‘Minuman ini pasti disediakan khusus untuk Karan,’ pikir Rainer dalam hati, matanya tertuju pada segelas es teh lemon yang sudah berkondensasi, tertata rapi di tempat duduk biasa Karan. Suasana di meja makan pagi itu masih sepi, hanya dirinya yang sudah duduk. Karan, Adrian, dan Sari tampaknya masih bersiap-siap di kamar. ‘Ini kesempatan yang bagus bagiku untuk membalas,’ bisik jiwanya yang masih kesal oleh berbagai kejadian kemarin. Tanpa berpikir panjang, Rainer beranjak cepat ke dapur. Di sana, ia mengambil sejumput garam halus dari wadahnya, lalu kembali ke ruang makan dengan hati berdebar-debar. Ia menaburkan garam itu ke dalam gelas Karan dan mengaduknya perlahan dengan sedotan, memastikan butiran garam larut tanpa bekas. Persis saat ia baru saja kembali ke kursinya dan mencoba t

