Kayla rasanya masih belum bisa menerima informasi yang didengarnya dari Zavian. Sang suami membisikan pada Kayla, bahwa Zavian dan Vano merupakan saudara tiri.
"Kenapa? Kamu begitu terkejut mengetahui aku dan Vano saudara tiri?" Zavian menanggapi keterkejutan Kayla dengan santai.
"Tentu saja aku terkejut, Vian. Bagaimana bisa aku tidak tahu tentang ini?" Kayla benar-benar tidak tahu sama sekali jika Zavian dan Vano merupakan saudara tiri.
"Sekarang kamu sudah tahu kan? Jadi jangan dekat-dekat Vano, aku tidak suka." Zavian menegaskan ketidaksukaannya pada Vano, saudara tirinya.
"Kenapa kamu begitu membenci Vano? Apa yang ingin dia balaskan padamu?" tanya Kayla lagi, namun Zavian mengelak untuk menjawab.
"Untuk hari ini aku sudah beritahu satu rahasia kami, jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu yang lain."
Kayla mendesah kesal. "Kalau begitu aku akan tanya pada Vano." Perempuan itu hendak berbalik, namun tangan Zavian mencekalnya.
"Jangan coba-coba, Kayla!" Nada Zavian meninggu, mungkin ini pertama kalinya Kayla mendengar Zavian berkata sedikit keras.
Zavian menyadari perlakuannya. Dia langsung melepas cekalan tangannya dan menurunkan nadanya. "Maaf, aku kelepasan. Pokoknya aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Vano, Kay. Kamu istriku sekarang."
"Kenapa sekarang aku merasa kamu menikahiku bukan karena hatimu? Atau mungkin aku tidak menyadari hatimu yang sesungguhnya selama ini?"
Kayla berujar dengan nada kecewa. Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi menjauh dari Zavian.
"Kay! Kayla!" Zavian mengacak rambutnya frustasi. Ini karena kemunculan Vano yang tiba-tiba dan mengacaukan semuanya.
Pria itu berhasil mengejar istrinya dan menghadang jalan Kayla. "Maaf, aku minta maaf. Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku menikahimu karena aku mencintai kamu, Kayla."
"Tapi tatapan matamu tidak mengatakan hal yang sama, Zavian. Aku akui perlakuanmu padaku selama kita berpacaran begitu baik, itu sebabnya aku yakin kamu adalah pria baik. Jadi jangan kecewakan aku."
Kayla menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Jika ada sesuatu yang kamu tutupi dariku, lebih baik katakan sekarang, Vian. Semakin lama kamu sembunyikan, maka semakin besar luka yang aku dapatkan di kemudian hari jika kebenarannya terungkap."
Zavian menatap Kayla, suaranya bergetar tersirat kekecewaan. Tapi semua itu tidak cukup untuk membuat Zavian mengungkap rahasia yang ia simpan. Pria itu memilih untuk menutupinya dari Kayla meski sudah tahu konsekuensinya.
"Aku tidak menyembunyikan apapun lagi, Kayla."
"Kamu yakin? Aku sedang memberimu kesempatan untuk jujur, Vian." Kayla kembali menawarkan kesempatan, namun Zavian tetap pada pendiriannya.
"Kenapa kamu tidak percaya pada suamimu?" tuduh Zavian.
Kayla akhirnya mengalah dan memilih percaya.
***
Malam ini Kayla kembali mempersiapkan diri, agar Zavian tidak lagi mengatakan bahwa takut Kayla belum siap melakukan apa yang dilakukan pengantin baru.
Perempuan yang memakai gaun tidur satin dengan cardigan senada itu menghampiri Zavian yang duduk di atas tempat tidur dengan memangku laptopnya.
"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Kayla, sengaja menempelnya dagunya pada pundak Zavian.
"Hanya sedikit pekerjaan," sahut Zavian, tanpa menoleh pada Kayla.
"Kapan pekerjaanmu selesai?" Kayla bertanya lagi.
"Hmm, entahlah. Kalau kamu sudah mengantuk, tidur duluan saja, Kay."
Kayla merasa sudah cukup memberi kode pada Zavian. Dia sudah memakai dress satin tipis untuk menggoda suaminya dan menyemprotkan parfum agar wanginya tercium oleh Zavian. Tapi tiba-tiba suaminya menyuruhnya untuk tidur? Seolah Zavian tidak mengerti atau memang sengaja tidak peka.
"Kamu serius menyuruhku tidur?" Kayla menjauhkan diri dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kamu tidak peka sekali."
"Kenapa lagi, Kayla? Aku sedang ada pekerjaan." Zavian akhirnya menoleh pada Kayla. Dia kini bisa melihat jelas pakaian yang Kayla kenakan, buru-buru ia kembali memalingkan wajahnya.
"Kamu menghindariku?" Kayla langsung peka ketika Zavian langsung kembali memalingkan wajahnya setelah melihatnya.
"Bukan begitu, Kay. Rasanya masih terlalu cepat untuk melakukannya. Seperti katamu, kita belum mengenal lama."
Kayla kecewa dengan jawaban Zavian, padahal dia sudah menurunkan harga dirinya dan memulai lebih dulu, tapi respon Zavian tidak seperti yang diinginkan.
"Kemarin kamu bilang aku belum siap, sekarang aku sudah siap, Zavian. Apalagi yang kamu tunggu?" tantang Kayla. "Kecuali kamu memang tidak mau menyentuhku, karena aku bukan perempuan yang kamu cintai." Nada Kayla melemah.
Kayla akhirnya hendak beringsut turun dari tempat tidur, namun ia merasa tangannya ditarik oleh Zavian yang membuat dia jatuh terbaring.
"Kenapa kamu selalu berkata seperti itu, Kayla?"
"Karena aku merasa ucapan Vano benar, kamu menikahiku bukan karena perasaanmu, tapi hanya untuk permasalahan kalian yang entah apa aku tidak tahu."
Kayla memalingkan wajahnya ke samping, tidak mau menatap Zavian yang kini tepat berada di atasnya.
"Kayla," panggil Zavian, namun perempuan dalam kukungannya itu tidak merespon.
"Kay, lihat aku," pinta Zavian. Tangan pria itu memegang dagu Kayla dan mengarahkan padanya agar wanita itu menatapnya.
Tanpa aba-aba Zavian mencium bibir Kayla. Tentu saja istrinya sedikit terkejut karena tidak menyangka Zavian melakukannya. Bibir keduanya bertautan cukup lama hingga Zavian melepasnya.
"Apa sekarang kamu masih ragu tentang perasaanku?"
Kayla tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Untuk sesaat dia ragu karena terngiang ucapan Vano, namun di sisi lain dirinya berusaha untuk percaya pada Zavian.
"Aku tahu kamu sudah siap, Kay. Tapi aku yang belum siap. Bukan aku menghindarimu, singkirkan pikiran burukmu itu. Ini semua gara-gara ucapan omong kosong Vano kan?"
Kayla terdiam beberapa saat. Memang benar dia kepikiran gara-gara ucapan Vano, tapi Zavian mengatakan semuanya hanya omong kosong. Kayla jadi bingung sendiri mana yang harus ia percaya.
Tangan Zavian mengusap wajah Kayla lembut. "Jangan pikirkan hal lain, apalagi ucapan Vano. Dia hanya tidak ingin melihatku bahagia dengan wanita pilihanku."
Kayla pun mengangguk pelan, meski masih ada keraguan di hatinya. Zavian sekali lagi mengecup bibir tipis Kayla.
"Tidurlah, aku akan menyusul setelah menyelesaikan pekerjaanku."
Pria itu menarik diri dan kembali mengambil laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Sesekali dia melirik pada Kayla, memastikan sang istri sudah tertidur atau belum.
Ketika melihat Kayla sudah terlelap, Zavian menghela napas panjang seolah melepaskan beban. Dia memang tidak siap, karena Zavian tidak bisa melakukannya saat ini. Karena perasaan untuk Kayla belum tumbuh di hatinya, Zavian merasa berat melakukannya tanpa perasaan cinta yang tidak dimilikinya.
"Maafkan aku, Kayla."
Zavian merasa bersalah, karena sudah membawa Kayla masuk ke dalam permainannya untuk membalas Vano. Tapi dia sudah terlanjur menarik Kayla, setidaknya Zavian tidak mau membuat wanita itu terluka. Biarlah Zavian menyimpan rahasianya agar tidak diketahui oleh Kayla dan menyakiti istrinya itu.
"Mungkin perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya jika aku berusaha."