“Iya, Mikha nanti boleh main lagi. Tapi Tante Nandita pengen tahu, ke mana Bundanya Mikha? Kok nggak pernah kelihatan sama Mikha?” Suara Pak Baskara yang mengulang pertanyaanku dengan nada tenang namun tajam itu membuat jantungku seolah merosot ke perut. Aku mendelik ngeri. Pria ini benar-benar tidak memiliki saringan kalau berbicara dengan anaknya sendiri. “Bunda Mikha ada kok, Tante Nandita. Bunda katanya sedang berjuang buat raih cita-citanya. Kata Bunda, Mikha nggak boleh ganggu, jadi Mikha harus sama Ayah biar cita-cita Bunda terwujud.” Hah? Gimana-gimana? Aku tertegun, menatap Mikha yang menjawab dengan raut polos seolah hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar. Otakku mendadak buntu. Ibunya ada, tapi secara tidak langsung, wanita itu sepertinya keberatan merawat Mikha karena ada

