Melihat sikap dingin dan ketus Alana membuat Rio akhirnya menyingkir juga dari hadapan Alana. Kepergian Rio membuat Alana akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya Rio masih mending daripada Akbar yang suka sekali memaksanya.
Alana pun kembali fokus pada layar komputer di hadapannya. Hampir seminggu dia tidak bekerja, ternyata pekerjaannya begitu numpuk sekali. Alana sadar sejak tadi ponselnya terus menyala, tapi dia memilih mengabaikannya dan fokus pada pekerjaannya.
Hingga jam istirahat pun tiba, lagi-lagi Rio datang menghampirinya. Alana paling kesal sekali saat Rio langsung mematikan layar komputernya. Pekerjaan yang belum selesai membuat Alana kesal, untungnya Alana sudah hapal banget sama sikap Rio jadi tadi semua file-file sudah dia simpan terlebih dahulu.
"Waktunya istirahat!" ucap Rio langsung menarik tangan Alana.
Lagi-lagi kebiasaan itu yang Rio selalu lakukan. Alana pun hanya menurut saja daripada Rio datang saat jam kerja dan tiba-tiba menyuapinya membuat seluruh rekan kerjanya kesal yang ujung-ujungnya akan marah kepadanya. Sebelum itu terjadi lebih baik Alana ikut dengan Rio.
"Lain kali jangan bersikap seperti!" tegas Alana sambil menepis kasar tangan Rio.
Rio hanya terkekeh kecil. "Kenapa? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" tanya Rio membuat mata Alana melotot, karena dia tidak suka Rio terus-terusan membahas itu.
Alana dan Rio duduk disalah satu meja makan, tentunya restoran favorit Rio. Apakah Alana senang makan bersama Rio? Tidak! Semua ini hanya terpaksa, karena Rio selalu mengancam untuk memecatnya kalau tidak menuruti keinginan Rio. Mulai saat itulah Alana menjadi dibenci oleh teman-temannya karena menyangka kalau Alana tebar pesona.
"Harusnya kita tidak seperti ini, Kak! Aku hanya karyawan biasa yang tidak pantas setiap kali makan siang bersama kakak," ucap Alana akhirnya mengeluarkan unek-unek di hatinya.
"Siapa yang mengatakan itu biar aku pecat hari ini juga," ucap Rio yang selalu menang dan berkuasa.
Alana membuang napasnya kasar, dia tak lagi berkata. Alana segera menghabiskan makanannya yang terasa hambar. Makanan enak yang sama sekali tidak ada rasa bagi Alana, karena makannya dengan penuh tekanan.
"Kapan hidupku bebas dari orang-orang yang selalu menindasku? Di tempat kerja Kak Rio, di rumah Dokter Akbar. Kapan aku bahagia?" gumam Alana dalam hati
"Kenapa? Apakah makanannya tidak enak?" tanya Rio dengan penuh penekanan, tau Rio akan marah membuat Alana menggeleng cepat.
"Nggak kok," sahut Alana cepat daripada Rio bikin masalah di restoran ini.
Tanpa Alana sadari sejak tadi ada yang mengamati dirinya dengan penuh amarah. Tidak menghampirinya, tapi dalam diamnya terus mengamati Alana. Rahangnya mengeras, kedua tangannya pun terkepal erat.
***
"Dari mana saja kamu?" Suara Akbar terdengar tenang, tapi cukup membuat Alana takut.
"Ini sudah makan, kata Bibi kamu pergi dari pagi?" tanya Akbar lagi sambil terus menatap Alana dengan sorot mata tenang, tatapan itu sukses membuat jantung Alana berdegup kencang.
Alana menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Kerja," ucap Alana pelan.
"Kerja apa jam segini baru pulang? Pelayan bar?" tanya Akbar lagi benar-benar cukup tenang, tapi setiap katanya penuh penekanan.
"Kerja atau jalan sama laki-laki lain sampai makan siang bersama di restoran?" tanya Akbar lagi dan membuat Alana terkejut.
Akbar terkekeh kecil. "Kaget saya bisa tau? Nggak penting! Yang terpenting mulai detik ini kamu tidak boleh kerja lagi!" tegas Akbar, saat Alana ingin membantah buru-buru Akbar berkata, "Saya ini suami kamu jadi saya berhak atas diri kamu!" ucap Akbar lagi membuat Alana akhirnya tak jadi bersuara.
Lagi-lagi yang punya uang akan menang di atas segalanya. Alana memejamkan matanya karena tiba-tiba dadanya terasa sesak. Alana tau kini hidupnya tidak lagi sebebas dulu, ini kenapa dia benci pernikahan karena hanya akan membuatnya selalu ditindas dengan orang yang dia sebut sebagai "suami".
"Sekarang masuk kamar dan mandi, jangan lupa buang baju lusuhmu itu yang bekas jalan bersama laki-laki lain!" titah Akbar dengan penuh otoriter.
"Aku nggak mau berhenti bekerja!" Suara Alana lantang mencoba membantah perkataan Akbar.
"No! Sekali tidak tetap tidak!" ujar Akbar yang kemudian pergi meninggalkan Alana seorang diri di ruang tamu.
Kini Alana merasakan apa yang ibunya rasakan dulu, hidup dalam penjara bersama laki-laki kasar yang dia sebut ayah. Ah membayangkannya saja sudah membuat Alana bergidik ngeri, Alana tak mau merasakan hal yang sama. Dia tidak boleh lemah, hidupnya tidak boleh diatur oleh laki-laki.
"Dalam pernikahan kita tidak ada perjanjian saya dilarang kerja. So ... saya akan tetap kerja meskipun Dokter melarang saya!" tegas Alana dengan suara meninggi membuat langkah Akbar berhenti.
Akbar ingin marah, tapi Alana langsung segera masuk ke dalam kamar. Tangan Akbar melayang begitu saja di udara. Tatapan tajam dia layangkan pada pintu kamar.
Akbar memilih memutar balik langkahnya dan menghampiri Alana. Alana yang saat itu ingin membuka bajunya tentu terkejut dengan kedatangan Akbar. Melihat kancing baju Alana terbuka satu membuat pikiran liar Akbar kembali berkelana.
Jangkun Akbar naik turun membayang sesuatu yang tersembunyi dibalik pakaian Alana. Hingga sesuatu di bawah sana yang telah lama tertidur kini bangkit hanya membayangkan hal kotor. Akbar pun mencoba menepis pikiran itu, tapi semakin ditepis semakin terus mendesak ingin di keluarkan.
"Mau tetap kerja? Boleh, tapi kamu harus penuhi dulu kewajiban kamu sebagai seorang istri!" ucap Akbar dengan cukup tenang, tapi tidak dengan pikirannya.
Akbar menatap Alana dengan sorot mata yang penuh amarah dan hasrat yang sedang berusaha dia pendam. Kata-katanya barusan bukan sekadar ancaman biasa. Alana, yang semula hanya ingin menegaskan haknya untuk bekerja, kini harus berhadapan dengan sisi lain dari suaminya yang sangat keras dan penuh gengsi.
Alana menarik napas panjang, menahan emosi yang bergemuruh di dadanya. "Kewajiban seorang istri? Aku sudah menjalankan semuanya, Dokter Akbar. Tapi jangan pernah Dokter gunakan itu untuk mengekangku," ucapnya dengan suara bergetar, matanya menatap lurus ke arah suaminya.
Akbar terkekeh kencang dan melangkah mendekat, jarak di antara mereka semakin menyempit. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin menyentuh bahu Alana, tapi Akbar berusaha menahan diri. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar gengsi, tapi rasa takut kehilangan kendali atas rumah tangga yang coba dia bangun dengan aturan-aturannya sendiri.
Suasana kamar menjadi tegang. Alana menutup kancing bajunya kembali, karena sadar akan tatapan Akbar sejak tadi terus tertuju padanya. "Saya hanya ingin bekerja dan saya tidak ingin dikekang dengan aturanmu yang tidak masuk akal itu!" katanya lirih, namun penuh ketegasan.
Akbar terdiam. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada teriakan. Ia tahu, jika ia terus memaksa, jurang di antara mereka akan semakin lebar. Tapi egonya berteriak, menuntut untuk tetap berkuasa karena Akbar tak ingin kegagalan dimasa lalu terulang lagi.
"Jadi bagaimana apakah kamu siap melayani saya?" ucap Akbar sengaja menyentuh Alana dengan bahunya membuat tubuh Alana menegang.
Alana menegang, tubuhnya kaku seolah ditahan oleh kata-kata Akbar yang menusuk. Sentuhan bahu itu terasa seperti sebuah tantangan, karena rasa trauma itu kembali hadir dalam pikirannya. Mata Alana menatap tajam, mencoba menahan gejolak emosi yang bercampur antara marah dan takut.
"Aku ... aku belum siap! Tolong jangan memaksaku seperti ini," ucap Alana dengan suara bergetar, namun penuh keberanian. Alana mencoba melangkah mundur, menjaga jarak, seakan ingin menegaskan batas yang tak boleh dilanggar.
Akbar terdiam sejenak. Tatapan mereka bertemu, tajam, penuh ketegangan. Sunyi menyelimuti kamar, hanya suara napas yang terdengar berat. Akbar akhirnya berkata dengan nada lebih rendah, "Kalau kamu ingin bekerja, penuhi dulu kewajibanmu sebagai seorang istri.”