3. Pikiran Liar Dokter Akbar

1312 Words
"Bu," panggil Alana lirih. Gundukan tanah itu masih basah, proses pemakaman baru saja selesai. Alana tak kuasa menahan air matanya selama proses itu. Dia terus menangis sambil memegangi papan nama ibunya. "Maafkan aku Bu, maafkan aku ... seharusnya aku bisa lebih cepat mencari uang untuk biaya rumah sakit sama operasi Ibu," ucap Alana dengan d**a yang terasa sesak. Andai waktu bisa diulang sewaktu Akbar memberikannya tawaran pada dirinya, Alana langsung setuju tanpa berpikir panjang. Sayangnya nasi sudah berubah menjadi bubur. Nyawa yang telah berpulang ke sang pencipta pun tak bisa kembali lagi ke dunia ini. "Ibu udah nggak sakit lagi ya? Ibu udah senang disana, tapi aku ... aku sendiri disini, Bu." Alana terus berkata dan mengeluarkan isi hatinya. Rintikan hujan mulai terjatuh dan membasahi Alana. Namun, Alana sama sekali tidak bergerak sedikitpun untuk meninggalkan makam mamanya itu. Kakinya terasa berat untuk melangkah sampai Alana tak sanggup untuk berdiri. "Mau sampai kapan kamu tangisi kepergian ibumu itu? Besok? Lusa? Tahun depan? Itu semua tidak membuat ibumu hidup lagi!" suara lantang Akbar membuat Alana terkejut. Entah sejak kapan Akbar ada di belakangnya sambil membawa payung, karena sejak tadi Alana hanya fokus pada makam sang ibu. Hatinya hancur karena orang yang selama ini selalu menguatkan dirinya adalah sang ibu. Kini kekuatan Alana telah pergi, Alana seperti orang yang tak lagi mempunyai tujuan hidup. "Ayo pulang!" ajak Akbar sambil menggandeng tangan Alana, namun Alana segera menepisnya. "Lepas! Kalau Dokter mau pulang, pulang aja sendiri jangan ajak-ajak saya!" ketus Alana tanpa melirik sedikitpun pada Akbar. Tanpa banyak bicara Akbar segera membopong Alana. Tak peduli Alana memberontak ingin diturunkan. Hujan semakin deras membuat Akbar tak punya cara lain selain memaksa. "Saya nggak mau pulang sama Dokter! Saya bisa pulang sendiri!" ucap Alana berusaha membuka pintu mobil, tapi Akbar buru-buru menguncinya. "Saya suami kamu sekarang! Kamu harus nurut apa kata saya!" tegas Akbar dengan penuh penekanan. "Nggak!! Pernikahan kita nggak sah karena ibu saya sudah meninggal!" sahut Alana membuat Akbar terkekeh. "Selagi kata talak belum saya ucapkan maka kita masih sah suami istri," ucap Akbar yang kemudian menambah laju kecepatan mobilnya. Melihat Akbar membawa mobilnya semakin ngebut membuat Alana ketakutan. Akbar memang tak pernah main-main dengan tindakannya dan tak peduli Alana ketakutan. Akbar terus melajukan mobilnya sampai di apartemennya. "Turun!" tegas Akbar yang sudah membukakan pintu mobil untuk Alana. Masih dengan gemeteran Alana turun dari mobil. Alana hampir saja terjatuh untungnya Akbar segera menahan tubuhnya. Akbar berdecak kesal karena sejak pagi tadi belum ada asupan apapun masuk ke tubuh Alana. "Gayanya mau minta pembatalan nikah, ngurus dirinya sendiri aja belum benar!" gerutu Akbar yang terus membopong Alana menuju ke unitnya. Akbar menurunkan Alana perlahan dan membaringkan Alana di atas ranjang. Awalnya pikiran Akbar normal-normal aja, namun saat melihat pakaian Alan tersingkap membuat jakun Akbar naik turun. Akbar yang sudah berpengalaman tentunya tak kuasa menahan has rat yang halal baginya. "Nggak boleh buru-buru! Dia masih pingsan masa iya langsung saya garap gitu aja," gumam Akbar lirih sambil menggelengkan kepalanya. Namun, mata normalnya tak bisa berpaling dari pemandangan yang halal dia lihat. Sudah lama tidak olahraga membuat belalai Akbar terasa sesak dan ingin segera di keluarkan dari sarangnya. Akbar pun memberanikan diri untuk menyentuh Alana, namun saat telapak tangannya menyentuh Alana tiba-tiba terasa seperti sengatan listrik. "Mikir apasih saya ini," gumam Akbar kemudian pergi buru-buru dari kamar sebelum pikirannya semakin liar. Akbar segera ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya. Biasanya saat bersama Rania dulu Akbar tak pernah seperti ini. Bahkan untuk membangkitkan has ratnya butuh waktu lama, tapi bersama Alana hanya melihat sedikit tubuhnya yang terbuka sudah membuatnya sesak dibagian bawah. "Resiko nikah sama bocil begini nih," ucap Akbar sambil terus membasahi kepalanya. *** Malam semakin larut membuat Akbar tak bisa terlelap. Sudah mandi dan sudah melakukan aktivitas supaya tidak keinget terus dengan kejadian tadi. Tapi, namanya naluri laki-laki tidak bisa bohong karena sampai saat ini Akbar terus saja kepikiran sampai tidak bisa tidur. Tok-tok-tok Malam-malam tumben sekali ada yang mengetuk pintu kamar Akbar, dia pikir kurir pengantar makanan karena tadi Akbar sempat pesan makanan untuk dia dan Alana makan. Tanpa dilihat dulu Akbar yakin kurir yang datang, namun saat pintu dibuka Akbar terkejut dengan kedatangan Rania yang menggunakan pakaian seksi. "Mau ngapain kamu kesini?" tegur Akbar dengan suara meninggi. Tidak ada yang mempersilahkan masuk tiba-tiba Maharani masuk begitu saja. Maharani langsung duduk di sofa dengan pa yu da ranya sengaja dia condongkan pada Akbar supaya Akbar bisa melihatnya. Bukannya ber ga irah, Akbar malah jijik melihatnya karena kejadian beberapa waktu lalu masih sangat membekas di otaknya. "Pulang sekarang!" usir Akbar dengan membentak Maharani, namun Maharani malah terus mancing-mancing Akbar membuat Akbar murka. "Ciiihh kamu pikir saya akan tergoda dengan kamu? Kamu salah! Saya malah jijik melihat kamu berpenampilan seperti ini!" ucap Akbar menatap jijik Maharani. "Bukankah kita sering menghabiskan waktu di ranjang, Sayang? Ayolah kita udah lama nih puasa ... apa kamu nggak kangen sama goyangnya aku?" ucap Maharani dengan senyum nakalnya yang biasa dia gunakan untuk merayu Akbar. Maharani bahkan dengan beraninya menyentuh Akbar, menyentuh area sensitif Akbar. Akbar pun langsung menepis tangan nakal Maharani. Tak peduli Maharani meringis akibat Akbar terlalu kencang menepisnya. "Jauhkan tangan kotormu itu!" tegas Akbar, sedangkan Maharani hanya tersenyum menggoda. "Lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Akbar yang sebenarnya jijik bersentuhan dengan Maharani, tapi jika tidak disuruh pergi secara paksa, Maharani akan terus berbuat hal di luar nalar yang membuat Akbar semakin pusing dibuatnya. "Sok jual mahal ... padahal dulu kamu seperti kucing yang dikasih ikan asin," ucap Maharani yang dimana tangan nakalnya itu kembali menggoda Akbar. Plak Akbar melayangkan tamparan di pipi Maharani karena dengan beraninya Maharani mencium le her jenjang Akbar. Akbar pun mengepalkan tangannya dan siap untuk memukul Maharani, namun dia tahan karena Maharani adalah seorang wanita. Akbar pun menyeret Maharani keluar, tak peduli dia menolak karena Akbar terus memaksanya. "Gara-gara ja Lang itu kamu tampar aku, Mas?" ucap Maharani saat sudah di luar. "Apa kamu bilang ja Lang? Bahkan, dia lebih baik daripada kamu!" sahut Akbar kesal. Akbar ingin menutup pintunya, tapi Maharani menghalanginya. Berbagai cara dia lakukan supaya Akbar tak menutup pintunya. Tapi, tenaga laki-laki lebih kuat daripada tenaga wanita. "JANGAN PERNAH DATANG KESINI LAGI KALAU NGGAK MAU RUMAH YANG KAMU TEMPATI SAAT INI SAYA AMBIL ALIH!" ancam Akbar membuat Maharani akhirnya mundur dan menutup pintu begitu kencang. Maharani menghentakkan kakinya ke lantai, sakit hati karena Akbar berani menamparnya. Matanya pun berkaca-kaca sambil terus memandangi pintu unit apartemen Akbar. Dari tatapannya tersirat penuh kebencian pada Akbar. "Kamu perlakukan aku seperti ini? Oke aku juga akan perlakukan wanitamu itu seperti ini!" ucap Maharani dengan senyum penuh arti lalu meninggalkan apartemen Akbar. Sementara, di dalam Akbar terkejut saat melihat Alana sudah jalan mendekati dirinya. Terlihat tubuhnya begitu lemah karena jalannya saja masih tertatih dan hampir saja terjatuh. Lagi-lagi Akbar lah yang menolongnya. "Istirahat aja kalau masih pusing," ucap Akbar ingin membantu Alana duduk di sofa, namun baru disentuh sedikit doang Alana langsung menepisnya. "Saya bisa sendiri!" ucap Alana dengan langkah tertatih. "Kenapa saya dibawa kesini? Saya mau pulang!" ucap Alana lirih. "Mulai sekarang kita tinggal bareng!" sahut Akbar cepat. "Sekarang kamu makan biar nggak gampang pingsan!" kata Akbar sambil meletakkan nasi box ke hadapan Alana. Seketika cacing-cacing di perut Alana bunyi, Akbar yang mendengarnya pun hanya tersenyum tipis dan pura-pura tidak tau. Akbar yakin kalau dia menegurnya pasti Alana malu. Apalagi saat box nasi itu Akbar buka, dia bisa melihat kebinaran di mata cantik Alana. "Tadi ngobrol sama siapa?" tanya Alana sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Istri saya yang sebentar lagi akan jadi mantan," jawab Akbar membuat Alana membanting sendoknya. "Jadi ... Dokter belum cerai sama istrinya dan sudah menikahi saya? Wah nggak bener nih! Saya mau pergi aja, saya nggak Sudi menikah dengan laki-laki beristri!" ucap Alana sedikit berteriak karena terkejut. Alana pun gagal melangkahkan kakinya karena Akbar segera menahannya dengan menggenggam tangan Alana. "Saya tidak mengizinkan kamu untuk pergi! DUDUK DAN HABISKAN MAKANANNYA!" ucap Akbar dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD