'Apa yang dilakukannya di sini? Kenapa juga bertemu klien harus di sini?' Karan masih menatap intens ke arah Rainer di pojokan sana. Tatapannya penuh pertanyaan dan sedikit kesal karena merasa ruang santainya kembali "terinvasi". Rainer yang merasa diperhatikan, akhirnya balas menatap Karan. Di antara mereka, terbentang ruang kafe yang seolah hanya diisi oleh ketegangan diam-diam itu. Dina sibuk membaca proposal yang disodorkan Rainer. Dia menemukan beberapa poin yang tidak dia mengerti terkait alokasi budget untuk content micro-influencer. “Pak Rainer, mengenai poin ini, tentang klasifikasi tier influencer, bisa dijelaskan lebih detail kriteria dan harganya?” tanya Bu Dina, menunjuk ke sebuah tabel. Tapi Rainer tidak merespons. Pikirannya tidak mendengar. Fokusnya masih tertuju pada K

