"Pernikahan ini aku anggap nggak sah karena ternyata Dokter mempunyai istri," ucap Alana setelah selesai makan.
Akbar sendiri hanya melirik sekilas lalu melanjutkan makannya. Jelas sikap Akbar ini membuat Alana kesal, Alana berdiri sambil berkacak pinggang. Sedang, Akbar terlihat santai sekali.
"Aku mau pergi! Lebih baik aku hidup miskin daripada harus menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang!" tegas Alana dengan napas memburu, setiap tatapan yang dia layangkan pada Akbar penuh kebencian.
Hidupnya kini penuh aturan, sementara Alana benci aturan. Dia suka hidup bebas tanpa ada yang mengatur ini dan itu. Ketika Alana ingin kembali melangkah yang kesekian kalinya, Akbar lagi dan lagi menahannya.
"Saya sudah menjatuhkan talak pada mantan istri saya itu. Proses pengadilan cukup lama, mungkin satu bulan lagi saya baru benar-benar cerai secara negara dari dia." Akbar berkata pelan dan penuh penekanan.
"Istri saya sekarang hanya kamu jadi jangan pernah berniat kabur dari saya!" imbuhnya lagi dengan penuh ketegasan.
"Halah ... paling juga Dokter kan yang nggak cukup dengan satu wanita makanya Dokter memberikan syarat pada saya untuk menikah dengan Dokter?" ucap Alana yang tanpa sadar Akbar mencengkram tangan Alana begitu kuat.
Rahang Akbar seketika mengeras, tatapannya tajam, auranya pun berubah menjadi dingin. Kata-kata Alana begitu membuatnya sensitif. Tidak berbicara apapun tapi Akbar segera membawa Alana ke kamar membuat tubuh Alana menegang.
"Eh mau ngapain?" tanya Alana yang tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Akbar.
Sikap Akbar ini membuat Alana terpaku sampai tidak sadar dia telah menatap Akbar lama. Alana juga tidak sadar kalau Akbar sudah meletakkannya di ranjang dan juga mengungkungnya. Ketika hembusan napas mereka saling mengenai wajah mereka barulah Alana tersadar dan segera mendorong tubuh Akbar.
"Dokter mau apa?" tanya Alana gugup.
Berdekatan dengan Akbar membuat jantung Alana berdetak kencang, karena Akbar tiba-tiba suka melakukan hal tak terduga. Dan benar saja, Alana terpaku saat merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya. Bukan sekedar menempel tapi juga menuntut untuk masuk.
Hmmmp
Alana terus mempertahankan dirinya supaya tidak membuka mulutnya, tapi Akbar yang sudah memiliki pengalaman terus menuntut Alana supaya membuka mulutnya. Bahkan, Alana terkejut saat Akbar menggigit bibir mungilnya itu. Alhasil pertahanan diri Alana goyah, karena Akbar berhasil membuat Alana membuka mulutnya.
"Baru pertama?" bisik Akbar membuat mata Alana melotot.
Lagi-lagi Alana hanya bisa mendorong d**a Akbar dengan tenangnya yang tak seberapa itu. Dan, lagi-lagi Alana tidak bisa membuat Akbar menyingkir dari tubuhnya. Akbar malah semakin nakal dengan menggigit kecil telinga Alana.
"Ternyata kamu masih polos ya jadi nggak sia-sia saya nikahin kamu," ucap Akbar sambil tersenyum tipis membuat tubuh Alana merinding mendengarnya.
"Saya ingin meminta hak saya malam ini," ucap Akbar lirih dengan suara yang semakin berat.
Belum sempat Alana menahan, tiba-tiba tangan Akbar sudah berselancar meraba seluruh lekuk tubuh Alana. Alana menggelinjang kegelian sedangkan Akbar sangat menikmati sekali. Apalagi saat suara manja Alana akhirnya lolos juga.
"Aaahhh," ucap Alana membuat senyum lebar Akbar terlihat, padahal setahun belakangan ini dia tidak pernah senyum pada siapapun.
"Tolong jangan lakukan ini," ucap Alana dengan suara lirih.
Akbar sendiri tak peduli lagi Alana bicara apa, has ratnya sudah diujung tanduk. Bahkan, setiap rancauan Alana membuatnya semakin terus semangat. Hingga tiba-tiba tubuh Alana gemetar hebat.
"Jangan sentuh saya ... saya mohon jangan sentuh saya!" ucap Alana lirih yang akhirnya membuat Akbar tersadar dan bangkit dari atas tubuh Alana.
Napas tersengal dan juga air mata yang terus menetes membuat Akbar tidak tega melihat Alana seperti itu. Akan dikatai laki-laki b******k kalau dia terus memaksa Alana. Bahkan, ketakutan Alana bukannya mereda malah semakin menjadi.
"Jangan sakiti saya," ucap Alana dengan mata terpejam.
Akbar membuang napasnya kasar, dia tak menyangka Alana akan merasa ketakutan seperti ini. Akbar pun kembali mendekati Alana dan menyentuhnya pelan, tapi Alana terkejut dan hampir saja memukul Akbar. Melihat Akbar kembali mendekat membuat Alana gemetar hebat lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Akbar yang jadi ikutan panik.
Akbar menelan ludah, rasa bersalah menyesakkan dadanya. Dia mundur dan segera duduk, Akbar ingin memberi Alana ruang untuk bernapas. Tatapan matanya penuh penyesalan, sementara Alana masih terisak, tubuhnya gemetar tak terkendali.
“Maaf, saya minta maaf,” suara Akbar parau, hampir tak terdengar. Akbar menunduk sambil mengusap wajahnya kasar dan tak berani menatap wajah Alana yang penuh ketakutan.
Alana perlahan membuka matanya, masih waspada. “Kenapa kamu lakukan itu?” tanyanya lirih, suaranya bergetar antara marah dan takut.
Akbar terdiam, tak mampu menjawab. Semua hasrat yang tadi membutakan kini berganti dengan rasa bersalah dan penyesalan, karena dia sudah memaksa Alana. Akbar tahu, jika dia terus memaksa, maka dirinya tak lebih dari seorang pengecut yang menghancurkan kepercayaan Alana.
Alana merapatkan tubuhnya ke sudut ruangan, berusaha menjauh. Air matanya terus mengalir, namun kini ada sedikit keberanian dalam tatapannya. “Aku mau pulang ... aku nggak mau disini,” ucapnya tegas, meski suaranya masih bergetar.
Akbar menghela napas panjang, dia kemudian berjalan keluar kamar dan menutup pintunya perlahan membiarkan Alana menangis seorang diri. Sementara, di dalam kamar bayangan beberapa tahun lalu membuat Alana semakin merasa ketakutan. Kepalanya jadi sakit, tubuhnya gemetar hebat sampai Alana tak sanggup lagi membuka matanya.
"Tolong jangan sakiti ... aku mohon jangan," ucap Alana lirih suaranya terpendam dibalik bantal yang menutupi wajahnya.
Keringat dingin mulai menetes, semakin lama kepalanya terus berputar. Hingga tiba-tiba suara teriakan Alana melengking begitu kencang membuat Akbar yang sedang mengambil air minum terkejut. Akbar buru-buru meletakan gelasnya dan melihat keadaan Alana.
"Astaga Alana," ucap Akbar terkejut saat melihat kondisi Alana yang sangat memperihatinkan.
Akbar segera memeriksa kondisi Alana, dia pun tak ada pilihan lain selain memberikan infus pada Alana. Bukan hanya itu saja, Akbar juga memberikan Alana obat tidur supaya lebih tenang. Untungnya Alana tidak lagi memberontak dan kali ini lebih kalem.
"Apakah kamu punya trauma dimasa lalu sampai kamu seperti ini?" ucap Akbar saat Alana sudah tertidur.
Dengan telaten Akbar mengusap keringat Alana yang sebesar biji jagung. Ditatapnya wajah polos sang istri. Hingga, tiba-tiba dia terkekeh sendiri.
"Gila kamu ya bisa menyukai perempuan yang usianya jauh di bawah kamu," gumam Akbar menertawai dirinya sendiri.
***
Beberapa hari kemudian ...
Keadaan Alana sudah kembali stabil, sejak saat itu Akbar belum lagi menampakkan wajahnya di hadapan Alana. Bahkan, untuk melepaskan infusnya saja Akbar menyuruh suster yang bekerja di rumah sakitnya. Alana yang hari ini sudah merasa jauh lebih baik pun memilih untuk berangkat kerja, sudah lama dia tidak bekerja membuat Alana tidak enak pada atasannya.
"Bi," panggil Alana saat melihat Bibi sedang membersihkan apartemen.
"Loh kok Nyonya keluar kamar? Kata Tuan, Nyonya istirahat aja jangan keluar kamar dulu." Bibi pun menyahut dengan nada suara lembut membuat Alana tersenyum karena disaat semua orang selalu merendahkannya, masih ada yang baik padanya.
"Saya sudah jauh lebih baik makanya saya mau berangkat kerja sekarang. Oh iya Dokter Akbar kemana? Kok saya nggak ngelihat beliau beberapa hari ini?" tanya Alana.
"Tuan mah lagi sibuk, Non ... kayaknya juga lagi ada kunjungan ke luar negeri makanya Tuan nggak pulang," jawab Bibi ramah dan Alana pun mengangguk.
"Saya berangkat dulu ya, Bi!" pamit Alana kemudian melangkah keluar apartemen.
Beberapa hari di dalam apartemen terus membuat Alana merasa bebas karena bisa menghirup udara segar. Semenjak kepergian ibunya membuat Alana berjanji akan bangkit mulai hari ini. Dia juga mulai bekerja lagi untuk membayar hutang-hutangnya pada Akbar.
Seperti biasa setiap kali Alana berangkat kerja, dia akan naik bus. Pagi ini tumben sekali tidak terlalu macet dan busnya juga tidak penuh membuat Alana bisa duduk. Sepanjang jalan Alana tak berhenti tersenyum dibalik maskernya, karena begitu bahagia dirinya bisa mulai bangkit lagi.
"Lihat deh anak kesayangan bos gini hari baru Dateng!!!" sindir teman Alana membuat Alana menghentikan langkah kakinya.
Alana pun memilih menulikan telinganya daripada bertengkar. Dia terus berjalan menuju meja kerjanya dan berapa terkejutnya Alana saat melihat sosok yang selama ini dia hindari.
"Kenapa kamu ada disini? Minggir aku mau kerja!" ketus Alana mengusir laki-laki di hadapannya itu.
"Kenapa sih adikku, Sayang? Bukannya kamu harus tersenyum saat aku datang? Kenapa sekarang malah ketakutan seperti ini?" tanya Rio sambil ingin menyentuh wajah Alana, tapi Alana segera menepisnya.
"Jauhkan tangan kotor ini dari wajahku!" ucap Alana memalingkan wajahnya saat Rio berusaha ingin menyentuhnya.