Dua tahun telah membasuh luka-luka lama menjadi guratan hikayat yang lebih dewasa. Di langit Jakarta yang selalu muram oleh jelaga, cinta Radika dan Indari justru mekar selayaknya bunga kaktus di tengah gurun tangguh, berduri bagi mereka yang tak mengerti, namun menyimpan simfoni air yang menyejukkan bagi peneguknya. Dua tahun ini, waktu seolah menjadi pelayan bagi kebahagiaan mereka. Radika atau sang maestro Alberto yang namanya kian menggema di seantero galeri seni dari Florence hingga New York kini telah menjelma menjadi sosok yang lebih tenang. Tak ada lagi Radika yang meledak-ledak karena cemburu buta, meski guratan posesif itu sesekali masih muncul seperti bayang-bayang di balik lukisan cat minyaknya yang belum kering. Matahari baru saja tergelincir di balik gedung-gedung pencak

