Malamnya, Armand menepati janjinya untuk menjemput Victoria tepat pukul tujuh malam. Saat itu Victoria telah rapi, mengenakan dress hitam yang menampilkan lekuk tubuhnya juga kakinya yang jenjang.
Rambut coklatnya disanggul dengan gaya modern dan diberi aksen jepit permata. Kontras dengan bebatuan berkilau yang dijahit indah ke gaun malamnya. Perhiasan berlian yang ia kenakan juga tidak berlebihan, namun cukup untuk menegaskan siapa dirinya malam itu. Yang sengaja Armand beli dari Cipolla Dal, toko yang selalu membuat design dari berlian terbaik di seluruh Italia Selatan.
Dengan keanggunan seorang bangsawan sejati, Victoria memasuki Aurelio Grand Hall. Lengan rampingnya melingkar di lengan Armand yang kokoh. Ia mengikuti langkah lebar suaminya itu dengan tidak terburu-buru. Beruntunglah dirinya, yang sudah diberkahi kaki panjang, hingga tak perlu terlalu mengejar Armand.
Di ruangan itu, tempat diadakannya "Gala Amal Internasional" atau biasa disebut oleh para mafia Italia dengan sebutan singkat GAI, sebenarnya adalah kedok tertutup para mafia untuk memperlihatkan seberapa terhormatnya mereka. Meski begitu, tempat mewah itu tidak bisa menyembunyikan raut berbahaya dari setiap tamu undangannya. Meski tubuh-tubuh mereka mengenakan pakaian yang rapi dengan design limited edition.
Bahkan mobil-mobil mewah berjejer di halaman hall tersebut, dari Rolls Royce Phantom, Ferrari, Lamborghini, Alfa Romeo, sampai Maserati.
Armand sendiri mengendarai Maserati, namun tatapan pria ini justru tertegun pada sebuah sedan Rolls Royce Phantom, sedan termahal di Italia dengan warna hitam pekat. Bukan hanya di Italia, bahkan harga sedan itu berada di urutan pertama sedan termewah di dunia.
Sembari masuk ke bagian ruangan lebih dalam, tempat akan diadakannya acara lelang terbesar tahun ini, pria berwajah keras ini masih saja bertanya-tanya dalam hati—tentang siapakah orang yang mengendarai mobil tersebut.
Padahal dirinya ... yang notabene pria terkaya di Palermo, malah hanya bisa membawa Maserati andalannya. Yang artinya, ada pria yang kekayaannya lebih dari dirinya yang akan menghadiri lelang hari ini.
Pertanyaannya, siapa pria itu? Hal ini mengusik pikiran Armand. Berharap pria itu tidak akan merebut barang lelang yang ia inginkan. Yaitu sebuah kalung yang terbuat dari berlian The Moussaieff, kalung yang ingin ia hadiahkan pada Isabel demi menenangkan kekasihnya itu.
Belakangan ini, Isabel terlalu sering memasang wajah cemberut, dan berulang kali mengingatkannya agar Armand tidak terpedaya dengan kecantikan Victoria.
Bukan karena rasa bersalah ia ingin memberikan kalung itu pada Isabel, melainkan karena Isabel harus tetap berada di sisinya.
"Sepertinya kursi kita ada di barisan ketiga," celetuk Victoria. Untuk menyadarkan suaminya yang terus diam sejak mereka dari Palazzo, ekspresi Armand bahkan terlihat semakin buruk setibanya mereka di Aurelio Grand Hall. Entah apa yang mengganggu pikiran suaminya ini.
Tersentak, Armand reflek menurunkan pandangannya ke arah Victoria yang masih berdiri di sampingnya. Wanita itu tidak menatapnya. Tatapan Victoria justru tertuju ke arah kursi-kursi yang diperuntukkan bagi para peserta lelang. "Aku tidak terlalu suka duduk di depan," sahut Armand. Membuat Victoria langsung mengalihkan pandangan padanya.
Sesaat, ia terpaku melihat kecantikan istrinya itu. 'Yang benar saja,' gerutunya dalam hati, baru mengerti mengapa Isabel sangat cemburu pada istrinya ini.
Andai saja ia tak pernah bertemu dengan Isabel, ia mungkin akan jatuh cinta pada Victoria. 'Pantas Victor selalu memuji kecantikan putrinya ini,' batinnya.
"Kebetulan, aku juga tidak suka menjadi pusat perhatian," sambung Victoria.
Armand berdehem pelan. Lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Di kejauhan, ia melihat satu sosok yang sangat ia benci. Pertama kali ia bertemu dengan pria itu adalah di Milan. Sekitar tiga tahun yang lalu.
Sekarang, ia mendengar kabar kalau pria itu sedang melakukan ekspansi kekuasaannya secara besar-besaran. Target pertamanya adalah Palermo, wilayah yang ia kuasai. Pria itu bahkan telah membangun sebuah klub malam termewah di kota ini. Seorang pria angkuh dan tak tersentuh, yang sialnya dihormati oleh semua mafia Italia. Vladimir Moretti. Ia sangat benci pada pria itu, karena tak pernah ingin menatapnya sama sekali seakan ia bukan siapa-siapa.
Menyadari keberadaan Vladimir, Armand tanpa sadar melirik ke arah Victoria. Takut jika Vladimir akan tertarik pada istrinya itu. Karena malam ini, Victoria satu-satunya wanita tercantik yang ada di tempat ini, dan Armand bangga bisa membawa wanita ini bersamanya sebagai miliknya.
"Sebaiknya kita duduk sekarang." Tergesa-gesa ia menyeret Victoria ke kursi yang telah ditandai di dalam undangannya. 'Sebelum pria mengerikan itu melihatmu,' sambung Armand dalam hati.
Tanpa pria ini ketahui, Vladimir telah menyadari kehadiran mereka. Tatapan tajamnya bukan tertuju pada Armand, melainkan pada wanita cantik yang dibawa olehnya. Wanita yang telah mengganggu pikiran Vladimir selama beberapa hari belakangan ini. Wanita yang telah menghilang dari genggamannya dan sudah berani membayar dirinya. Dasar sial!
"Rafael!" panggilnya dengan nada gemas, pada tangan kanannya yang terus mengintil di belakangnya.
Rafael maju dengan cepat saat ia mendengar panggilan itu. Menghampiri Vladimir, lalu menunduk di samping Bosnya itu. Semua terasa wajar, apalagi bukan hanya dirinya yang telah menunduk pada Vladimir sejak mereka memasuki Aurelio Grand Hall. Namun semua tamu di tempat ini yang berpapasan dengan mereka—pasti akan menunduk di hadapan Bosnya itu.
"Sei stupido!" geram Vladimir, "wanita itu ada di sana, wanita yang tidak bisa kau temukan beberapa hari ini." Ia menggerakkan dagunya, menunjuk ke barisan kursi ketiga dari depan. Di mana sepasang kekasih sedang duduk di sana. Semoga, mereka hanya sepasang kekasih. Itulah yang Vladimir pikirkan. Agar ia bisa merebut wanita itu dari pria yang bersamanya saat ini.
Rafael mendongak tak mengerti, kemudian mengikuti arah gerakan dagu sang Bos. Melemparkan pandangannya ke seorang wanita cantik yang berjarak belasan meter darinya dan juga Vladimir. Wanita itu tampak anggun, berbeda dengan para wanita yang selama ini selalu dikencani oleh Bosnya itu.
"Bos yakin itu dia? Menurutku mereka tampak berbeda."
Vladimir melotot pada Rafael. "Apa kau pikir aku tidak akan mengenalinya? Tidak bisa mengenali tubuh yang pernah kusentuh?"
Rafael meringis mendengar ucapan Bosnya itu. "Ti-dak, Bos. Bos benar, wanita itu pasti adalah wanita yang kita cari," sahutnya terbata.
"Hmm." Vladimir memicing, membuat Rafael semakin mati kutu. Dan segera menundukkan kepalanya.
"Aku akan segera menghubungi panitia yang menyelenggarakan lelang hari ini, Bos."
"Bagus, lakukan sekarang, Rafael."
Tanpa perlu diperintah dua kali, Rafael sudah meninggalkan Vladimir. Pergi dengan cepat ke belakang panggung, tempat para panitia lelang mempersiapkan barang-barang yang akan mereka lelang nantinya. "Bagaimana ini?" gerutunya sambil melangkahkan kakinya. "Wanita itu tampaknya telah memiliki seorang pria di sampingnya. Apakah jangan-jangan ... Bos ingin merebutnya dari tangan pria itu?"