"Farid, panggil ambulance! Kirim manusia tidak berguna ini ke rumah sakit. Saya tidak mau dia mati di kantor." Tirta menghempaskan tubuh Dimas ke samping agar tidak menghalangi jalan. "Baik, Pak." Alih-alih Farid, Bermanlah yang menjawab perintah atasannya. Farid terlalu shock melihat kebrutalan atasannya. Pak Tirta yang biasanya rapi dan santun, saat ini seperti orang yang berbeda. Tatapan matanya beringas dengan pakaian penuh noda darah. "Siap, Pak. Akan kami urus semuanya." Farid, yang sudah pulih dari keterkejutannya, langsung bersikap profesional. Dibantu oleh tiga orang staff kantor, Farid menggotong tubuh Dimas ke depan untuk memudahkan evakuasi saat ambulance datang. "Kalian semua kembali bekerja. Dramanya sudah selesai," tegas Tirta. Perintahnya membuat kerumunan membelah. Para