2. Jangan Menatap Saya Dengan Tatapan Mesyummu Itu!

1352 Words
"Kamu ... belum satu hari menjadi istri saya sudah berani melawan," ucap Akbar yang semakin mengikis jarak antara dia dan Alana. Disini hembusan napas mereka saling beradu. Tanpa Alana sadari kalau Akbar sudah mengungkungnya. Semakin Alana takut semakin senang Akbar, tapi kali ini Alana tak lagi menunjukkan rasa ketakutannya itu. "Kenapa tidak berani sama Dokter b******k seperti anda ini?" ucap Alana begitu lantang, bahkan Alana berani menatap balik Akbar dengan tatapan tajam. "Bagi saya anda ini hanya seorang pembunuh! Anda tidak menepati janji anda pada saya, jadi untuk apa saya harus menghormati anda? Apakah anda tergila-gila dengan kehormatan?" tanya Alana dengan suara lantang. Sedangkan, Akbar melotot mendengar perkataan Alana yang sangat tajam itu. "Kamu akan menyesal berkata seperti itu pada saya, Alana?!" kata-katanya penuh penekanan. "Menyesal? Ha-ha-ha ... saya tidak akan menyesal berkata seperti itu pada seorang pembunuh! Minggir!! Dokter Akbar, kamu adalah laki-laki kejam pertama kali yang aku kenal!" ucap Alana sambil berusaha melepaskan diri dari Akbar, namun Akbar hanya menertawainya tanpa bergeser sedikitpun. "Oh iya?" ucap Akbar membuat Alana semakin emosi, rasanya Alana semakin benci dengan Akbar. "Manusia tidak punya perasaan! AKBAR, TERBUAT DARI APAKAH HATI KAMU ITU? KAMU TAU IBU SAYA MENINGGAL, KAMU MALAH MEMBAWA SAYA KESINI BUKAN KE PEMAKAMAN, KAMU BENAR-BENAR TIDAK PUNYA OTAK!" Alana terus mengeluarkan emosinya sampai dia berteriak tepat di depan wajah Akbar. PLAK Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat di wajah Alana, bahkan setetes darah membasahi pinggir bibir Alana. Alana tak menyangka Akbar bisa sejahat itu padanya. Air mata Alana semakin menetes deras, tatapannya pun terlihat sangat membenci Akbar. "Coba katakan lagi! Sepertinya satu buah tamparan tidak cukup untukmu," bisik Akbar sambil mengigit daun telinga Alana membuat Alana mendesis sakit. "Ini kah mulut tajammu itu?" tanya Akbar dengan seringai di wajahnya tak lama sebuah kebrutalan dia lakukan pada Alana. Diperlakukan seperti ini membuat Alana jijik pada dirinya sendiri. Sementara Akbar, entah sudah sejak kapan dia merobek pakaian milik Alana. Bahkan, matanya tak berkedip menatap bagian rahasia milik Alana. "CUKUP!!! JANGAN MENATAP SAYA DENGAN TATAPAN MESYUMMU ITU!!" teriak Alana masih bersikeras melepaskan diri dari Akbar. Alana menatap Akbar dengan mata yang masih basah oleh air mata, namun kini ada api yang menyala di sana, api kebencian pada Akbar. Bukannya tunduk, Alana justru berusaha untuk menegakkan tubuhnya. "Mulai saat ini kamu adalah budakku! So, ... kamu harus tunduk padaku!" sahut Akbar sambil menyesap leher jenjang Alana. Alana semakin mendesis, bukannya menikmati dia malah semakin jijik. "Aku tidak akan pernah tunduk pada laki-laki sepertimu," bisiknya dengan suara bergetar, tapi penuh tekad. Akbar tersenyum miring, senyum yang lebih menyerupai luka daripada kebahagiaan. "Aku suka keberanianmu, Alana. Tapi keberanian itu akan menjadi musibah untukmu sendiri." kata-kata Akbar langsung membuat Alana terdiam membisu. Setelah puas bermain-main dengan Alana, Akbar melangkah mundur, seolah memberi ruang, namun tatapannya tetap tertuju pada Alana. Tatapan itu bukan sekadar marah tapi ada obsesi, ada rasa ingin memiliki, ada sesuatu yang membuat Alana merinding sekaligus bingung. Alana memegang bibirnya yang berdarah, hatinya berdegup kencang. "Lihat saja Akbar, aku akan balas semua perlakuan kamu ke aku!" ucapnya dengan penuh tekad yang membara di tubuhnya. Alana sangat benci Akbar. Alana ingin lari menjauh tanpa ada lagi Akbar. Namun, belum juga berlari jauh, Alana terkejut saat Akbar menguncinya dari luar. "Sial!" umpat Alana saat mengetahui pintunya dikunci oleh Akbar. "Aku nggak nyangka ada manusia berhati iblis kayak dia!" ucapnya sambil mencari cara untuk kabur, sayangnya tidak ada celah untuk Alana kabur karena sebelumnya Akbar sudah menyiapkan semua ini untuk Alana. "Buka nggak pintunya!" teriak Alana sambil menggedor-gedor pintu, sekuat tenaga dia berusaha menggedor pintu supaya dibukakan, sayangnya semua usahanya ini hanya sia-sia. Napas Alana tersengal karena kelelahan menggedor pintu sambil teriak-teriak. Alana pun duduk di lantai sambil meratapi nasibnya. Alana bertekad dia tidak mau dianggap lemah oleh Akbar, sebab semakin dia terlihat lemah maka Akbar semakin senang. "Maafkan aku, Bu ... maafkan aku," ucap Alana pilu. Harusnya sebagai bentuk penghormatan terakhirnya Alana ada di pemakaman ibunya. Alana menyaksikan proses demi proses berlangsung. Namun, karena Akbar si manusia tidak punya hati itu jadilah Alana disekap. "Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan balasan setimpal Pak Tua," ucap Alana emosi. Hingga dia melihat vas bunga di atas meja kamar. Tanpa berpikir panjang Alana segera mengambil vas bunga itu dan memecahkannya. Bukan itu saja, Alana bak orang kesetanan karena dia terus melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. "Dasar pembunuh! Dasar pembunuh! Sampai kapanpun aku benci kamu!" teriak Alana dengan napas tersengal. Mendengar suara gaduh Akbar pun melangkah menuju kamar tempat Alana dikurung. Begitu pintu dibuka, dia terkejut sambil memijat pelipisnya. Setelah itu, tatapan tajam pun dilayangkan Akbar pada Alana. "Wah hebat sekali ya baru tinggal belum sampai satu hari sudah membuat semua barang-barang saya hancur berantakan seperti ini. Apakah orang tua kamu tidak pernah mengajarkan sopan santun?" ucap Akbar sambil bertepuk tangan. Bukannya takut Alana malah mendekati Akbar. Bahkan, jarak mereka kini begitu dekat. Alana menatap Akbar tanpa sedikitpun rasa takut sama sekali. "Semua barang-barang disini nggak ada harganya dibandingkan sama nyawa ibu saya!" teriak Alana dengan suara gemetar membuat Akbar hanya terkekeh. "Orang yang sudah mati tidak akan hidup lagi! Alana jangan bodohlah masa begitu saja kamu tidak tau," sahut Akbar membuat Alana mengepalkan kedua tangannya erat. "Kalau saya bodoh kamu apa? Orang pintar yang hobinya ngebunuh orang, ha?" bentak Alana lagi dan kesabaran Akbar lama-lama jadi terkikis. Dia pegang bahu Alana begitu erat, rasanya seperti cengkraman. Saking kencangnya membuat Alana meringis. Dan, saat itu juga kepuasan Akbar terlihat karena melihat Alana kesakitan membuat Akbar terkekeh. "Meninggalnya orang tua kamu itu takdir! Kenapa kamu masih menuduh saya sebagai pembunuh? Kamu masih belum puas dan ingin melaporkan saya? Silahkan ... karena, saya yakin saya tidak terbukti bersalah!" tutur Akbar dengan penuh penekanan. "Orang tua kamu drop sewaktu saya belum datang ke ruang ICU. Jadi, stop mengatai saya seorang pembunuh. Karena, saya bukan pembunuh!" imbuhnya lagi masih dengan mencengkram bahu Alana dengan kuat. "Sekarang, lebih baik kamu tanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan disini!" ucap Akbar mendorong Alana, sementara Alana yang pintar membaca situasi dan kondisi pun langsung memegang tangan Akbar begitu erat alhasil dia tidak sampai terjatuh. Alana menahan napas, matanya berkilat penuh amarah bercampur dengan luka yang begitu mendalam. Cengkraman tangan Akbar membuat bahunya terasa perih karena Akbar menancapkan kukunya yang tajam itu. Untung saja genggaman tangannya pada lengan Akbar membuat dirinya tak sampai terjatuh, Alana lega meskipun belum benar-benar lega. "Aku tidak akan pernah berhenti sampai kebenaran terungkap," bisik Alana dengan suara bergetar, namun penuh tekad. Akbar menatapnya tajam, senyum sinis masih tersisa di bibirnya. "Kebenaran? Kamu hanya mencari alasan untuk menutupi kelemahanmu sendiri. Orang tuamu mati karena takdir, bukan karena aku." Bentakkan Akbar kini cukup kencang, Alana sendiri sampai terkejut. Dengan cepat, Alana memutar tubuhnya, melepaskan diri dari cengkraman itu, lalu menatap Akbar lurus. "Lepaskan saya! Saya mau ke makam!" ucap Alana tapi Akbar kembali menahan pergerakan tubuh Alana. "Sebagai seorang suami saya nggak mengizinkan kamu kesana!" tegas Akbar. Akbar terdiam sepersekian detik, cukup lama untuk membuat Alana yakin bahwa dia baru saja menyentuh titik lemah. Suasana ruangan menjadi tegang, udara seakan menekan d**a mereka berdua. Alana maju selangkah, jarak di antara mereka semakin dekat. "Cuih." Alana meludahi Akbar, hal yang tak pernah Akbar pikirkan. "Kamu ... rupanya nyali kamu benar tak main-main ya," ucap Akbar yang kini tangannya sudah mencengkram kuat dagu Alana. "Kenapa saya harus takut? Kasih alasan kenapa saya harus takut sama orang seperti anda?" ucap Alana dengan suara meninggi. Cengkraman di dagunya pun semakin keras, tapi Alana tidak memperlihatkan sedikitpun rasa ketakutannya. "Kamu ... kamu adalah orang pertama yang berani melawanku!" ucap Akbar lalu kembali ingin pergi, tapi Alana menahannya. "Saya tau dibalik sini ... Anda masih punya hati nurani Tuan Akbar, saya hanya ingin melihat prosesi pemakaman ibu saya. Izinkan saya pergi melihatnya," ucap Alana dengan suara lebih lirih. Akbar membuang napas kasar. Tidak mengatakan "iya" melainkan dengan tatapan mata yang membuat Alana akhirnya diberikan kesempatan untuk menyaksikan prosesi pemakaman ibunya. Alana akhirnya bisa merasa lega dan lagi-lagi kali ini belum sepenuhnya merasa lega. Tanpa berlama-lama Alana keluar dari kamar yang seperti kapal pecah itu. Dalam hatinya Alana bertekad untuk tidak kembali lagi ke neraka dunia ini. Dia akan diam-diam berniat kabur dari Akbar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD