Titi dengan sabar menunggu Arya menghabiskan makanannya sambil mengamatinya, tanpa ia sadari, dia malah menelan salivanya sendiri. Makanan yang di beli oleh Arya begitu membuatnya kembali merasa lapar lagi. Aroma-aroma makanannya yang mampu membius indera penciumannya. 'Apa dia sengaja melakukannya? Betapa menggiurkannya steak itu.' Batinnya sambil terus mengamati Arya makan.
"Selera makanku hilang melihatmu terus menatapku!" Ketusnya hingga membuat Titi kembali tersadar dari lamunannya.
Arya beranjak dari posisi duduknya lalu pergi ke dalam kamarnya meninggalkan Titi begitu saja. "Huh, sungguh menyebalkan. Bukankah dia yang memintaku untuk berdiri disini untuk mengawasinya makan? Lalu sikap apa itu? Seolah-olah aku kotoran yang membuatnya hilang selera makan." Gerutunya dengan kesal sambil membereskan meja makan.
Kalau saja bukan demi orang tuanya yang sangat dia sayangi, dia berpikir seribu kali untuk melakukan pernikahan tidak masuk akal ini. Ya lebih tepatnya Titi telah di jual dengan suka rela dengan lelaki kejam tak berperasaan seperti Arya. menyebut namanya saja membuatnya mual. Bahkan di dalam mimpi pun dia enggan untuk bersama dengan lelaki itu. Andai saja dia memiliki uang banyak, mungkin dia akan dengan sombong membayar seorang Arya Adiwijaya yang menurutnya sangat kurang ajar.
Baru juga hari pertama berada disana, rasanya sudah setahun rasanya. Titi dengan perasaan kesalnya berusaha untuk menenangkan pikirannya. Ya dirinya masih memiliki semangat hidup untuk saat ini. Setelah mengamati keseluruh penjuru rumah. Dia berjalan menuju kamar untuk beristirahat sejenak. Namun, tanpa dirinya sadari sanking lelahnya selama seharian ini, dia malah ketiduran cukup lama hingga membuat Arya kesal yang sejak tadi memanggil namanya.
Hingga Arya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya lalu menyiram air ke wajahnya.
"Bangun!" Serunya dengan kalimat yang cukup kasar.
Sontak saja membuat Titi langsung membuka kedua matanya. Kemudian menatap Arya yang sudah berdiri di dekat tempat tidurnya. Terlihat jelas rahang yang sudah mengeras dengan tatapan penuh dengan amarah.
"Enak sekali kamu ya tidur, siapa yang mengizinkanmu untuk tidur? Disini kamu tidak bisa istirahat sebelum aku istirahat duluan. Mengerti!" Ketusnya penuh dengan penekanan.
"Maaf!" Balasnya.
"Kenapa? Nggak suka dengan aturanku? Silahkan pergi! Tapi sebelum itu bayar dulu uang yang sudah aku berikan kepada orang tua kamu!" Ucapnya sambil memegang dagu Titi lalu melepaskannya dengan sangat kasar.
Rasanya saat ini Titi sudah tidak memiliki harga diri lagi. Lelaki itu berhasil membuatnya hanya seorang wanita lemah yang tak berdaya dan sampah. Wajahnya memerah, menahan tangisnya yang tidak ingin dia tunjukkan dihadapan Arya. Karena pasti lelaki itu dengan senangnya malah mengejek dirinya yang sangat menyedihkan.
Dia hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk tetap sabar dengan perbuatan lelaki itu.
"Ini baru permulaan, dan mulai besok hidupmu akan benar-benar seperti di neraka!" Balasnya lalu berlalu begitu saja dari kamar Titi.
Setelah kepergian Arya, tangis yang awalnya masih bisa untuk di tahannya pecah begitu saja. Bagaimana mungkin dia membayangkan hidup dengan lelaki seperti itu? Ini sangat tidak adil untuknya.
***
Pagi ini dirinya sedang di rias dengan sangat cantik, wajahnya terlihat sangat murung. Tidak ada senyuman kebahagiaan yang ia rasakan. Bukankah pernikahan merupakan hal yang sangat sakral? Dan kalau bisa kita harusnya menikah dengan seseorang yang benar-benar mencintai kita bukan? Pasti rasanya akan jauh berbeda dari sekarang.
Lamunannya pecah ketika mamanya datang menghampiri dirnya.
"Ti, ya ampun kamu cantik sekali sayang. Hampir saja mama tidak bisa mengenali kamu." Pujinya yang begitu takjub melihat penampilan putrinya itu.
"Apaan si mah. Biasa aja kali." Balasnya sambil cemberut.
"Cantik-cantik kok cemberut aja si sayang. Ntar cantiknya ilang lho."
"Titi kesal banget ma dengan Arya. Dia nyebelin banget. Kok bisa ya ada lelaki seperti dia." Keluhnya.
Mamanya dengan sabar menenangkan putrinya, "Memang seperti itu sayang. Mama juga sama papa kamu dulunya begitu juga. Proses sayang. Yang penting kamu harus sabar ya. Pernikahan itu sangat berat, sangat banyak sekali ujian didalamnya hingga membuat kita ingin menyerah saja. Tapi itulah proses yang harus dilalui supaya kita bisa lulus dan bahagia." Ujar mamanya sambil mengelus rambut Titi.
Titi menghela nafas dengan berat, andai saja mamanya mengetahui apa yang pertama kali dikatakan oleh Arya di dalam mobil dan memperlakukannya benar-benar seperti pelayan di rumahnya. Bahkan hanya menganggapnya sampah yang sewaktu-waktu bisa dia buang bila tidak memerlukannya lagi. Pasti mamanya akan sedih dan kepikiran hingga menyesal memyetujui keputusan yang sudah dibuat oleh suaminya sendiri. Titi tidak ingin menambah beban pikiran mamanya yang sudah sangat banyak.
"Ayo sayang ini udah saatnya. Tapi sebelum itu kamu senyum dulu ya. Ingat pesan mama. Kamu harus kuat ya." Ujar mamanya sambil menepuk-nepuk bahu Titi.
Titi menatap mamanya sambil tersenyum. 'Mama benar, aku harus kuat. Apapun yang dilakukan Arya kedepannya, semoga aku bisa sabar melaluinya.' Batinnya lalu beranjak dari posisinya berjalan masuk ke dalam gedung tempat resepsi pernikahan mereka akan dimulai.
Wajahnya tersenyum, namun hatinya menangis. Terlihat jelas wajah tampan Arya yang menatapnya sambil tersenyum yang sulit untuk di simpulkan olehnya. Lebih menyeramkan dibanding wajah ketatnya seperti biasa. Ada maksud tersirat dari tatapannya yang seolah Titi dapat menyimpulkannya.
"Sudah bisa dimulai,"
Setelah tangan papa Titi berjabatan tangan dengan tangan Arya, ijab kabulnya pun akhirnya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali. Hanya dengan sekali mengucapkannya saja Arya telah berhasil tanpa harus mengulanginya lagi. Dengan suara lantang, kuat dan tegas dia mampu membuat Titi yang berada tepat di sebelahnya seketika terhipnotis. Andai saja dia lelaki yang lembut. Mungkin ia akan dengan mudah jatuh cinta. Seketika Titi menepis pikirannya. Dia kembali tersadar kalau lelaki itu tidak mencintainya, lelaki itu hanya ingin membalas dendam dengan tujuannya sendiri untuk menghancurkannya.
Tanpa terasa akhirnya acara hari ini berakhir juga. Arya tidak perlu lagi berakting. Sesampainya di kamar hotel yang telah ia persiapkan, Arya yang sudah merasa gerah melepaskan jas dan kemejanya. Lalu terus menatap kearah Titi yang sejak tadi hanya menunduk tanpa mengatakan apapun.
"Apa kamu tidak melihat? Acaranya telah berakhir. Itu artinya awal mula penderitaanmu telah di mulai."
"Lantas kamu ingin melakukan apa?" Balas Titi dengan memberanikan diri menatap Arya.
Arya tersenyum mengejek, "Siapkan air panas untuk ku!" Pintanya tanpa bisa dibantah.
"Baik," Titi bangkit dari duduknya.
"Tunggu! Ternyata kamu begitu naif dan penurut juga ya."
Titi kembali menghentikan langkahnya lalu menatap Arya kembali. Terlihat jelas tatapan kesalnya yang berusaha untuk ditahannya.
"Aku hanya ingin menuruti ucapanmu di mobil kemarin." Balasnya lantang.
Arya malah tersenyum menyeringai, seperti binatang buas, "Buka bajumu di depanku."
"Hah?"
"Kenapa? Bukankah kita sudah sah? Apapun yang aku inginkan harus kamu lakukan bukan?"
Rasanya air mata Titi saat ini sudah ingin terjatuh. Dia merasa lelaki yang sudah menjadi suaminya itu seperti ingin merendahkannya. Seperti wanita panggilan.
Belum lagi Titi memberikan respon, Arya meleparkan lingerie yang sudah dia persiapkan.
"Pakai ini! Goda aku."
Titi hanya menatap lingerie pemberian Arya lalu kembali menatap lelaki itu.
"Kenapa malah diam saja? Cepat lepas pakaianmu!" Bentaknya.
Dengan kedua tangan yang masih gemetar, Titi melepaskan reseleting gaunnya. hingga membuat tubuhnya terlihat dengan sempurna.
"Cepat lepaskan!" Tunjuk Arya pada bra yang dikenakan Titi.
Titi menuruti permintaan lelaki itu hingga tubuhnya tidak mengenakan sehelai benangpun. Terlihat bentuk tubuhnya yang begitu seksi dengan dua gunung kembar yang terbilang cukup besar dan menggoda. Titi hanya menuduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Lelaki itu benar-benar ingin menyakiti harga dirinya.
"Kamu sepertinya cocok juga sebagai wanita penggoda." Ketusnya. Kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulut suaminya sendiri.
Titi masih menatapnya dengan membelalakkan kedua matanya sangking geramnya, "Kamu benar, aku wanita yang sudah kamu bayar bukan?" Balasnya.
"Tau diri juga ya kamu ternyata. Wanita yang harusnya hanya untuk memuaskan nafsuku saja."
"Apa kamu ingin melakukannya sekarang?!" Ketus Titi yang tidak ingin mendengarkan setiap penghinaan dari Arya lagi. Begitu menusuk hatinya.
"Oh ternyata kamu sudah tidak sabar ya, Aku ingin kamu membersihkan tubuhmu yang kotor itu dulu."
"Baik!" Titi berjalan meninggalkan Arya menuju kamar mandi.
Di dalam balik kamar mandi, dia menangis sejadi-jadinya. "b******k!" Ketusnya.
Titi mandi dibawah shower yang terus membasahi tubuhnya sambil terus menangis dalam hening. Penghinaan Arya memang sangat membuatnya geram. Tapi ucapan lelaki itu memang benar adanya. Karena nyatanya dia dan keluarganya telah di bayar sesuai dengan kesepakatan. Tapi tetap saja dia sangat sakit menerimanya.