“Karan, kenapa masih diam saja? Ayo jalankan mobilnya. Mas Adrian sudah menunggu, Sayang,” ucap Sari, menyentuh lengan putrinya yang membeku. “Ah, iya, Bu.” Karan tersentak dari lamunannya yang kacau. Meski pikirannya masih berputar pada kemungkinan tinggal seatap dengan Rainer, dia pun mulai menyetir, mengikuti arahan ibunya. Sari langsung bertindak sebagai navigator, menunjukkan jalan karena Karan sama sekali tidak tahu tujuan mereka. “Lurus terus di perempatan depan, nanti belok kanan, Karan,” pandunya sambil menunjuk. Karan hanya mengangguk, tak menjawab. Dia memilih untuk mengikuti instruksi ibunya saja, membiarkan pikiran-pikiran gelapnya mengambang di latar belakang. Setiap tikungan semakin mendekatkannya pada kenyataan baru yang mungkin akan dia hadapi. Setelah sekitar dua pulu

