat keluarga ini tak lebih dari sekumpulan pria b******k yang sangat suka merendahkan para wanita. "Apa kau memiliki seorang sepupu yang sama cantiknya sepertimu, Victoria?" Armand langsung berdehem untuk memperingatkan sahabatnya itu yang berani terang-terangan menggoda Victoria di hadapannya. Ia melakukannya bukan untuk membela istrinya, tetapi untuk melindungi air mukanya sendiri. "Ada apa, Bastardo?" lontar Bruno sembari melirik sang sahabat. Merasa gemas pada Armand yang seakan ingin melindungi istrinya. "Bukankah selain Isabel, biasanya kita selalu berbagi wanita?" Victoria tentu saja terkejut mendengar ucapan pria itu. Ia bahkan reflek menatap Armand, yang justru sangat santai menjawab pertanyaan itu. "Dia istriku, Bruno. Dan ini adalah Palazzo, sebaiknya kau mulai belajar menghormatinya. Atau kau akan membuat semua orang di luar sana memandang rendah diriku." Bruno terkekeh sambil mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menautkannya di belakang kepalanya. Entah mengapa Victoria sangat tidak menyukai tawa pria itu yang terdengar tak peduli. Seakan sedang bercanda dengan suaminya dan tidak menghargai dirinya sama sekali. Well, apa yang bisa kau harapkan dari sekumpulan pria kasar yang selalu berada di sekitar Armand, bukan? Mereka tidak pernah belajar menghormati siapa pun—karena dunia mereka tidak pernah mengajarkannya. Bahasa yang mereka mengerti hanyalah tinju dan peluru. Jadi wajar saja jika mereka tidak bisa berbicara dengan sopan. Karena kesopanan itu sendiri tidak pernah mereka miliki. "Cosi, Victoria. Aku dengar dari Armand ... kau adalah seorang penulis?" Victoria melirik suaminya dari sudut matanya, namun Armand tampak tak acuh. Dan seperti biasa, suaminya itu selalu tampil rapi dengan setelan gelap membalut tubuhnya yang kekar. Armand masih terlihat muda meski usianya sudah 37 tahun. Ya, Victoria mengetahuinya karena ia selalu mencari informasi untuk menjatuhkan keluarga De Luca. "Begitulah, aku hanya penulis lepas yang bekerja pada beberapa surat kabar dan majalah," sahutnya, sambil menatap Bruno. "Oh?" Pria itu kembali terkekeh, terdengar sedikit sinis di telinga Victoria. "Aku dengar juga kalau kau sangat mengidolakan keluarga De Luca, yang selalu menjadi objek tulisanmu. Apa itu benar?" Victoria seketika terbatuk pelan. Ya, Tuhan. Bisakah ia menembak kepala Bruno sekarang juga sebelum pria itu membuat Armand marah besar padanya? "Kau terlalu memuji," jawabnya akhirnya, setelah menyumpahi Bruno berkali-kali di dalam benaknya. Berharap akan ada truk besar yang menabrak pria itu saat Bruno meninggalkan mansion ini. "Dan juga, mana mungkin wanita sepertiku pantas untuk menjadi fans keluarga terhormat seperti keluarga De Luca." Setelah itu, Victoria menyambung ucapannya itu dalam hati, 'hanya seorang bastard sepertimu yang akan menjadi fans keluarga ini. Dasar k*****t,' batinnya geram. "Jadi ... kau bukan fans keluarga De Luca?" Bruno kembali memancing. "Kalau begitu, apakah pria ini telah menikahi musuh keluarganya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD