"Aku mengerti." Itu yang Victoria ucapkan dua hari yang lalu. Dan selama dua hari, ia semakin mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari para pelayan dan para bawahan Armand.
Memang, tidak ada seorang pria pun di mansion mewah ini yang berani menyentuh atau melecehkannya termasuk Marco. Tapi ucapan mereka semua benar-benar sangat keterlaluan. Mereka seolah ingin menyiksa batinnya agar ia perlahan-lahan menjadi gila.
"Dasar para b******n keparat." Ucapan itu ... yang hanya berani ia teriakkan di dalam kamarnya—lebih tepatnya di dalam kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya, bukan hanya Victoria tujukan pada para bawahan Armand saja. Melainkan juga untuk semua pelayan wanita yang bekerja di mansion ini. Para wanita yang tampak menatapnya dengan tatapan iri. So what? Jika tubuhnya bagus dan kulitnya halus, itu karena ia memang merawatnya dengan baik.
Dan tentang wajahnya, bagaimana pun ia keturunan bangsawan yang cukup dihormati di Inggris. Bahkan ibunya, Lady Valencrest, pernah menarik perhatian Pangeran Inggris karena kecantikannya. Dari sanalah Victoria mendapatkan wajahnya, rambutnya yang coklat, hidungnya yang mungil dan tinggi, serta mata birunya.
"Bastard, kalau begini terus, cepat atau lambat aku pasti akan gila," gerutunya, sembari mengeringkan tubuhnya. Lalu membalutnya dengan bathrope yang tersedia di dalam kamar mandi itu.
Well, sebenarnya Armand cukup memperhatikan kebutuhannya meski pria itu tidak menginginkan dirinya. Bahkan bathrope yang berada di kamar mandi ini sesuai dengan ukuran tubuhnya. Tidak hanya satu, Victoria punya satu lusin bathrope di dalam kamar mandinya. Satu lusin handuk kecil, dan satu lusin handuk berukuran besar.
Sempurna, itulah yang ia pikirkan tentang Armand. Pria itu seakan ingin semuanya terlihat sempurna sesuai keinginannya.
Saat Victoria keluar dari kamar mandi, Armand telah berada di dalam kamarnya. Suaminya itu duduk di pinggir ranjangnya, menatapnya dengan wajah dingin. Ia tersenyum kecut menyaksikan tingkah Armand itu. "Apa yang diinginkan sialan ini di kamarku," gumamnya dengan suara sangat pelan. Cukup hanya untuk ia dengar sendiri.
Tanpa takut, Victoria melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Dapat merasakan jika tatapan Armand terus mengikutinya. Membuat tengkuknya sedikit merinding.
"Aku harus menghadiri sebuah lelang malam ini," celetuk pria itu. Armand mengamati punggung Victoria yang tertutup oleh bathrope, lalu turun ke bokongnya.
Sesaat, ia menelan ludah melihat b****g itu yang terlihat kencang di balik bathrope yang Victoria kenakan di tubuhnya. Mengingatkannya pada belahan d**a istrinya itu yang tak sengaja terlihat olehnya saat Victoria baru keluar dari kamar mandi beberapa saat yang lalu.
Victor benar, putrinya ini memang cantik dan nyaris sempurna sebagai wanita. Tubuh Victoria ramping, hanya berisi di bagian-bagian yang tepat. Kulitnya juga bersih tanpa cela. Kulit seorang wanita yang terbiasa dimanja. "Aku ingin kau pergi denganku untuk menghadiri lelang itu," imbuh Armand lagi, sembari mengangkat tubuhnya dari pinggir ranjang.
Tangan Victoria yang sedang memilih pakaian yang akan ia pakai ... sontak berhenti sejenak. Namun ia tidak menoleh, hanya mendengarkan suara langkah kaki suaminya yang semakin mendekat ke arahnya.
Tanpa ia duga, Armand tiba-tiba menarik tangannya. Membuatnya terpekik. Bahkan tubuhnya didorong ke arah pintu lemari di sebelahnya yang masih tertutup.
"Apa kau mendengar apa yang baru saja kukatakan?" tukas pria itu dingin. Armand menahan salah satu tangan Victoria di atas kepala istrinya itu. Sementara tatapannya turun ke belahan d**a Victoria.
Sekali lagi ia menelan ludah tatkala menyaksikan dua d**a indah yang menyembul sedikit di balik kerah bathrope yang dipakai oleh istrinya itu. d**a yang terlihat kencang meskipun Victoria tidak menggunakan penyangga di dalamnya.
Membayangkan tubuh polos yang berada di balik bathrope itu, tanpa sadar Armand menunduk mendekati istrinya itu. "Hei, Selvaggio. Aku sedang bertanya padamu."
'b******n!' rutuk Victoria dalam hati, karena ia mengerti apa arti panggilan yang baru saja suaminya itu berikan tadi padanya. Jalang. Begitulah Armand menyebut dirinya. "Aku mendengarnya," sahutnya. Dadanya naik turun antara menahan emosi dan juga rasa takut. "Tentang mengapa aku tidak mengatakan apapun, aku sedang menunggu. Bukankah masih ada yang ingin kau katakan padaku?"
Armand terdiam di samping wajah Victoria. Nyaris, sedikit lagi ia hampir mencium cuping telinga istrinya itu gara-gara tergoda dengan penampilan Victoria dan aroma sabun mewah yang menguar dari tubuh istrinya itu. "Ehem." Ia berdehem pelan dan langsung menegakkan kembali tubuhnya. 'Apa yang terjadi?!' makinya dalam hati, saat ia menyadari apa yang baru saja akan ia lakukan terhadap Victoria.
"Sekarang, bisakah kau melepaskan tanganku terlebih dahulu?"
Armand menyipitkan matanya, bingung dari mana Victoria mendapatkan keberaniannya hingga wanita itu bisa mengucapkan kata-kata dengan nada datar padanya?
Setelahnya, ia melepaskan tangan istrinya itu. Bukan menurunkannya, hanya melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Victoria, dan membiarkan istrinya itu menurunkan tangannya sendiri.
"Terima kasih." Victoria mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit gara-gara Armand menggenggamnya dengan sangat keras tadi, seakan pria itu ingin meremukan tangannya. Meski begitu, ia tidak menunjukkan raut sakit sedikitpun di wajahnya. Tidak, ia tidak bisa memperlihatkan hal itu di hadapan Armand. Kecuali ia ingin membahagiakan pria itu yang jelas tidak mungkin akan ia lakukan.
"Akan kuperintahkan pada Marco untuk mengantarkan pakaian yang akan kau pakai nanti, aku juga akan mengundang seorang penata rias untuk mendandanimu malam ini," ujar Armand.
Victoria menganggukkan kepalanya. "Aku tahu tugasku." Ia lalu diam sejenak, menghela napas, dan kembali berbicara pada suaminya itu. "Apakah masih ada yang ingin kau bicarakan padaku?"
Armand menatap Victoria selama beberapa saat, kemudian menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia menjauhi istrinya itu, melangkah ke arah pintu kamar.
Ketika ia telah membuka pintu tersebut, Armand kembali menoleh pada Victoria. "Aku akan menjemputmu pukul tujuh. Aku harap kau sudah siap dan rapi saat aku sampai di sini."
"Akan ku ingat," sahut Victoria.
Pria itu mengamati wajah istrinya yang tidak pernah tersenyum sekalipun padanya hari ini. Membuatnya merasa sedikit kesal. Tapi tidak masalah, lagipula ia sudah memiliki Isabelle dan tidak pernah menyukai Victoria. Selama wanita itu bersedia patuh padanya, itu sudah cukup baginya.
Sepeninggal Armand ... Victoria langsung tersandar di pintu lemari dan berusaha menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Jantungnya berdegup kencang, lututnya bahkan lemas dan nyaris tidak bisa menopang tubuh rampingnya. Memikirkan apa yang akan Armand lakukan tadi padanya.
Walau, tadi Victoria tetap mempertahankan ekspresi wajahnya saat ia berhadapan dengan suaminya itu ... namun saat Armand mengungkungnya, tanpa sadar ia menahan napas. "Pantas saja pria b******k itu memanggilnya Bastardo," rutuknya dengan suara pelan, "karena dia memang ... seorang b******n," tambahnya lagi.