Eps. 12 Mual

1354 Words

Setelah kepergian Rainer, Karan hanya berdiri diam di tepi jalan yang ramai, matanya menyipit menatap mobil itu yang semakin lama semakin kecil hingga hilang di balik deretan kendaraan. Dadanya sesak oleh rasa kesal. “CK! Dia langsung pergi dan nggak balik untuk mengantarku? Lelaki macam apa sih, menurunkan cewek di jalan ramai gini?” geramnya, merasa benar-benar ditinggalkan. Tapi, mengomel di tengah jalan tidak akan menyelesaikan masalah. Dia menarik napas panjang, mencoba berpikir jernih. “Sekarang bukan saatnya untuk ngambek. Cari solusi,” desaunya pada diri sendiri. “Gimana caranya pulang?” Ide pertama muncul. “Aku pesan kendaraan online saja.” Tapi, begitu tangannya merogoh saku, wajahnya langsung memucat. Kantungnya kosong. Dia baru tersadar. “Sial! Aku berangkat tadi terburu-bur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD