Part 94

1980 Words

Jantung Nayla berdegup kencang, saat mobil Arman tiba di depan rumah orang tuanya. Bagaimana ini? Apa yang akan ia katakana pada mama dan papanya? Berulang kali Nayla menelan ludah dan mengusap hidungnya sekadar melepaskan cemas yang meremas hatinya. “Kakuuung ….” Teriak Bian berlari saat kakung dan uti ke luar dari rumah. “Bian?” tanya kakung tak percaya melihat Bian yang datang. Ditolehnya uti. Uti hampir tak berkedip melihat Nayla dan mertuanya turun dari mobil. Sekilas ia menangkap bayangan Arman yang duduk di kursi sopir. Ditolenya kakung dengan tatapan penuh tanya. “Kakung ...” sapa Bian sekali lagi sembari menjulurkan tangan. “Bian … kenapa tidak bilang kalau mau datang?” tanya kakung merundung mensejajarkan diri dengan cucu kesayangannya itu. Nayla yang mendengar pertanyaan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD