bc

Ranjang Panas Dokter Duda

book_age18+
28
FOLLOW
1K
READ
family
HE
age gap
arranged marriage
dominant
doctor
tragedy
bxg
secrets
like
intro-logo
Blurb

Alana yang benci dengan sebuah pernikahan, demi membiayai operasi ibunya, Alana merelakan dirinya untuk menikah dengan Dokter Akbar, seorang dokter berstatus duda sekaligus pemilik rumah sakit. Namun, pernikahan mereka hanyalah pernikahan siri lantaran Akbar belum resmi bercerai dengan istrinya. Alana tidak suka menikah karena ayahnya seorang pemalas yang kerjaannya hanya menumpang hidup dengan ibunya sampai ibunya Alana sakit-sakitan dan meninggal dunia.Menikah dengan suami seorang duda yang tentunya berpengalaman membuat Alana takut, apalagi istrinya Akbar terus saja mengganggu Alana. Alana memilih mundur dan minta bercerai, tapi Akbar tidak mau melepaskan Alana. Akankah pernikahan mereka langgeng atau Alana punya seribu cara supaya bisa lepas dari Akbar? Bagaimana sikap Akbar kala Alana diganggu oleh istrinya itu? Kenapa Akbar bisa bercerai dengan istrinya? Punya trauma apa Akbar di hubungan masa lalunya? Yuk simak kisah mereka!!!

chap-preview
Free preview
1. Menjadi Istri Siri
Alana terus berdiri di depan ruang operasi, jemarinya gemetar menggenggam rincian biaya rumah sakit. Angka yang tertera membuat dadanya sesak, seolah oksigen di sekitarnya tidak mampu lagi dia hirup. Kini Ibunya sedang terbaring tak berdaya di balik pintu kaca, napasnya lemah, tubuhnya juga lemah, dan tak sadarkan diri. “Kalau kamu mau ibumu segera ditangani .…” Suara berat itu muncul dari belakang, membuat Alana menoleh. Dokter Akbar, dengan tatapan tajam dan senyum samar, berdiri tegak seakan membawa keputusan antara hidup dan mati ibunya Alana. Dokter Akbar sengaja menjeda ucapannya. Sebab, melihat Alana yang semakin gelisah membuatnya senang. Dokter Akbar seperti menatap pertunjukan yang dia tunggu-tunggu sejak lama. “Kamu harus mau menjadi istri saya. Sekarang.” kata-katanya terdengar tegas membuat tubuh Alana menegang, karena Dokter yang dia sangka baik selama ini ternyata tidak benar-benar baik. Detik itu juga dunia Alana runtuh seketika. Alana ingin berbakti kepada ibunya karena cinta seorang anak dan baktinya kepada orang tua. Tapi, kalau bisa syaratnya tidak menikah karena Alana benci pernikahan. Jika mengingat pernikahan, jari-jari Alana saling mencengkram erat, bukan hanya itu saja karena wajahnya pun berubah menjadi pucat pasi. "Kenapa diam disitu? Mendekatlah ... bukankah ini yang kamu minta dariku?" tanya Akbar, seorang dokter di rumah sakit tempat ibunya Alana dirawat. Sedang Alana, dia hanya menunduk sambil memainkan baju bawahnya demi mengurangi rasa gugupnya. Alana tau keputusan ini akan membuat kehidupannya berubah di kemudian hari. Namun, sampai saat ini otak Alana buntu dan satu-satunya orang yang bisa membantu Alana adalah Akbar. "Mendekatlah atau saya akan berubah pikiran!" ancam Akbar, suaranya pelan tapi penuh penekanan. Perlahan langkah Alana maju mendekati Akbar. Tidak benar-benar dekat, tapi sudah cukup membuat Alana semakin gelisah. Bahkan, untuk menatap Akbar saja Alana tidak mampu. "Jadi ...." Akbar sengaja menggantungkan perkataannya, melihat Alana semakin gugup merupakan satu kepuasan bagi Akbar. "Ya saya setuju dengan syarat yang Dokter berikan," jawab Alana dengan suara gemetar, sedangkan Akbar tersenyum penuh kelicikan. "Bagus ... saya akan segera memberikan tindakan pada ibu kamu," ucap Akbar dengan suara lantang. Berbeda dengan Alana, kini tatapannya menjadi kosong. Dia seperti manusia yang tidak memiliki tujuan hidup lagi. Sebab mulai hari ini hidupnya dikendalikan oleh Akbar, laki-laki yang menyelamatkan ibunya dari masa kritis. "Saya sudah memenuhi syarat Dokter, sekarang Dokter harus segera menyelamatkan ibu saya!" ucap Alana. Baginya tak ada yang lebih penting selain nyawa ibunya saat ini. Tanpa berkata apapun Akbar pergi meninggalkan Alana di ruangannya seorang diri. Akbar langsung menjadwalkan operasi pada ibu Alana. Namun, sebelum itu dia akan menikahi Alana secara siri. "Sebentar lagi ada orang datang dan kamu ... mulai hari ini harus patuh pada saya!" tegas Akbar yang tak lama kembali setelah meninggalkan Alana beberapa menit lalu. Alana menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Jujur saja dia belum siap untuk menikah saat ini. Tapi, lagi-lagi keadaan yang memaksa dirinya harus menikah demi ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tak butuh waktu lama beberapa orang memasuki ruangan Akbar, ruangan pribadinya. Tubuh Alana menegang kala Akbar mulai mengucapkan ijab kabul. Air matanya menetes setelah kata sah terdengar di telinganya. "Sekarang kamu sudah sah menjadi istri saya," bisik Akbar membuat tubuh Alana menegang. "Dokter, pasien di ruang ICU semakin menurun keadaannya!" ucap Suster yang baru saja memberitahu Akbar. Alana panik, begitu juga dengan Akbar yang segera keluar ruangan. Langkah kakinya begitu cepat menuju ruang ICU. Di belakangnya ada Alana yang mengikuti dengan wajah memucat. "Tolong ... tolong selamatkan ibu saya," ucap Alana sambil berjalan dengan tergesa-gesa. Akbar pun masuk ke ruang ICU, namun begitu dia masuk layar monitor jantung sudah berbunyi nyaring. Tanpa pikir panjang Akbar segera mengambil tindakan. Namun takdir berkata lain, Allah lebih menyayangi ibunya Alana. "Dokter," kata Suster dan Akbar pun hanya mengangguk. Akbar segera keluar dari ruangan, begitu keluar tatapan Alana langsung tertuju padanya. Akbar sih menatap Alana dengan tatapan santai. Tak ada rasa bersalah atau tidak enak pada Alana. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir berkata lain ... Tuhan lebih menyayangi ibu kamu," ucap Akbar membuat Alana menatap tajam Akbar. "Apa?" teriak Alana tak percaya, dia bahkan sampai berani mendorong Akbar dan menerobos masuk ruang ICU. Tubuhnya gemetar, kakinya terasa tak kuat lagi menopang tubuhnya saat melihat kain putih sudah menutupi seluruh tubuh ibunya. Saat itu juga tangis Alana pecah, Alana menangis kencang. Dia tak menyangka ibunya akan meninggalkan dirinya secepat ini. "Ibu ... aku mohon jangan tinggalin aku. Ibu lihat sebentar lagi ibu mau operasi, ibu harus sembuh! Ibu jangan begini," ucap Alana sambil mengguncang tubuh ibunya yang kaku. Alana terjatuh di lantai saking lemasnya. Terdengar suara kaki melangkah mendekat ke arahnya. Namun, Alana tak peduli karena yang Alana inginkan saat ini hanyalah keadaan ibunya yang kembali stabil. "Sudah jangan menangisi orang yang lebih dulu meninggalkan kita ... karena, itu akan memberatkan beliau!" tegas Akbar menarik Alana untuk bangkit, sebab jenazah ibunya Alana akan segera diurus untuk kepulangannya. "Mana janji kamu untuk menyembuhkan ibuku? Mana?" teriak Alana bagaikan orang kesetanan. Tidak sadar Alana memukuli d**a Akbar, dia meluapkan emosinya saat ini. Akibat menangis terus menerus membuat kepala Alana pusing, pandangannya pun mengabur. Hingga membuat Alana pingsan dalam pelukan Akbar. "Segera urus pemakaman beliau!" titah Akbar sambil membopong Alana. Akbar berniat untuk membawa Alana ke apartemennya yang tidak jauh dari rumah sakit. Namun baru juga sampai lobi, rahang Akbar berubah mengeras begitupun tatapannya menatap seseorang yang paling dia benci. "Ooh jadi ini jalang yang membuat kamu tega menceraikan aku, Mas?" teriak Maharani, mantan istri Akbar. "Jaga ucapanmu! Ini di rumah sakit!" tegas Akbar dengan suara lirih, karena perkataan Maharani membuat beberapa orang melirik ke arahnya. Akbar sendiri seakan tidak mempedulikan perkataan Maharani. Dia terus berjalan menuju ke parkiran. Dan, sikap Akbar seperti ini membuat Maharani semakin kesal. "Mas tunggu!" teriak Maharani saat Akbar akan menutup mobilnya. "Ada apa?" tanya Akbar dengan suara dingin. Maharani membuang napasnya kasar. "Lihat ... wanita ini nggak ada apa-apanya dibanding aku yang jago memuaskan mu di ranjang. Lebih baik kamu buang dia dan kembali bersamaku, Mas." Maharani terus mendesak Akbar, bahkan tangannya pun mulai nakal menyentuh bagian-bagian sensitif Akbar. "LEPASKAN TANGAN KOTORMU ITU, MAHARANI!" bentak Akbar dengan menepis tangan Maharani cukup kencang. Wajah Maharani mengeras, untuk pertama kalinya Akbar menolak dirinya. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Maharani pun berusaha untuk menyentuh Akbar lagi, tapi kali ini Akbar lebih cepat menepisnya. "Pergi saja dengan laki-laki b******k itu! Dan, jangan pernah muncul lagi di hadapan saya!" tegas Akbar lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dengan begitu keras, hingga membuat Maharani terkejut. "Aku tahu, Mas ... aku tahu kamu bersikap seperti ini karena ingin balas dendam kan? Dan, aku tahu sebenarnya kamu masih mencintaiku," ucap Maharani dengan penuh percaya diri sambil menatap mobil Akbar yang terus menjauh dari pandangannya. Akbar terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak sampai sepuluh menit dia sudah tiba di apartemen. Akbar pun lekas membawa Alana menuju ke unitnya. Kedatangan Maharani tadi membuat emosi Akbar jadi tidak stabil. Setelah meletakkan Alana di ranjang, dia pergi keluar kamar untuk mencari yang segar-segar. Sebotol Vodka menemaninya dikala pikirannya sedang ruwet. *** "Ibu ...." teriak Alana tersadar dari pingsannya. Dilihat sekeliling kamar mewah yang sepi, Alana pun bergegas turun dari ranjang. Dia berjalan keluar kamar, dilihatnya sekeliling sepi tak ada orang. Alana bingung, karena dia tidak tahu saat ini berada dimana. "Sudah sadar?" bisik Akbar tepat di telinga Alana dan pelukan Akbar dari belakang membuat tubuh Alana menegang. Belum lagi aroma alkohol membuat Alana terasa mual. "Lepas!!! Saya harus menemui ibu saya!" ucap Alana sambil berusaha melepaskan tangan Akbar yang bersemayam di perutnya. "Ibu kamu sudah tenang ... mending sekarang kita menikmati malam pertama," bisik Akbar sukses membuat Alana terdiam menegang. Hingga beberapa detik kemudian Alana berkata, "Nggak! Aku bukan istrimu lagi Dokter Akbar! Ibuku sudah meninggal dan kamu gagal menyelamatkan ibuku?!" teriak Alana kembali menangis histeris. Akbar pun semakin erat memeluk Alana, pikirnya untuk memberikan Alana kekuatan. Namun, Alana terus memberontak. Alana tak nyaman dengan perlakuan Akbar yang seperti ini. "Lepas!!! Aku mau ketemu ibuku!" teriak Alana lagi dan Akbar mulai merenggangkan pelukannya. "Ibumu sudah di kubur tadi siang. Kalau kamu mau ke pemakaman lebih baik besok! Sekarang, udah malam. Lebih baik kita tidur istirahat!" titah Akbar dan tatapan Alana seketika tertuju pada jam di apartemen Akbar. Alana baru sadar kalau sekarang sudah jam sembilan malam. Tubuh Alana pun melemah, dia seperti orang linglung. Hampir saja Alana terjatuh kalau tidak ditangkap oleh Akbar. "Pernikahan kita batal karena ibuku sudah tidak ada," ucap Alana lirih. Akbar menyeringai tipis. "Siapa yang bilang begitu? Kamu akan selamanya jadi b***k saya! Ha-ha-ha." Melihat Akbar seperti ini membuat Alana takut. Alana baru tahu sisi lain dari Akbar. Bahkan, tertawanya saja sukses membuat orang didekatnya merinding. "Nggak! Itu nggak ada perjanjian dikontrak!" bantah Akbar dengan suara menggelegar membuat Alana semakin takut. "Kamu akan selamanya menjadi budakku, Alana ... jadi, jangan harap kamu bisa kabur dari saya!" ucap Akbar dengan penuh penekanan. "Nggak!! Saya nggak mau!" teriak Alana menolak saat Akbar ingin menyentuhnya. "Kamu harus puaskan saya sekarang, apakah kamu bersedia?" tanya Akbar dengan menatap Alana dengan tatapan nakal. Akbar langsung saja membopong Alana ke kamar. Lagi-lagi Alana terkejut, tanpa ba-bi-bu Akbar kembali melakukan sesuatu hal yang Alana tidak suka. Namun, Alana bisa apa selain menuruti daripada terus memberontak yang akan membuatnya lelah saja. Lampu kamar redup, bayangan tirai bergoyang diterpa angin malam. Ranjang besar dengan sprei putih tampak seperti panggung, tempat dua jiwa yang baru saja diikat pernikahan akan melakukan ritual malam pertama mereka. Akbar segera melempar Alana ke atas ranjang membuat Alana menatapnya dengan senyum sinis. "Kamu pikir aku akan hidup dengan aturan-aturanmu itu? JANGAN HARAP!” bentak Alana.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.0K
bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

TERNODA

read
200.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook