Tubuh Nayla menegang, rasanya canggung sekali berhadap-hadapan dengan lelaki itu seperti ini. “Nay, boleh kita bicara sebentar,” ujar Arman saat Nayla ingin beranjak dari duduknya. “Bicara apa, Mas?” tanyanya menyembunyikan wajah yang memerah menahan malu. “Aku ingin pergi ke Amrik untuk belajar. Papa memaksaku untuk kuliah dan belajar di sana.” “Pergi saja! Tidak ada urusannya denganku!” ujar Nayla enggan menatap mata Arman. “Iya, aku tahu ini bukan urusan kamu. Aku hanya ingin memberitahu, aku sadar, kok, kamu suda tidak mau lagi mendengar apapun tentang aku, iya, kan?” Mata Arman menatap Nayla lekat. “Tapi asal kamu tahu Nay, aku selalu mengkhawatirkan kamu. Kepalaku tidak pernah mau berhenti memikirkan kamu. Aku tidak yakin, aku bisa belajar dengan tenang di sana.” Ujar Arman pel

