Wajah Kayla dan Zavian sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter. Detak jantung Kayla mendadak berdegup kencang, dia yang memancing suaminya, tapi dia juga yang kini merasa ketakutan sekarang.
"Aku ... aku hanya bertanya. Bukannya biasanya pengantin baru melakukan hal itu?" Kayla tergagap, menghindari tatapan Zavian.
"Aku tidak akan memaksamu, Kay. Aku tahu kamu belum siap, apalagi kamu mengatakan masa perkenalan kita yang cukup singkat. Jadi untuk sekarang, kita nikmati saja dulu waktu kita berdua sambil saling mengenal lebih dalam."
Zavian pun turun dari atas tubuh istrinya. Dia kembali membaringkan badannya di sampingnya Kayla dan memejamkan matanya. Sedangkan Kayla menatap pria itu dengan tatapan heran.
Jika dikatakan belum siap, sebenarnya tidak juga. Karena Kayla setidaknya tahu apa yang akan dilakukan sepasang suami istri, tapi dia tidak mungkin memulainya lebih dulu. Kayla ingin Zavian mengajaknya lebih dulu, tapi respon Zavian ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Beberapa menit berlalu, Zavian benar-benar tertidur. Napasnya Terdengar teratur dan begitu lelap. Kayla merasa dirinya dicueki sang suami, padahal Zavian sudah memberikan alasan padanya.
"Mungkin dia kecapekan," gumam Kayla.
Wanita itu memilih duduk di atas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya pada divan. Pikirannya menerawang awal perkenalannya dengan Zavian. Pria itu menghampirinya ketika Kayla sedang berada di sebuah acara amal, dan ternyata Zavian juga bagian dari acara itu. Obrolan mereka mengalir begitu saja, dan Zavian lebih intens mengajaknya berkomunikasi.
Hanya berselang dua bulan dari awal perkenalan mereka, Zavian menyatakan perasaannya pada Kayla dan mengajaknya berpacaran. Kayla pikir tidak ada alasan untuk menolak pria sebaik Zavian, jadi dia menerima pria itu.
Dan dua bulan berikutnya, Zavian tiba-tiba melamarnya. Awalnya Kayla merasa semua ini terlalu cepat, tapi lagi-lagi dia berpikir tidak ada alasan untuk menolak pria sebaik Zavian. Kayla juga berpikir dia mungkin tidak akan menemukan pria seperti Zavian lagi, yang begitu cepat menyampaikan keseriusannya.
Apa Kayla terlalu cepat mengiyakan tanpa berpikir lebih jauh? Apa keputusan terlalu terburu-buru?
Kemudian terlintas nama Vano di pikiran Kayla. Sebenarnya Kayla sempat menaksir Vano, tapi pria itu terlihat dekat dengan sahabatnya yang bernama Ariana. Beberapa kali Kayla melihat Vano dan Ariana bersama, maka dari itu Kayla mengubur perasaannya untuk Vano sebelum semakin bertambah, karena tidak mau merusak persahabatannya dengan Ariana.
Namun tiba-tiba pria itu datang di hari pernikahannya dan berniat membawa Kayla pergi. Tentu saja Kayla tIdak mau melakukan hal gila seperti itu. Meski Kayla tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kecuali Kayla bertanya langsung pada Vano. Tapi buru-buru dia tepis pikiran itu, Kayla harus mempercayai Zavian, suaminya. Bukan mempercayai orang lain.
"Aku harus percaya pada Zavian."
***
Pagi ini ponsel Kayla berdering singkat tanda ada pesan masuk, tapi sang pemilik ponsel masih tertidur. Zavian yang sudah terbangun bisa melihat pesan itu tanpa membuka sandi ponsel istrinya.
'Kayla, ini Vano. Bisa kita bertemu?'
Ternyata pesan itu dari Vano. Pria itu mengajak Kayla untuk bertemu. Terlihat rahang Zavian mengetat membaca pesan itu di ponsel istrinya.
"b******k," umpat Zavian.
Pria itu langsung bergegas mandi dan bersiap seperti sedang terburu-buru. Zavian juga tidak membangunkan Kayla dan langsung pergi untuk menemui Vano tanpa sepengetahuan istrinya.
"Mau apa kamu mengajak Kayla bertemu, hah?! Kayla sudah jadi istriku, Vano! Menjauh darinya!"
Ketika pintu dibuka, Zavian langsung mendorong pintu itu dan mengamuk pada Vano. Pria itu menatap sengit pada pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Aku tahu kamu menikahinya bukan karena cinta. Kamu melakukannya karena tahu aku menyukai Kayla kan?! Lepaskan Kayla dan jangan bawa dia dalam urusan kita!"
Zavian tersenyum menyeringai. "Tahu apa kamu tentang perasaanku? Aku menikahinya karena cinta atau tidak, itu bukan urusanmu. Yang jelas Kayla saat ini istriku, dia milikku. Jadi jangan coba-coba menyentuh apa yang sudah menjadi milikku!" Dia menjeda kalimatnya kemudian melanjutkan. "Itu pun kalau kamu tahu diri."
"b******k!" Vano tidak bisa menahan diri lagi. Dia melayangkan pukulan ke wajah Zavian, namun pria yang dihajarnya tidak membalas.
"Bagaimana rasanya melihat aku mencium wanita yang kamu sukai di altar? Pasti lebih sakit daripada pukulan ini. Iya kan?" Bukannya berhenti, Zavian malah semakin memprovokasi Vano. "Bahkan semalam aku dan Kayla sudah ...."
"Lebih baik kamu tutup mulutmu atau aku akan membuatmu tidak bisa bicara lagi!" murka Vano. "Pergi dari sini sekarang juga" Dia mengusir Zavian karena tidakmau lagi mendengar ocehan pria sinting itu.
Zavian tertawa, lebih tepatnya menertawakan Vano. Dia kemudian pergi dari sana dengan luka di sudut bibirnya karena pukulan Vano. Sedangkan Vano meluapkan amarahnya dengan mengacak-acak meja dan melempar vas bunga. Dia tidak rela ... Kayla-nya dimiliki oleh laki-laki seperti Zavian.
"Vian, kamu dari mana?"
Kayla sudah mandi dan berganti baju. Ketika dia terbangun, tidak ada Zavian di kamar. Dia mencoba menelepon, namun ternyata ponsel suaminya tidak dibawa.
"Aku keluar sebentar cari udara segar," dusta Zavian.
"Bibir kamu kenapa?" Tangan Kayla terulur hendak menyentuh bibir Zavian yang terluka, namun pria itu menghindar.
"Aku terjatuh saat sedang berjalan-jalan."
Tentu saja Kayla tidak percaya begitu saja, jelas luka itu terlihat seperti habis berkelahi. "Tapi sepertinya luka itu bukan karena jatuh, kamu berantem sama orang?" tebak Kayla.
"Tidak, Kayla. Aku jatuh, kakiku tersandung." Zavian tetap tidak mengatakan hal sejujurnya. Padahal dia bertemu Vano dan mendapat pukulan dari pria itu.
Karena tidak mau terjadi keributan di pagi hari ini, apalagi mereka baru saja menikah, akhirnya Kayla memilih untuk tidak memperdebatkan luka Zavian lagi.
"Biar aku obati," ujar Kayla.
Wanita itu kemudian mengambil kotak P3K dan meminta Zavian untuk duduk di sampingnya. Dengan hati-hati Kayla mengobati luka Zavian. Dari jarak yang begitu dekat, Zavian bisa melihat jelas betapa cantik istrinya itu. Pantas saja jika Vano menyukai Kayla, tapi sayangnya Zavian yang akhirnya memiliki Kayla.
"Sudah selesai." Kaylan kemudian membereskan kembali kotak obatnya dan menyimpan ke tempatnya semula.
"Vian, aku mau ngomong sesuatu." Dia kembali duduk di sebelah Zavian.
"Ada apa, Kay?"
"Sebenarnya tadi Vano mengirimiku pesan dan memintaku untuk bertemu." Kayla menceritakan pesan yang diterimanya, padahal Zavian sudah tahu lebih dulu bahkan sudah menemui Vano dan beradu mulut.
"Lalu apa jawabanmu?"
"Aku menolaknya," jawab Kayla. "Aku tidak mau perasaan dan pikiranku terganggu."
"Pilihanmu sudah tepat, Kay." Zavian mengusap kepala Kayla. "Lebih baik kamu menjaga jarak dengan Vano, karena aku takut dia merencanakan hal buruk."
Dahi Kayla berkerut dalam. "Hal buruk apa maksudmu?"