Bab 5. Peraturan Tambahan

1092 Words
Victoria sontak membeku. Hingga jawaban Armand menyelamatkannya dari situasi yang tidak mengenakkan itu. "Cukup, Bruno. Kau terlalu banyak bicara pagi ini." Pria itu hanya tertawa, seakan pertanyaannya memang sekadar gurauan. Namun matanya tajam, mengamati wajah Victoria. Merasa tidak nyaman, Victoria menurunkan pandangannya ke arah hidangan yang baru saja diletakkan di hadapannya. Cemas jika Armand akan membuat masalah dengannya setelah ini. Sebenarnya ia hanya tidak ingin ribut dengan suaminya itu hingga surat pelunasan utang ayahnya sampai ke tangannya. Itu saja! "Sebaiknya kau pergi jika tidak ingin sarapan di sini, bukankah ada sesuatu yang harus kau kerjakan di luar sana?" usir Armand pada sahabatnya. Dalam hati, ia merasa sangat jengkel sekali. Tidak hanya pada Bruno, tapi juga pada Victoria yang sebelum ia menikahi wanita ini ... Victoria selalu menjelekkan nama keluarganya di hampir setiap artikel yang wanita itu tulis di surat kabar. Itulah mengapa ia ingin menikahi Victoria. Agar ia bisa membungkam aktifitas wanita ini yang akan merugikan semua bisnisnya. Bruno sekali lagi mengangkat tangan ke atas, menampilkan ekspresi menyerah dengan maksud bercanda pada Armand. Armand menanggapi tingkah sahabatnya itu dengan dengusan gusar, sambil mengibaskan tangannya. Memberi isyarat agar Bruno segera meninggalkan Palazzo De Luca. Mengerti dengan apa yang sahabatnya inginkan, Bruno pun beranjak dari kursi yang telah ia duduki hampir satu jam ini. "Baiklah, kau benar, Bastardo. Ada sesuatu yang harus kutangani bersama Isabel. Kau akan menyusul, bukan?" Armand mengangguk, "sebentar lagi aku akan ke sana. Katakan pada Isabel untuk menungguku." "Tidak masalah." Setelah itu Bruno melemparkan pandangannya pada Victoria yang telah mulai menikmati sarapan paginya. "Ciao, Victoria. Kalau kau merasa kesepian ... jangan lupa untuk menghubungiku, oke?" "Pergilah, Bruno," kata Armand dingin. Victoria menahan napas di kursinya. Tubuhnya gemetar antara marah dan takut. Baru sadar jika ia telah terjebak di hutan yang dipenuhi oleh kawanan serigala lapar. "Jangan terlambat, Bastardo." Bruno memperingatkan sambil melangkahkan kakinya. "Aku hanya tidak mau jika harus mendengarkan ocehan Isabel, yang pastinya akan terus bertanya mengapa kau tidak datang bersamaku." Suara itu pun menghilang tak lama kemudian, digantikan suara samar langkah kaki yang terdengar bergerak menjauh. Kini, hanya keheningan yang mengisi ruang makan besar itu. Victoria tidak berani melirik ke arah Armand, karena tahu bahwa tatapan tajam milik suaminya itu saat ini sedang tertuju padanya. "Ini yang tidak kuinginkan." Armand kembali berbicara, "kuharap ini terakhir kali kau mempermalukanku di hadapan orang lain." Victoria menarik napas dalam-dalam, lalu meletakan garpu dan pisau yang ia pergunakan ke atas piring hidangannya yang baru ia makan sedikit. Setelahnya, ia mengangkat wajahnya dan menoleh pada suaminya. Membalas tatapan Armand dengan berani. "Seharusnya kau tahu kalau ini pasti akan terjadi ketika kau memutuskan untuk menikahiku," sahutnya dengan nada datar. Suaminya itu tidak langsung menjawab, namun jelas sekali terlihat sangat marah dari ekspresi yang tergambar di wajah Armand saat ini. "Habiskan sarapanmu, setelah itu kembalilah ke kamarmu atau pergilah ke mana pun yang kau inginkan di mansion ini. Selain kamarku dan ruang kerjaku," cetus Armand. Victoria menahan senyum getir dan menggelengkan kepalanya, "tidak, aku sudah kenyang. Lagipula aku tidak ingin ke manapun, hanya ingin kembali ke kamarku." Setelah itu ia mendorong kursinya ke belakang. Kursi itu berderit saat ia melakukannya, namun Victoria tidak ambil pusing. Ia hanya ingin menyingkir secepatnya dari hadapan Armand. Marco sudah menunggunya tak jauh dari sana, seperti bayangan yang akan selalu mengikutinya ke manapun ia pergi. Victoria mengangguk pada pria itu tanpa menghentikan langkahnya, terus melewati lorong panjang Palazzo De Luca menuju tangga yang akan membawanya kembali ke kamarnya. Saat akan menaiki anak tangga paling bawah, ia berhenti sejenak. Melemparkan pandangannya ke arah lift yang terdapat tak jauh dari tempat ia berada sekarang. Lift yang tak boleh ia sentuh meski ia adalah istri Armand. "Jangan berpikir untuk menggunakan lift itu, Nyonya," celetuk Marco, sembari menatap punggung Victoria yang ramping. Wanita itu terlihat rapuh di matanya, namun entah bagaimana—Victoria justru tetap bisa bersikap elegan. Tanpa pernah memperlihatkan kelemahannya di mata semua orang yang telah menghinanya. Di depan Marco ... Victoria melirik pria itu dari atas pundaknya. "Jangan khawatir, aku lebih suka naik turun tangga. Anggap saja ini olah raga kecil untuk menguatkan kakiku." Benar, 'kan? Victoria lagi-lagi bisa menjawab peringatannya dengan tenang? Marco benar-benar tak habis pikir bagaimana wanita lemah seperti Victoria mampu menahan semua ini. "Mari, Nyonya. Sebelum Tuan melihat Nyonya," desak pria ini, meminta Victoria untuk kembali melanjutkan langkahnya. "Nyonya harus menjauh secepatnya dari sini, karena Tuan sudah memperingatkan kami semua untuk menjaga Nyonya agar tidak bertemu dengan Tuan jika bukan Tuan yang memintanya." 'Tidak ingin bertemu?' Victoria tersenyum kecut. 'Jadi dia tidak suka jika harus terlalu sering melihatku? Lalu mengapa dia tidak tempatkan saja aku di rumah yang lain? Bukankah dia sangat kaya?' rutuk hatinya. Tapi ia tetap melanjutkan langkahnya, tidak ingin sesuatu yang Marco takutkan akan benar-benar terjadi. Ia harus bertahan demi surat k*****t yang belum Armand berikan padanya. *** Satu jam telah berlalu sejak Victoria kembali ke kamarnya usai sarapan pagi bersama suaminya. Ia pikir, Armand pasti sudah pergi. Sebab suaminya itu telah berjanji pada kekasihnya, bukan? Yang menurut ucapan Bruno, pasti tidak akan senang jika Armand datang terlambat. Victoria bisa menilai, wanita seperti apa Isabella itu walau hanya mendengar segelintir tentang wanita itu dari mulut sahabat baik suaminya. Yang pasti, wanita itu persis Armand, bukankah mereka berasal dari lingkungan yang sama? Victoria tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia sampai bertemu dengan Isabella di mansion ini. Victoria masih melamun ketika tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar dengan kartu cadangan. Palazzo De Luca adalah mansion yang luar biasa, rasanya seolah semua kamar yang ada di mansion ini tidak lagi menggunakan anak kunci untuk membuka pintunya, melainkan cukup dengan menggunakan sebuah kartu seperti kamar-kamar hotel mewah pada umumnya. Tapi Palazzo De Luca bukanlah hotel. Armand masuk setelah kunci pintu terbuka. Victoria sempat menahan napas selama beberapa saat, bertanya-tanya siapakah orang itu yang sedang mencoba membuka pintu kamarnya? Tanpa ia duga, ternyata suaminya yang telah melakukannya. "Aku tidak pulang malam ini," tukas Armand masih sedingin saat mereka di ruang makan tadi. "Dan ...." "Apakah masih ada peraturan yang harus kuketahui?" sambar Victoria, memotong ucapan suaminya itu. Armand mengangkat kedua alisnya, tampak tidak terlalu senang. "Ya, ada." Pria ini melangkah menghampiri istrinya, tatapannya lurus ke wajah Victoria. "Selain peraturan yang telah kau ketahui, aku akan menambahkan beberapa peraturan lagi. Pertama, jangan terlalu banyak berbicara dengan orang lain selain Marco. Kedua, jangan pernah menungguku pulang atau mencampuri urusanku. Dan yang ketiga—" Armand diam sejenak, sambil menatap tajam pada istrinya. "Jangan pernah memberikan harapan pada dirimu sendiri." Victoria tersenyum tipis, kemudian menganggukan kepalanya. "Tenang saja, aku mengerti," katanya, dengan wibawa seorang bangsawan wanita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD