Kayla bangun lebih pagi hari ini. Wanita itu sedang sibuk berkutat di dapur, membuat sarapan untuknya dan tentunya untuk Zavian, suaminya.
Tidak terasa sudah satu minggu Kayla dan Zavian menikah. Mereka berdua sudah tinggal terpisah dengan orang tua setelah resmi menikah.
"Selamat pagi," sapa Zavian.
Tangan pria itu melingkar pada perut Kayla, sengaja mengganggu istrinya yang sedang memasak.
"Vian, aku sedang masak!" Kayla memprotes, mencoba melepaskan pelukan Zavian.
"Aku tahu." Bukannya menjauh, Zavian malah mencium pipi istrinya kemudian turun ke lehernya.
"Ih, Zavian!" Kayla kesal, karena dia jadi tidak fokus memasak.
"Oke, aku berhenti." Zavian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Dia terkekeh geli karena berhasil membuat Kayla kesal.
Pria itu kemudian duduk di kursi makan, menunggu dengan sabar masakan istrinya matang. Zavian memperhatikan Kayla memasak. Meski mereka berdua belum pernah melakukan hubungan suami istri, tapi mereka sering melakukan kontak fisik. Dan Zavian yakin perasaannya perlahan akan tumbuh untuk Kayla seiring waktu.
Kayla pun tidak memaksa Zavian. Perempuan itu tidak lagi dengan sengaja menggoda Zavian, karena kini Kayla hanya ingin menunggu suaminya yang memulainya lebih dulu.
"Kamu cantik pakai celemek itu," puji Zavian, melihat istrinya memakai celemek motif bunga-bunga berwarna oranye.
"Itu sebabnya pandangan matamu tidak lepas dariku sejak tadi?" terka Kayla, yang membuat Zavian terkejut karena kepergok memperhatikan istrinya sejak tadi.
"Sepertinya aku ketahuan."
Mereka berdua tertawa bersama. Rasanya satu minggu ini begitu tentram. Kayla dan Zavian saling melempar pujian, karena memuji satu sama lain memang penting bagi pasangan.
"Aku mulai masuk kerja hari ini, apa kamu tidak keberatan sendirian di rumah, Kay? Pergilah berjalan-jalan dengan temanmu kalau kamu bosan, aku akan izinkan." Zavian memberi izin Kayla jika istrinya itu bosan di rumah dan ingin pergi keluar.
"Benarkah? Terima kasih, Vian!" Kayla langsung terlihat sumringah.
Setelah Vian berangkat ke kantor, Kayla pun segera membereskan perlengkapan makan dan mencucinya sampai bersih. Rasanya tidak sabar ingin bertemu dengan sahabatnya. Kayla langsung menghubungi Ariana dan meminta bertemu, beruntung sahabatnya itu bisa meluangkan waktu hari ini.
***
"Ariana!"
Kayla langsung memeluk sahabatnya itu karena sudah hampir satu bulan tidak bertemu. Ariana ada urusan pekerjaan di Singapura, jadi dia juga tidak bisa hadir ke pernikahan Kayla dan Zavian.
"Maaf ya, Kay, aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu."
"Tenang saja, hadiah darimu sudah sampai kok." Kayla terkekeh dan menanggapi santai, karena tahu Ariana masih ada di luar negeri waktu itu.
"Aku kira kamu nikah sama Vano, eh ternyata sama Zavian." Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Ariana.
"Kenapa tiba-tiba Vano? Bukannya kamu yang dekat sama Vano, ya?" tanya Kayla tak mengerti.
"Astaga, jadi selama ini kamu kira aku dan Vano ada hubungan? Vano itu sukanya sama kamu, Kay."
Ariana tidak tahu kalau ternyata Vano belum menyatakan perasaannya pada Kayla. Dia pikir Vano sudah bergerak, namun ditolak Kayla. Jadi selama ini Ariana pikir Kayla memang tidak menaruh perasaan pada Vano dan memilih Zavian.
"Vano suka sama aku? Kenapa kamu tidak bilang padaku, Ana?" Kayla terkejut mendengar penuturan Ariana.
Ternyata Vano juga tertarik padanya, seperti Kayla yang tertarik pada Vano sejak pertama bertemu, namun Kayla mundur karena menyangka pria itu menyukai Arinana.
"Vano menyuruhku untuk diam, katanya biar dia sendiri yang menyampaikan. Dia banyak bertanya tentang kamu, Kay. Apa yang kamu sukai dan apa yang kamu tidak suka. Vano dekat denganku karena ingin mendekatimu," papar Ariana.
Terbersit rasa menyesal dalam diri Kayla, karena ternyata dia dan Vano memiliki perasaan yang sama. Andai saja Kayla tidak buru-buru menerima Zavian, mungkin dia dan Vano bisa bersama.
Tapi semuanya sudah terlambat, Kayla dan Zavian sudah menikah. Tidak boleh ada penyesalan karena ini keputusan Kayla sendiri untuk menerima Zavian dan melupakan Vano.
"Kay? Kayla!" tegur Ariana, karena sahabatnya itu malah melamun.
"Aku benar-benar tidak tahu, Ana. Ternyata Vano suka padaku?" Kayla kini sedikit paham kenapa Vano mengajaknya kabur di hari pernikahannya.
"Aku kira Vano sudah bilang padamu dan ditolak, makanya kamu pacaran dan menikah sama Zavian." Ariana juga tidak tahu kalau Vano ternyata cukup lama bergerak, akhirnya Kayla lebih dulu didapatkan oleh Zavian.
"Kamu tahu apa yang lebih mengejutkan?" tanya Kayla, dan Ariana menggelengkan kepalanya.
"Vano dan Zavian ... mereka saudara tiri."
"Apaa?!" Ariana berteriak kaget, kemudian langsung menutup mulutnya. "Gila ... kok bisa?!"
"Aku juga baru tahu setelah menikah dengan Zavian," ujar Kayla pelan. "Rasanya ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan dariku."
Sedikit demi sedikit, perlahan semuanya menjadi lebih masuk akal. Kayla yakin ada perseteruan antara Vano dan Zavian, jauh sebelum saudara tiri itu mengenal Kayla. Kehadiran Kayla akhirnya malah membuat perseteruan itu seperti terangkat kembali setelah terkubur.
"Apa Zavian dan Vano menarik kamu dalam permainan mereka?" tebak Ariana.
"Entah permainan apa itu, tapi aku tidak suka mereka membawaku dalam permainan ini. Karena aku bukan barang yang bisa mereka permainkan, Ariana. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?" Kayla meminta saran sahabatnya.
"Aku tidak tahu pasti bagaimana perasaan Zavian, karena kamu yang merasakannya, Kayla. Tapi kalau perasaan Vano, aku jamin dia memang benar-benar suka padaku. Pria itu bertanya banyak hal tentang kamu, Kay. Hanya saja Vano terlambat dan belum sempat mengatakan perasaannya padamu."
Ucapan Ariana membuat Kayla sedikit tertampar. Kayla memang seharusnya lebih tahu bagaimana perasaan Zavian, tapi dia sendiri merasa tidak tahu apa-apa tentang perasaan suaminya.
Sikap Zavian baik, seperti seorang pria yang begitu memperhatikan pasangannya. Suaminya itu memperlakukan Kayla layaknya seorang istri. Zavian membantu pekerjaan rumah tangga, memenuhi kebutuhan Kayla, dan memberi sentuhan-sentuhan kecil. Hanya satu yang belum bisa Zavian lakukan, malam pertama.
"Kenapa, Kay? Ada yang ingin kamu ceritakan lagi?" Ariana tahu ada yang sedang Kayla pikirkan.
"Tidak ada, Ana. Aku hanya sedang berpikir," elak Kayla.
"Zavian baik padamu, kan?"
"Sangat baik." Kayla menjawab tanpa ragu. "Dia memang pria baik, Ana. Jadi sepertinya aku tidak boleh meragukan Zavian, apalagi dia suamiku sekarang."
"Maafkan aku, Kay. Harusnya aku memberitahumu tentang Vano, harusnya kalian berdua--"
"Tidak apa-apa," potong Kayla. "Lagi pula Vano yang melarangmu memberitahuku kan? Semuanya sudah terjadi, Ana."
Ariana sungguh merasa bersalah pada Kayla dan Vano, tapi memang semuanya sudah terlambat. Memutar waktu pun tidak bisa, jadi yang bisa dilakukan sekarang hanyalah melanjutkan pilihan yang sudah diambil, yaitu pernikahannya dengan Zavian.
"Kamu benar akan melupakan Vano?" tanya Ariana lagi.