Karan tak membuang waktu lagi dan masuk ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, dia masih menggerutu. “Kakak apanya? Baru bantu sekali langsung nganggap-nganggap aku adik? Entah gimana cara mikirnya,” umpatnya sambil menggeleng-geleng kepala. Tapi di balik gerutuan itu, ada rasa aneh, bukan kesal murni, lebih seperti bingung menghadapi perubahan sikap Rainer yang tiba-tiba. Mobilnya kemudian tiba di rumah. Begitu masuk, dia melihat Sari sedang sibuk memasukkan pakaian dan barang-barang ke dalam kardus besar di ruang tamu. “Kar, kamu udah datang? Pas banget. Sekarang ikut Ibu packing barang-barang kamu,” seru Sari tanpa melihat, tangannya masih sibuk melipat sehelai blouse. Alis Karan naik sebelah. “Packing? Untuk pindahan maksud Ibu? Memang apartemennya udah dibeli?” “Masih dalam proses,

